Review : Antologi Rasa, a novel by Ika Natassa

Antologi Rasa adalah buku keempat dari Ika Natassa, setelah A Very Yuppy Wedding (AVYW), Divortiare, dan Underground. Saya pertama kali ‘mengenal’ Ika Natassa sekitar 4 tahun lalu karena secara tidak sengaja membeli novel AVYW dengan cover-nya yang eye catching. Dan saya langsung jatuh cinta. Jatuh cinta dengan gaya penulisan Ika yang ceplas-ceplos ala masyarakat urban. Kemudian saya membaca Divortiare, dan kembali dibuat jatuh cinta dengan kisah Alex & Beno. Sekarang, setelah sekian lama menanti, akhirnya Ika Natassa kembali merilis buku barunya, Antologi Rasa..

Antologi Rasa bercerita tentang kisah persahabatan 4 orang banker yang bernama Harris, Keara, Ruly, dan Denise, yang diam-diam saling mencinta. Kisah percintaan tak terbalas antara keempat tokoh utama dikemas dengan sangat apik dan menarik oleh Ika. Harris yang cinta mati pada Keara, Keara yang cinta mati pada Ruly, Ruly yang cinta mati pada Denise, dan Denise yang telah menikah dengan orang lain. Novel ini menceritakan perasaan dari sudut pandang masing-masing tokoh utama, yaitu Harris, Keara, dan Ruly, serta satu tokoh lain bernama Panji (yang menjadi pelarian cintanya Keara).

Harris, seorang womanizer yang jatuh cinta dengan Keara (yang dipanggil “Cinta Gue” oleh Harris) sejak pertemuan pertama mereka di lift kantor. Persahabatannya dengan Keara hancur karena insiden suatu malam di Singapura, sewaktu mereka menonton pertandingan F1 di sana. Tapi meskipun begitu, Harris tetap memuja dan mencintai Keara, dan berharap bisa memperbaiki persahabatan mereka, bahkan mungkin lebih dari itu.

Keara, seorang wanita mandiri yang hobi clubbing & agak bitchy, pecinta fotografi dan die hard fans-nya John Mayer. Diam-diam memendam rasa cinta pada Ruly, dan harus menelan pahit-pahit kenyataan bahwa cintanya tak terbalas. Menjadikan Panji, adik ipar sahabatnya, sebagai pelarian dan berharap dapat menghilangkan bayang-bayang Ruly dari pikirannya.

Ruly, pria baik-baik, a good-husband in the future, and also a workaholic yang mencintai dan memuja Denise dengan sepenuh hatinya, walaupun Denise sudah menjadi istri orang. Dan.. Denise, digambarkan sebagai seorang wanita baik-baik, yang tersiksa dengan pernikahannya tapi tetap bersabar.

Dengan gaya hedonisme ala masyarakat urban dan bumbu konflik di sana sini, novel ini berhasil mencuri hati saya, membuat saya kembali jatuh cinta dengan karya Ika Natassa. Setting cerita yang terasa sangat nyata, memainkan imajinasi saya setiap membaca kata demi kata yang ada di novel ini. Ditambah dengan facts and quotes yang diselipkan Ika di setiap chapter-nya membuat novel ini terasa berbeda dengan novel Indonesia pada umumnya.

Menurut saya, Ika Natassa telah berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Saya ikut merasa sedih ketika Harris, Keara, ataupun Ruly bercerita tentang perasaan mereka pada orang yang mereka cintai. Saya ikut merasa bahagia, ketika Keara bisa menghabiskan hari-harinya bersama orang yang ia cintai, sewaktu mereka on duty di Bali. Saya merasa gregetan melihat Ruly yang lempeng tidak menyadari Keara mencintainya, dan Keara yang juga lempeng gak sadar dicintai sepenuh hati oleh Harris. Saya tertawa, membaca jokes ringan yang ada di buku ini. Dan tentu saja, merasa geli setiap kali membaca Harris memanggil Keara dengan panggilan sayangnya, “Cinta Gue”, hehehe..

Satu kekurangan dari novel ini (seperti pada novel Ika sebelumnya, Divortiare) adalah ending-nya yang bikin gregetan. Keara yang pada akhirnya sempat menjalin hubungan dengan Ruly, walaupun hanya dua bulan, harus kembali menelan kenyataan pahit bahwa Ruly tidak pernah benar-benar mencintainya. Harris yang pelan-pelan mulai berhasil memperbaiki persahabatannya dengan Keara, tetap berusaha dan mencoba untuk menaklukkan hati Keara. Sementara Ruly, tetap memuja Denise, walaupun wanita itu telah menemukan kebahagiaannya bersama Kemal, suaminya.

Saya berharap semoga saja Antologi Rasa akan dibuat sekuel-nya oleh Ika Natassa. Seperti Divortiare yang sekuelnya (berjudul Twivortiare) yang akan rilis akhir bulan ini. 🙂

Oh iya, satu hal lagi yang bikin tokoh-tokoh ini semakin nyata adalah adanya akun twitter atas nama @harrisrisjad dan @KTedjasukmana (yang saya duga dibuat sendiri oleh Ika Natassa). Follow them. They’re tweeting like in the real world..

Novel ini adalah salah satu novel yang berhasil saya ‘lahap’ dalam waktu satu hari saja. So people, I think all of you will love this book, as I do! 🙂

By the way.. Here’s the synopsis of Antologi Rasa..

Keara 
We’re both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe. How can we be so different and feel so much alike, Rul? Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Three years of my wasted life loving you.

Ruly
Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, “Pak, istrinya sudah sadar,” dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

Harris
Senang definisi gue : elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, “Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love.” That’s probably as close as I can get to hearing that she loves me.

Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

Advertisements

6 thoughts on “Review : Antologi Rasa, a novel by Ika Natassa

  1. Pingback: Review : Divortiare & Twivortiare, novel by Ika Natassa « My Life, My Story

  2. restining

    Buku bagus lagi mau difilm in segera: 99 Cahaya di Eropa karya Hanum-rangga…buruan baca sebelum difilmin

    Like

    Reply
  3. Pingback: Tentang Film Critical Eleven | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s