Meninggalkan Pekanbaru

Setelah hampir 11 tahun keluarga saya tinggal di Pekanbaru, akhirnya pada hari Sabtu (11/3) lalu kami pindah kembali ke Batam. Hari itu jadi hari ter-mellow sepanjang hidup saya.

Dulu saat Ayah pindah tugas ke Pekanbaru, saya adalah salah satu yang paling protes. Gak mau ikut pindah. Maunya di Batam aja.

Setelah pindah pun, saya sering banget ngeluh tentang Pekanbaru. Saya merasa kota ini membosankan. Terlebih saya gak punya banyak teman di sini. Karena saya pindah di pertengahan kelas 3 yang mana gak lama kemudian Ujian Nasional, dan kami pun berpisah untuk melanjutkan kuliah.

Teman dekat saya selama sekolah di Smansa Pekanbaru bisa dihitung dengan jari. Mereka yang selalu ada sampai saat ini. Saling menemani dan menjadi pendengar setia untuk cerita satu sama lain. πŸ™‚

Tapi ternyata rencana Allah itu memang paling baik ya. Kepindahan saya ke Pekanbaru membuat saya bertemu dengan Abang. Cerita pertemuan dan perkenalan yang pastinya gak akan pernah terwujud tanpa izin Allah. Setahun pertama sejak saya pindah ke Pekanbaru pun diisi dengan cerita awal mula kedekatan saya dan Abang.

Sampai akhirnya saya lulus SMA, pacaran dengan Abang, dan melanjutkan kuliah di Bandung.

Perlahan tapi pasti, Abang berusaha merubah pandangan saya tentang kota ini. Salah satunya dengan menciptakan berbagai kenangan manis di antara kami. Mulai dari cerita mudik bersama semasa kuliah, sampai berbagai keseruan yang kami jalani di kota ini.

Awal tahun 2012, saya lulus kuliah. Saat itu, Abang yang sudah lebih dulu lulus dan kembali ke Pekanbaru, datang ke acara wisuda saya di Bandung.

Setelah Abang dan seluruh keluarga besar saya pulang kembali ke Pekanbaru, saya mulai galau karena merasa sendirian di Bandung. Trus saya curhat di twitter. Dan curhatan tersebut direspon oleh Abang.

Momen cuit-cuitan di twitter itu tanpa saya sadari terjadi pada tanggal 11 Maret 2012 yang mana 5 tahun kemudian, saya dan keluarga meninggalkan Pekanbaru for good.

Balik ke cerita di tahun 2012, ternyata rezeki membawa saya ke Jakarta. Bekerja di sana selama hampir setahun lamanya. Pekerjaan yang membuat saya harus kembali menjalani hubungan jarak jauh dengan Abang.

Tapi saya ingat banget, selama saya di Jakarta, entah udah berapa kali Abang berusaha meyakinkan saya untuk pulang ke Pekanbaru. Sampai suatu ketika, ada sebuah lowongan pekerjaan di salah satu perguruan tinggi swasta di Pekanbaru. Abang adalah salah satu orang yang paling semangat meminta saya untuk apply ke sana.

Abang bahkan dengan senang hati menyiapkan semua berkas-berkas saya dan mengantarkan langsung ke perguruan tinggi tersebut. Setelah itu beberapa kali Abang datang ke sana, bertanya kepada salah seorang security sudah sampai mana proses rekrutmen itu berlangsung. Yang terakhir ini baru saya ketahui belakangan, saat saya sudah bekerja di perguruan tinggi itu dan melihat Abang yang akrab sekali dengan si bapak security.

Singkat cerita, di penghujung bulan Januari 2013, saya pun kembali ke Pekanbaru dan memulai pekerjaan baru saya. Saya tau, betapa bahagianya Abang saat itu. πŸ™‚

Sejak itulah, saya mulai belajar mencintai kota ini. Abang pernah bilang, kalo masa depan beliau ya di Pekanbaru. Jika saya mau serius sama Abang, ya berarti saya harus mau tinggal selamanya di kota ini. πŸ™‚

Cara saya belajar mencintai Pekanbaru adalah dengan terus berusaha mengeksplor kota ini. Mulai dari kulinernya, komunitasnya, event-event serunya, hingga yang terakhir saya eksplor yaitu wisata sejarahnya. Hampir dari semua kegiatan yang saya lakukan di Pekanbaru, selalu ada Abang yang menemani. Karena itu, sekarang di saat Abang sudah tidak ada, rasanya ada yang hilang dari hari-hari saya selama berada di Pekanbaru.

Setiap menyusuri jalanan kota Pekanbaru, hati saya rasanya teriris. Jalanan itu yang dulu sering kami lalui bersama. Kebiasaan ‘ngukur jalan’ yang dulu sering kami lakukan di Bandung, juga sering kami lakukan di Pekanbaru. Muterin kota hanya untuk menikmati waktu berdua dan membicarakan berbagai hal bersama.

Belum lagi ketika saya melewati hotel Premiere yang menjadi venue acara pernikahan kami, atau ketika melewati jalanan menuju tempat tinggal kami, dan juga tempat-tempat lainnya yang biasanya dilalui bersama, semuanya bikin saya selalu teringat dan semakin kangen Abang.

Allah memang paling tau yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Ia tau, saya akan susah bangkit dari kesedihan jika saya berlama-lama tinggal di Pekanbaru. Karena itu, Ia berikan jalan-Nya dengan kepindahan Ayah kembali ke Batam.

Wacana Ayah pindah ke Batam ini sudah ada sejak beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Saya bahkan sempat ngobrol sama Abang kalo Ayah akan pindah ke Batam di akhir Oktober, tinggal menunggu SK saja. Waktu itu Abang bilang “lho dek ini udah akhir Oktober, trus kapan dong SK-nya keluar?

Ternyata Allah memberi kesempatan bagi saya dan keluarga untuk menuntaskan kesedihan kami terlebih dulu pasca kepergian Abang. Juga memberi saya kesempatan untuk menyelesaikan semua urusan Abang, dan mengurus pindahan dari tempat tinggal kami di Jakarta.

Setelah satu per satu selesai, barulah kami fokus mengurus kepindahan dari Pekanbaru ke Batam. Hingga di Sabtu sore kemarin, saya, Ayah, dan Mama secara resmi meninggalkan kota ini.

DSC02995

Sore itu, hujan deras mengguyur Pekanbaru. Seolah memahami perasaan saya ketika harus meninggalkan kota ini dan memulai kehidupan baru di Batam.

Sedih sekali rasanya saat berpamitan dengan Mama mertua dan seluruh keluarga besar Abang. Belum lagi krucil-krucil keponakan Abang yang udah saya anggap seperti anak sendiri. Huhuhu saya pastinya akan sangat merindukan mereka semua.

Tapi satu hal yang saya yakini, meninggalkan bukan berarti akan melupakan. Pekanbaru akan selalu ada di dalam ingatan saya.

Di kota ini saya dilahirkan.

Di kota ini saya dan Abang dipertemukan.

Di kota ini kami disatukan dalam ikatan pernikahan.

Dan di kota ini pula kami berpisah di TPU Senapelan.

Pekanbaru akan selalu jadi tempat untuk saya pulang……. mengunjungi Abang.

Abang

Hati saya selamanya tertinggal di kota ini. Kapan pun saya rindu Abang, saya tau harus datang ke mana. Kembali ke kota ini, mengunjungi rumah Abang untuk berkumpul bersama Mama dan para keponakan, serta berziarah ke makam Abang.

Pekanbaru juga selalu ada dalam list mimpi besar saya dan Abang. Dari dulu kami berdua punya keinginan besar untuk memberikan kontribusi terhadap kota kelahiran kami ini. Jika Allah berkehendak, mimpi itu insya Allah suatu saat nanti akan saya wujudkan. πŸ™‚

Terima kasih Pekanbaru untuk semua cerita yang pernah tercipta selama lebih dari 10 tahun terakhir. Until we meet again! ❀

Advertisements

53 thoughts on “Meninggalkan Pekanbaru

  1. Ina

    Hiks sedih bacanya…Moga tetap semangat ya mba….Tidak mudah mmg melupakan semua itu….Tp semua ada hikmahnya ..Big hug…Btw kapan nih main ke Tanjungpinang…Hehehe

    Like

    Reply
  2. Lativa

    Big Hugs mbak Liaaa..
    I read all of your story.. and.. cuma bs mendoakan yg terbaik, agar sllu dikuatkan, sehat2 terus dimanapun, dan ttp jd mbak lia yg selalu menebar manfaat. πŸ’–πŸ’–

    Like

    Reply
  3. Lorraine

    Peluk dari jauh Lia. Aku suka kamu cerita begini, sekalian terapi kedukaan. Almarhum suami kamu sweet ya. I wish you all the best. Dan semoga pindahannya lancar dan betah di tempat tinggal baru.

    Like

    Reply
  4. BaRTZap

    Ikut terharu dan sedikit sedih bacanya. Tapi sebagai orang yang ‘rajin’ pindah-pindah saya bisa memahami bagaimana tempat tinggal/kota yang sudah lama kita tinggali itu bisa memberikan sedikit rasa mellow ketika kita tinggalkan. Biar bagaimanapun, ada banyak kisah yang tertinggal di sana khan?

    Tetap semangat di tempat yang baru ya.

    Like

    Reply
  5. Eka Novita

    Sedih aku mbak, walau cuma ketemu sekali. Tp kesan yg ditinggalkan melekat sekali. Bye bye Mbak Lia, tetep bakal sering main ke Pekanbaru kan ?.
    Semoga terus semangat baru dan mendapatkan banyak hal yg baik-baik di tempat baru. Aamiin.

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Iya Eka, insya Allah akan sering main ke Pekanbaru kok. Mertuaku kan masih di sana πŸ™‚ Semoga nanti kita bisa ketemuan lagi ya kalo aku main ke Pekanbaru. Terima kasih banyak Eka untuk doa-doa baiknya πŸ™‚

      Like

      Reply
  6. Lina W. Sasmita

    Sedih bacanya. Tapi sungguh ini tulisan yang keren. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Sikap sabar sudah tergaris di wajah Lia. Semoga senantiasa ada hikmah di balik semua ini. Welcome back, selamat pulang ke Batam Lia.

    Like

    Reply
  7. Astin Astanti

    Hug you. Melalui jalan yang mengukir kenangan memang sangat sulit untuk berkata enggak kangen, pasti kangen yaaa..Menyikapi dengan hal yang indah adalah satu pilihan. Sukses yaaa, dans emoga apa yang diimpikan untuk pekanbaru segera terwujud, aamiin.

    Like

    Reply
      1. Sandi Juntak

        kakak Lia .. kabar kakak sehat?mudah2an sehat kakak yah..

        Pada tanggal 22 Mar 2017 12.27, “liandamarta.com” menulis:

        > liandamarta.com commented: “Aamiinnn. Terima kasih ya mbaaa. Hug! ” >

        Like

        Reply
  8. Pingback: Healing Process #2 | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s