Kenapa Kuliah Lagi?

“Kenapa tidak?” πŸ˜†

Sebenarnya itu jawaban paling mudah jika ada yang bertanya kenapa saya memutuskan untuk kuliah lagi. Tapi kalo nulis gitu di blog, jadi udahan dong ceritanya. 😝

Karena itu, di tulisan kali ini saya mau berbagi cerita tentang kenapa sih saya merasa perlu untuk kuliah lagi. Bahkan setelah tertunda 9 tahun lamanya dengan berbagai godaan duniawi, keinginan untuk melanjutkan kuliah tuh selalu ada di dalam hati.

FYI, tulisan ini akan jadi blogpost perdana untuk kategori Psychology. Insya Allah saya akan berbagi cerita tentang perjalanan kuliah di Magister Profesi Psikologi. Mulai dari alasan mengapa kuliah lagi (yang akan teman-teman baca dalam tulisan ini), proses seleksi masuk di Magister Profesi Psikologi Universitas Padjadjaran, penjelasan singkat mengenai mata kuliah yang saya ambil di setiap semester, hal-hal yang saya pelajari selama kuliah terutama terkait perkembangan anak dan remaja, hingga suka duka yang dialami sebagai mahasiswa Mapro.

Saya tuh anaknya apa-apa googling dan cari informasi di YouTube, hanya untuk sekadar mendapatkan gambaran sebenarnya tentang sesuatu yang akan saya jalani. Itu juga yang saya lakukan sebelum mendaftar ke S2 ini. Karena itu saya berharap semoga cerita #maprolyfe saya nantinya bisa membantu teman-teman S1 Psikologi yang sedang mempertimbangkan atau mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 Profesi. 😊

Oke, udah cukup pembukanya. Mari kita kembali ke inti utama dari tulisan ini.

“Kenapa sih (harus) kuliah lagi?”

Bagi teman-teman yang kuliah di jurusan Psikologi, pasti tau kalo seorang lulusan S1 Psikologi dengan gelar S.Psi (Sarjana Psikologi) tuh memiliki batasan wewenang. Salah satunya adalah tidak bisa memberikan layanan psikologi di bidang praktik klinis dan konseling, karena itu adalah kewenangan seorang Psikolog. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Kode Etik HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Tahun 2010.

Lalu, siapakah yang layak disebut Psikolog?

Masih dari Kode Etik HIMPSI, disebutkan bahwa Psikolog adalah seseorang dengan latar belakang pendidikan Sarjana Psikologi (S1) dan Magister Profesi Psikologi (S2 Profesi), sehingga gelarnya tidak hanya “S.Psi” saja, tetapi juga ada tambahan “M.Psi, Psikolog”. Khusus untuk lulusan kurikulum lama, meski berlatar belakang pendidikan S1 (S.Psi), tapi sudah bisa diakui sebagai Psikolog. FYI, kurikulum lama ini berlangsung hingga tahun 1993 dengan bobot 168 SKS dan masa kuliah S1 yang mencapai 5 hingga 6 tahun (cmiiw yah). Setelahnya, kurikulum pendidikan Psikologi berubah menjadi kurikulum baru, di mana bobot SKS berkurang menjadi 144 SKS dengan masa kuliah 4 tahun atau 8 semester.

Jadi, bagi lulusan kurikulum baru yang ingin berkarier sebagai seorang Psikolog dan berpraktik di bidang klinis, tentu harus melanjutkan kuliah ke jenjang S2 Profesi. Tapi kalo memang target kariernya gak memerlukan ijazah S2 atau Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP), S1 saja juga sudah cukup. Ada banyak sertifikasi lain yang bisa diikuti jika ingin mendalami bidang-bidang tertentu.

Kembali ke cerita saya, salah satu impian saya sejak dulu ya jadi Psikolog. Lebih spesifik lagi, jadi Psikolog Anak. Ini impian yang muncul sejak mulai kuliah di jurusan Psikologi dan semakin kuat ketika tahun 2015 lalu saya bekerja sebagai terapis di sebuah lembaga terapi untuk anak autis milik pemerintah Provinsi Riau. Saya ingin jadi Psikolog Klinis Anak dan membuka klinik terapi gratis untuk anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu. Itulah yang muncul dalam pikiran saya ketika itu dan menjadi goal besar dalam hidup saya dan Abang. Iya, Abang, salah satu support system terbaik saya yang mendukung sepenuh hati dan juga turut menyimpan impian ini.

Untuk merealisasikan impian kami berdua tersebut, tentu saja saya harus kuliah. Saya tidak bisa menggunakan ijazah S1 Psikologi saya untuk berpraktik sebagai Psikolog.

Lalu, jika ingin jadi Psikolog, kenapa menunda kuliah selama 9 tahun?

Jawabannya cuma satu… karena biayanya MAHAL 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

Sad Pauly D GIF by A Double Shot At Love With DJ Pauly D and Vinny

Oke, mari kembali ke jawaban serius haha. Bagi saya pribadi, keputusan untuk lanjut S2 Profesi Psikologi bukanlah keputusan yang mudah. Ada banyak sekali hal-hal yang harus dipikirkan dan disiapkan, beberapa di antaranya adalah:

1. Biaya yang tidak murah

As I mentioned before, biaya kuliah S2 Profesi Psikologi tuh gak bisa dibilang murah. Sebagai gambaran, saat ini biaya kuliah S2 Profesi Psikologi di Universitas Padjadjaran adalah 17 juta rupiah per semester. Alhamdulillahnya gak ada uang pangkal, jadi hanya bayar uang semester aja. Selain UNPAD, saya sempat cek di Universitas Indonesia juga dan ternyata biayanya lebih mahal yaitu 20 juta rupiah per semester + 17 juta rupiah uang pangkal yang dibayarkan di awal.

Saya gak tau persis inflasi tiap tahunnya berapa. Sekitar tahun 2014-2016 saya pernah cek biaya kuliah ini juga dan ketika itu masih sekitar 13-15 juta baik untuk UNPAD maupun UI. Kalo tidak salah, dulu UNPAD masih memberlakukan adanya uang pangkal, sehingga di semester pertama biaya yang dibutuhkan relatif lebih besar.

Alternatif lainnya jika ada kendala di biaya, bisa coba apply beasiswa LPDP. Sejak tahun 2016 (cmiiw), LPDP juga mengcover biaya kuliah S2 Profesi Psikologi sampai lulus. Saya juga pernah beberapa kali apply ke LPDP, tapi ternyata belum rezekinya untuk kuliah dibiayai beasiswa. πŸ™‚

2. Sulit jika sambil bekerja full-time

Sama dengan poin pertama, poin kedua ini juga yang bikin maju mundur terus mau lanjut kuliah. Udahlah biayanya mahal, kuliahnya pun cukup sulit jika dilakukan sambil bekerja full-time. Karena jam kuliahnya memang di jam reguler mulai dari hari Senin sampai Jum’at, dan gak menutup kemungkinan akhir pekan pun digunakan untuk kegiatan perkuliahan.

Berhubung semester kemarin kuliahnya masih sepenuhnya secara online, sepertinya masih memungkinkan ya jika disambi bekerja. Beberapa teman di angkatan saya juga masih ada yang bekerja, baik itu kerja WFH dengan flexible hours atau yang kerja di kantor. Tapi saya pribadi memutuskan untuk resign saja dari pekerjaan sebelumnya, selain karena jam kerja yang gak flexible, saya juga merasa gak akan sanggup menjalankan keduanya sekaligus.

Alternatif lainnya mungkin bisa sambil bekerja freelance atau part-time. Ini yang juga saya lakukan di tengah-tengah kesibukan perkuliahan. Mengambil beberapa pekerjaan freelance dan menjalankan bisnis perlebahan (klik di sini bagi yang mau ikutan bisnis bareng saya πŸ˜‰). Oh ya, kalo ada yang mau oper-oper pekerjaan freelance ke saya juga boleh banget loh! Saya akan dengan senang hati menerimanya. πŸ˜†

3. Durasi kuliahnya lama

Dulu, masa kuliah S2 Profesi tuh sama dengan yang lainnya, yaitu 4 semester selama 2 tahun. Tapi saya sering sekali mendengar cerita dari teman-teman yang kesulitan untuk lulus tepat waktu. Kebanyakan teman-teman saya tuh paling cepat lulusnya 3 tahun atau 6 semester. Bahkan ada yang sampai 4 tahun, udah sama kayak S1. πŸ˜…

Sekarang, di angkatan saya, kuliah S2 Profesi di UNPAD sudah berubah menjadi 5 semester atau 2,5 tahun. Apakah bisa lebih cepat? Mungkin bisa. Tapi pihak fakultas mempersiapkan program belajar sedemikian rupa dengan waktu kuliah selama 2,5 tahun tentu saja karena melihat realitas di lapangan. Jadi ya saya sendiri mempersiapkan diri akan kuliah minimal 2,5 tahun. Insya Allah lulus tepat waktu, gak pake molor! AAMIINN. Doakan plis. πŸ₯Ί

4. Perjalanan kuliahnya (mungkin) tidak mudah

Dari pengalaman semester pertama, saya bisa bilang bahwa perkuliahan di mapro ini cukup menantang. Kita dituntut untuk bisa belajar secara mandiri. Bagi saya yang bukan lulusan S1 dari UNPAD, di awal perkuliahan cukup ngos-ngosan mengikutinya. Karena ada beberapa yang berbeda dari yang saya pelajari di S1 dulu, dan bahkan ada yang belum pernah saya pelajari juga.

Tantangan di semester-semester berikutnya tentu tidak kalah horor. FYI, di Magister Profesi Psikologi, kita akan menempuh pendidikan kemagisteran dan keprofesian. Untuk syarat lulus pun begitu, ada ujian untuk gelar magister (M.Psi) berupa sidang tesis, dan juga ada ujian untuk gelar profesi (Psikolog) yaitu sidang HIMPSI terkait kasus-kasus yang sudah ditangani.

Yes, mulai semester 3, mahasiswa Mapro Psikologi akan mulai ditempatkan di klinik, puskesmas, rumah sakit, atau lembaga tertentu untuk kuliah praktik. Di UNPAD, kegiatan ini dikenal dengan nama KKPP atau Kuliah Kerja Praktik Psikologi. Mahasiswa diwajibkan untuk menangani sejumlah kasus, baik kasus individual, maupun kasus kelompok dan organisasi. Kemudian dilanjutkan dengan kewajiban membuat laporan dan mempertanggungjawabkannya di sidang HIMPSI untuk mendapatkan gelar Psikolog.

Jika sudah lulus sidang tesis, namun tuntutan jumlah kasus yang harus ditangani belum terpenuhi sehingga belum bisa sidang HIMPSI, maka belum bisa lulus. Begitu pula sebaliknya. Jadi, proses menjadi seorang Psikolog tidak bisa dibilang mudah. Karena bagaimana pun, yang nanti akan dihadapi setelah lulus adalah manusia dengan segala dinamikanya. Karena itu calon psikolog benar-benar perlu ditempa sedemikian rupa agar kelak dapat menjadi Psikolog yang kompeten dan kredibel. 😊

Oh ya, karena nulis ini saya jadi ingat perkataan salah satu dosen saya di masa orientasi mahasiswa baru beberapa bulan lalu:

“Saya tidak menjanjikan kuliah di Magister Profesi Psikologi akan berjalan dengan mudah, tapi keputusan untuk melanjutkan kuliah adalah keputusan yang tidak pernah salah.”

Big Brother Omg GIF by Global TV

Jadi, meskipun telah tertunda selama 9 tahun lamanya, saya meyakini insya Allah ini adalah waktu terbaik dari Allah untuk saya melanjutkan kuliah. Karena kalo flashback dan lihat lagi ke belakang, saya merasa memang inilah jalannya. Mungkin juga ini jawaban dari doa yang saya panjatkan selama berada di Madinah dan Makkah tahun 2019 kemarin. Saat itu, saya berkali-kali berdoa minta dibukakan jalan jika memang saya ditakdirkan untuk bisa menjadi seorang Psikolog Anak.

Saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya untuk sampai ke sini ya.

Tahun 2012 saat lulus S1, saya sebenarnya udah pernah apply S2 Profesi di Universitas Islam Bandung dan alhamdulillah lulus. Namun, di waktu yang sama, saya pun udah bekerja di Jakarta. Jiwa-jiwa freshgraduate yang ingin segera lepas dari tanggungan finansial orang tua ternyata sangat kuat hingga akhirnya saya memutuskan untuk melepas kesempatan S2 itu. Terlebih saat itu saya diterima di Klinis Dewasa, jurusan yang tidak benar-benar saya inginkan.

Setelah itu saya kembali bekerja di Jakarta dan pindah kerja ke Pekanbaru tahun 2013. Niatnya sih mau kerja 1-2 tahun dulu aja, baru kemudian kembali daftar S2. Tapi ternyata bablas jadi bertahun-tahun, keasikan dan terlalu nyaman kerja hahaha. Saya merasa dengan bekerja bisa punya uang sendiri, bisa beli apa aja, bisa jalan-jalan ke mana aja. Gak perlu pusing-pusing menghadapi ujian dan bisa senang-senang terus. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tahun 2014, saya menikah dengan Abang. Tahun 2015, saya resign dari pekerjaan sebagai Kepala Bagian Kepegawaian di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Pekanbaru. Salah satu pertimbangannya saat itu adalah saya ingin kembali ke dunia yang saya minati, yaitu dunia anak-anak. Saat itu yang terbayang adalah bekerja di TK. Di tahun itu juga, obrolan mengenai rencana S2 kembali muncul ke permukaan. Abang mendorong saya untuk mulai mempersiapkan diri lagi.

Namun, pilihan universitas yang ingin saya tuju ada di Depok dan Bandung. Sedangkan saat itu, Abang tidak memungkinkan untuk ikut meninggalkan Pekanbaru. Yang artinya, jika saya kuliah, kami harus menjalankan Long Distance Marriage dan saya tidak mau itu. Ya sudah, rencana S2 pun kembali saya simpan lagi. Mungkin memang belum saatnya.

Di tahun itu juga, Allah ternyata menggantinya dengan kesempatan belajar lain. Saya diterima bekerja sebagai terapis di Pusat Layanan Autis Provinsi Riau. Meski ketika kuliah dulu saya sudah pernah mengikuti pelatihan terapi autis, dan sempat magang di salah satu klinik tumbuh kembang anak di Bandung, tapi pengalaman bekerja sebagai terapis ini tetap saja menjadi hal baru bagi saya. Ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari pengalaman ini. ❀️

Pertengahan tahun 2016, saya dan Abang memutuskan pindah ke Jakarta. Abang mendapat pekerjaan di sana, saya pun kembali fokus mempersiapkan rencana kuliah dan mengejar beasiswa LPDP. Saat itu kami menyusun rencana akan menghabiskan sekitar 5-10 tahun di Jakarta, lalu kembali pulang ke Pekanbaru. Targetnya adalah Abang sudah punya posisi yang cukup oke di kantornya hingga bisa pindah karier ke tempat lain di Pekanbaru, dan saya juga sudah punya gelar serta pengalaman sebagai Psikolog Anak hingga bisa buka klinik.

Namun ternyata, takdir Allah berkata lain. Kami hanya 6 bulan saja di Jakarta. Saya harus kembali ke Pekanbaru lebih awal dari rencana untuk mengantarkan Abang yang telah berpulang. πŸ’”

Rasanya, itu adalah momen patah hati terhebat dan sangat menyakitkan yang pernah saya rasakan. Saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Hancur sehancur-hancurnya. Berjalan terseok-seok sembari berusaha menjalani dan menikmati proses healing yang dilalui. Hidup saya pun seketika berubah. Keinginan S2 masih ada dan tetap saya coba upayakan, tapi Allah seperti meminta saya untuk fokus healing dulu. Fokus berdamai dulu dengan kedukaan yang sedang dirasakan.

Saya pun memutuskan kembali bekerja di Jakarta, di salah satu HR consultant. Salah satu tujuannya ya untuk menyibukkan diri. Karena rasanya, itu yang sedang saya butuhkan. Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan menginap di kantor pun saya jalani.

Untuk mengingatkan diri agar tidak lupa, sejak Abang pergi, saya tempelkan post it ini di dinding kamar, tepatnya di depan meja belajar dan di samping tempat tidur. Saya lihat terus setiap hari dari bangun sampai tidur lagi. Bahkan selama lebih dari 1,5 tahun WFH, ya post it ini yang dilihat setiap hari sambil saya bekerja.

Sejujurnya, sejak kembali bekerja di Jakarta, saya sempat berpikir untuk melupakan impian S2 Profesi ini. Biasalah, balik ke zona nyaman, keasikan kerja dan dapat uang, jadi berat sekali untuk kembali belajar dan harus mengeluarkan uang. Hingga akhirnya di tahun 2019 saya berdoa di Makkah dan Madinah memohon diberikan petunjuk.

Tahun 2020 dan 2021, saya merasa mendapat banyak petunjuk dari Allah yang mengarahkan untuk kembali ke impian ini. Semua berawal di pertengahan 2020 saat saya melihat postingan Instagram salah seorang teman baik ketika S1 yang resign setelah 8 tahun bekerja karena dia mau lanjut S2 Profesi (yes, dia sekarang kakak kelas saya di Klinis Anak UNPAD πŸ˜‰).

Kemudian beberapa bulan setelahnya, di surprise ulang tahun dari teman-teman divisi, saya mewek karena mendengar lagu I Have A Dream-nya Westlife yang mereka putar. Momen itu jadi momen penting bagi saya, karena membuat saya kembali berpikir tentang impian S2 saya ini. Selain itu, masa-masa pandemi yang membuat hidup seolah melambat dan saya yang 1,5 tahun lebih hanya di kost aja, turut punya andil sehingga saya jadi lebih banyak berpikir, berefleksi, dan berdialog dengan diri sendiri.

Sebenarnya, apa sih yang mau saya kejar?

Dari sana muncul keinginan untuk ‘ok coba apply S2 deh tahun ini’. Nothing to lose aja. Kemudian saya merasa Allah memberikan bantuan dan membukakan jalan. Salah satunya adalah batas waktu pendaftaran yang tiba-tiba mundur 3 minggu, yang mana itu menjadi berkah bagi saya pribadi. Kalo waktu pendaftaran itu gak mundur, saya gak yakin bisa tetap apply sih, karena ada ‘proyek sangkuriang’ yang sedang saya pegang dan menyedot seluruh energi, pikiran, juga waktu. Ketika sesi wawancara pun begitu, lagi handle sebuah proyek besar, tapi Allah memberikan kemudahan sehingga saya bisa melalui prosesnya dengan baik tanpa meninggalkan tanggung jawab di pekerjaan.

Bahkan saat pengumuman kelulusan pun, saya yang masih galau mau ambil kesempatan itu atau dilepas (lagi-lagi, takut keluar dari zona nyaman 😌) kembali mendapat petunjuk dan arahan dari Allah. Saya yakin banget ini dari Allah sih, karena gimana bisa di tengah kegalauan yang dirasakan, saya yang lagi random dengar podcast di spotify tiba-tiba mendengar Dian Sastro ngomong gini di podcast tersebut:

“Kalo lo ada 2 pilihan, selalu ambil aja pilihan yang paling susah dan paling painful buat lo. Kenapa? Karena lewat pilihan itulah yang bikin lo lebih grow daripada pilihan lain.”

Dian Sastrowardoyo di podcast Makna Talks

Abis dengar kata-kata itu, saya langsung bengong. Keyakinan pun semakin menguat, ok bismillah diambil deh. Terlebih di saat yang sama, dukungan dari orang tua, keluarga besar, bahkan keluarga Abang juga benar-benar mengalir deras. Jadi, apa lagi sih yang masih bikin ragu? πŸ™‚

Daniel Tetangga Kamu episode Pandji Pragiwaksono juga menjadi salah satu yang membuat saya akhirnya membuka mata dan menyadari bahwa bantuan dan petunjuk dari Allah itu benar-benar nyata. Ada momen ketika Pandji menceritakan pengalaman pribadinya ditolong oleh Allah, dan di episode tersebut Pandji bilang gini:

“Bahkan ketika lo udah nyerah sama diri lo sendiri, Tuhan tuh gak nyerah sama lo. Jadi, kalo lo terpuruk, boleh aja nunduk, itu manusiawi. Tapi jangan lama-lama, sesekali lihat ke atas. Karena mungkin aja di saat lo lagi mengasihani diri lo, Tuhan tuh lagi menyodorkan bantuan dalam bentuk kesempatan atau apapun itu.”

Pandji Pragiwaksono di YouTube Channel Daniel Tetangga Kamu
Serena Williams Applause GIF

Saya meyakini, selalu ada alasan di balik setiap kejadian. Jadi percaya aja bahwa apa yang Allah berikan dalam hidup, itu pasti yang terbaik. Jika pun ada doa atau keinginan yang belum Allah kabulkan, mungkin saja memang belum waktunya, atau mungkin sedang Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Untuk semua teman-teman lulusan S1 Psikologi yang masih menyimpan keinginan lanjut ke S2 Profesi namun terbentur ini dan itu, bawa terus keinginan tersebut di dalam doa ya. Insya Allah, kesempatan akan datang di waktu terbaik menurut Allah. πŸ€—

Bagi siapa pun yang sedang berjuang mewujudkan impian, saya bantu doakan semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kelancaran. ❀️

Doakan juga kuliah saya berjalan lancar sampai nanti lulus ya. Jika ada yang mau diskusi terkait perkuliahan S2 Profesi Psikologi, feel free untuk menghubungi saya melalui e-mail, DM instagram @liamarta, atau whatsapp. Insya Allah di postingan #maprolyfe selanjutnya, saya akan bagikan info mengenai pengalaman mendaftar hingga akhirnya diterima di Magister Profesi Psikologi UNPAD. Teman-teman bisa follow blog ini atau subscribe melalui e-mail agar mendapatkan notifikasi jika ada tulisan baru. πŸ˜‰

Terima kasih banyak untuk semua yang udah baca. WOW 2600an kata lho ini, panjang juga yah hahaha. Semoga bermanfaat dan ada hal baik yang bisa diambil ya! πŸ€—

6 thoughts on “Kenapa Kuliah Lagi?

  1. Ira

    selamat menempuh perjalanan magister Martilo….bener, bukan sebuah perjalanan yang mudah, tapi sangat berharga dan terbayarkan.

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s