Istana Siak Sri Indrapura

Saat saya memposting foto Istana Siak di account social media saya, banyak yang bertanya-tanya istana tersebut terletak di mana? Apalagi jika dilihat sekilas dari samping, penampakan istana tersebut seperti bangunan-bangunan di Maroko dan Arab. Semakin penasaran deh kan. 😀

Nah untuk memuaskan rasa penasarannya, saya akan ceritakan sedikit tentang Istana Siak Sri Indrapura yang terletak di Kabupaten Siak Provinsi Riau ini. 🙂

DSC03023

Istana Asserayah Hasyimiyah atau yang biasa dikenal dengan Istana Siak Sri Indrapura dibangun tahun 1889 di masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim oleh arsitek berkebangsaan Jerman. Istana ini selesai dibangun tahun 1893 dengan perpaduan arsitektur bernuansa Arab, Melayu, dan Eropa. Dulunya, istana ini digunakan sebagai kediaman resmi Sultan Siak. Namun kini, seiring dengan berakhirnya pemerintahan di Kerajaan Siak, istana ini pun dialihfungsikan sebagai tempat wisata untuk mengajak pengunjung melihat kebesaran dan kemegahan kerajaan Siak tempo dulu.

Untuk masuk ke dalam kawasan istana, pengunjung diharuskan membeli tiket terlebih dahulu. Tempat penjualan tiket terletak persis di depan gerbang masuk. Harga tiketnya sangat murah. Untuk wisatawan domestik, cukup membayar sebesar Rp 3.000 (dewasa) dan Rp 2.000 (anak-anak). Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp 10.000 (dewasa) dan Rp 5.000 (anak-anak).

DSC02892

Tempat penjualan tiket masuk istana

Setelah membeli tiket, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju pintu utama istana. Di sana, kita diharuskan untuk menyimpan sendal/sepatu di tempat yang sudah disediakan lalu mengisi buku tamu. Nah, di sini, kita akan dimintakan kembali fee untuk penyimpanan sendal dan sepatu sebesar Rp 1.000 per orang.

Begitu memasuki bagian dalam istana, kita akan disambut oleh patung-patung yang ditata dengan menggambarkan keadaan kerajaan tempo dulu. Seperti yang terlihat di foto di bawah ini. Ini adalah gambaran keadaan zaman dulu, di mana sang sultan sedang duduk diapit oleh pengawal dan wakil-wakilnya.

DSC02898Memasuki bagian dalam istana, kita bisa melihat ruang makan yang mewah sekali. Ruangan ini dikelilingi oleh cermin-cermin besar dan berbagai keramik yang berusia ratusan tahun dan merupakan peninggalan asli dari kerajaan Siak.

Di salah sudut ruang tengah istana ini, ada pula sebuah cermin milik permaisuri yang terbuat dari kristal. Cerminnya klasik sekali. Saya gemes dan serasa ingin foto-foto terus di depan cermin itu. Anyway, jika kamu berkunjung ke istana ini, jangan lupa untuk mengambil foto di depan cermin ya. Pihak penjaga istana dengan senang hati akan membantu mengabadikan foto-foto kamu di depan cermin tersebut. 🙂

DSC02911

Cermin permaisuri yang terbuat dari kristal

Cermin permaisuri yang terbuat dari kristal

DSC02987

Guci peninggalan kerajaan. Bagian atas dan bawah bisa disusun terpisah.

DSC02988

Istana Siak Sri Indrapura ini terdiri dari 2 lantai dan memiliki 2 buah wing, di sebelah kiri dan sebelah kanan. Sebelum naik ke lantai 2, saya dan Abang berjalan-jalan melihat koleksi di kedua wing tersebut terlebih dahulu.

Di wing kanan, terdapat meja panjang yang sepertinya merupakan meja pertemuan. Meja ini juga klasik banget menurut saya dan terasa megah dengan kehadiran perabotan lainnya seperti vas bunga dan lampu kristal. Cantik! 🙂

DSC02937

Di salah satu sudut ruangan di wing kanan ini, terdapat sebuah alat musik klasik yang berasal dari Jerman. Alat musik ini bernama Komet.

Komet merupakan alat musik sejenis gramophon yang terbuat dari baja dan berisikan musik-musik instrumental klasik di abad VIII hasil karya komposer-komposer terkenal dunia : Bethoveen, Mozart, dan Strauss. Kabarnya, alat musik Komet ini hanya ada 2 buah di dunia, 1 di Jerman dan 1 lagi di istana Siak ini. Konon, Komet yang berada di Siak ini dibawa oleh Sultan Siak XI di tahun 1896 saat beliau berkunjung ke Eropa.DSC02943

Di wing sebelah kiri juga terdapat berbagai peninggalan istana sejak dulu kala. Ada piring makan dan alat makan lainnya yang dipesan khusus dari Eropa. Ada pula beberapa peninggalan surat-surat sejak masa pemerintahan kerajaan Siak dan berbagai atribut kerajaan tempo dulu, seperti payung kerajaan, dll.

Di beberapa sudut ruangan ada pula foto-foto Sultan Siak beserta permaisurinya dan foto-foto kegiatan selama masa pemerintahan kerajaan. 🙂

DSC02913

DSC02919

DSC02921

DSC02915

Sultan terakhir di pemerintahan Kerajaan Siak yang namanya diabadikan sebagai nama bandara di Pekanbaru, bandara Sultan Syarif Kasim II.

Setelah puas mengelilingi wing sebelah kanan, wing kiri, dan ruang tengah istana, saya dan Abang pun naik tangga menuju ke lantai atas.

Untuk menuju lantai atas, ada 2 buah tangga yang difungskan sebagai tangga naik dan tangga turun. Perlu diperhatikan, jumlah maksimal pengunjung di lantai atas adalah 50 orang. Oleh karena itu, jika pengunjung sedang ramai, kita harus bergantian untuk naik ke lantai atas.

DSC02912Di lantai atas terdapat bilik-bilik yang dulu difungsikan sebagai kamar dan ruang beristirahat sultan. Di sepanjang koridor lantai atas, banyak terpajang foto-foto kegiatan kerajaan di zaman dulu, seperti foto saat upacara, foto saat penjamuan tamu, dsb.

Di dalam bilik-bilik tersebut disimpan beragam peninggalan kerajaan, seperti alat memasak, alat menyimpan pakaian, dll. Bahkan di salah satu bilik masih tersimpan rapi pakaian dan sepatu permaisuri, serta rompi yang digunakan sultan saat masih bayi.

DSC02955

Tempat memasak nasi dan merebus air

DSC02961

Tempat menyimpan pakaian

DSC02960

Tempat menyimpan pakaian bayi

DSC02957

Dulang atau talam

DSC02971

Koridor di lantai 2. Di sepanjang dindingnya, terpajang foto-foto kegiatan kerajaan tempo dulu.

DSC02972

Baju permaisuri yang terbuat dari Tenun Siak

DSC02974

Sepatu permaisuri

 

DSC02973

Baju rompi Raja Siak

Semua barang-barang peninggalan kerajaan Siak yang tersimpan di istana ini kondisinya masih sangat bagus. Semua disimpan rapi di dalam kotak kaca yang terkunci rapat. Di masing-masing barang disiapkan pula penjelasan singkat mengenai barang tersebut.

Jika pengunjung ingin tau lebih banyak mengenai istana ini, para penjaga istana dengan senang hati akan menceritakan secara singkat tentang sejarah istana ini. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, sultan terakhir yang mendapat amanat menjadi sultan di kerajaan Siak ini adalah Sultan Syarif Kasim yang kini namanya diabadikan menjadi nama bandar udara kota Pekanbaru.

Pemerintahaan Sultan Syarif Kasim di kerajaan Siak berakhir saat hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Saat itu, Sultan Syarif Kasim pun ikut mengibarkan bendera di depan istana Siak dan kemudian pergi ke Jakarta untuk menemui Bung Karno menyatakan kesediaan beliau bergabung bersama Republik Indonesia sambil menyerahkan mahkota kerajaan dan uang sebesar 10.000 golden. (Sumber : wikipedia).

Kini, Istana Siak Sri Indrapura inilah yang menjadi saksi bisu kemegahan kerajaan Siak. 🙂

DSC03006 DSC03015

Ada yang tertarik berkunjung ke sini? 🙂

***

Jam Operasional Istana
Senin – Minggu : 09.00 – 16.00 wib (hari Jum’at tutup sementara jam 11.00 – 13.45 wib.

Advertisements

37 thoughts on “Istana Siak Sri Indrapura

  1. Gara

    Sekarang berarti Sultan Siak sudah tidak ada lagi ya Mbak, karena sudah resmi bergabung dengan NKRI? Terus pengelolaan museum ini juga ada di pemerintah daerah, atau bagaimana, Mbak?
    Keren, ya, museumnya. Barang-barang peninggalannya tertata rapi dan terlihat bersih sekali. Bangunannya juga cemerlang dan megah :)). Semoga suatu hari nanti bisa ke sana :hehe.

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Iya, Sultan Siak sudah tidak ada. Sultan Siak terakhir yaitu Sultan Syarif Kasim sudah meninggal dunia tahun 1968 dan dimakamkan di Siak (gak jauh dari istana ini). Setelah Sultan terakhir wafat, tidak ada lagi yang melanjutkan karena pemerintah kerajaan sudah bergabung ke NKRI. 🙂

      Istana ini sekarang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Siak. Sedangkan beberapa barang peninggalannya kabarnya ada juga yang disimpan di Museum Nasional.

      Iya, yang bikin kagum barang-barang peninggalannya tertata rapi. Bangunan megah dan indah. Mudah-mudahan dirimu nanti bisa main-main ke Siak ya, Gara 🙂

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Gara

        Keturunan Sultan Syarif Kasim ini tidak adakah, Mbak? Hebat sekali mereka mengorbankan gelar dan semuanya demi keutuhan NKRI. Patriot sejati :)).
        Syukurlah pengelolaannya lancar dan membuat museum ini jadi tampak sangat indah dan berwibawa. Amin, semoga saya bisa ke sana!

        Like

        Reply
        1. liandamarta.com Post author

          Ada, tapi aku kurang tau juga deh sekarang keturunan Sultan ini pada di mana. 😀

          Iya, pengelolaannya bagus, jadi peninggalan-peninggalan yang ada gak dibiarkan usang begitu saja ya 😀

          Liked by 1 person

          Reply
        2. liandamarta.com Post author

          Baru aja ada yang info panjang lebar mengenai sejarah kerajaan Melayu, Gara. Dan pertanyaan kamu tentang keturunan Sultan Syarif Kasim terjawab. Ternyata beliau tidak punya keturunan. 🙂

          Dan soal bergabungnya Siak dengan NKRI juga ternyata ada ceritanya lagi. Sudah dijelaskan panjang lebar oleh Mirzaasadel di kolom komentar postingan ini. Silahkan dibaca jika masih penasaran 😉

          Liked by 1 person

          Reply
          1. Gara

            Owh, iya Mbak, terima kasih banyak! Sudah saya baca :hehe, ternyata demikian ceritanya. Syukurlah beliau sudah dinobatkan menjadi pahlawan nasional, karena bagi saya, kepahlawanannya sejati banget :)).

            Like

            Reply
  2. mirzaasadel

    Halo Mba Lian,

    Saya juga senang berkunjung ke Siak Sri Indrapura, sepertinya kab Siak satu2nya daerah destinasi wisata di Riau yang selain terjangkau juga benar-benar siap secara infrastruktur dan sarana-prasarana. Siak punya event wisata tour de siak yang promosiinnya sampai ke luar : http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1472673&page=21

    Siak merupakan episentrum dari sejarah dan kebudayaan di Riau ini. Dari Kerajaan Siak inilah dimulainya semacam “peradaban” teritorial Melayu Riau khususnya di wilayah pesisir timur sumatera. wilayah kekuasaannya sangat luas. dimulai dari Riau hingga wilayah deli ,serdang sampai tamiang (Sumatra utara & Aceh), dari laut, kepulauan Riau hingga wilayah barat kalimantan (Sambas, Pontianak), sehingga bahasa Melayu Riau juga digunakan sebagai bahasa daerah di wilayah Kalimantan itu.

    Kerajaan Siak juga satu galur dengan kerajaan Johor (wilayah Malaysia sekarang). di Malaysia kerajaan Melayu terbesar ialah kerajaan Melaka dan kerajaan Johor-Riau.

    Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani (Sani=dua). Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu?, bergabung dg Belanda? atau bergabung dg Republik? Sultan sebagai sosok yg wara’ dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat menduga Allah memberitahu SSK agar bergabung dg Republik karena kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri.Maka Sultan menentukan pilihan bergabung dg Rep. Mendukung NKRI. BERGABUNG, bukan menyerahkan diri.

    Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung), bersama2 dg para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo, Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pd jaman pendudukan Belanda di nusantara).
    Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden.

    Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968.

    Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.
    Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Waaaaah terima kasih banyaaaak atas informasinya. Jadi nambah wawasan baru nih. Terima kasih yaaaa..

      Informasi-informasi ini membantu sekali dalam menjawab pertanyaan dari visitor, terutama soal penerus kerajaan Siak. Karena Sultan Syarif Kasim tidak ada keturunan, berarti kerajaan Siak ini berhenti di beliau ya? 🙂

      Like

      Reply
  3. Pingback: Berwisata ke Kabupaten Siak, Provinsi Riau | liandamarta.com

  4. alrisblog

    Semoga pemda tetap mempertahankan benda bersejarah keturunan kerajaan Siak. Jangan sampai terjadi dijual pihak yang tidak sadar sejarah.
    Istananya walaupun sudah lama tapi tetap keren.

    Like

    Reply
  5. Pingback: Eksplorasi Siak & Rupat Bersama Disparekraf Provinsi Riau | liandamarta.com

  6. Pingback: 7 Objek Wisata Wajib Dikunjungi di Siak Sri Indrapura | liandamarta.com

  7. Pingback: #NgobrolinPekanbaru Eps. 8 : Suka Duka Jadi Warga Pekanbaru | liandamarta.com

  8. Pingback: Jelajah Sejarah Pekanbaru Bersama Pekanbaru Heritage Walking Tour | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s