Cerita Lebaran Tahun 2020 / 1441 H

Haiiii, teman-teman semua! Bagaimana cerita lebaran kalian di tahun ini? Kalo saya, seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, tahun ini saya tidak mudik dan jadi kali pertama merayakan lebaran Idulfitri sendirian di perantauan. Agar memori ini terdokumentasi dengan baik, maka saya mau berbagi cerita lebaran tahun ini kepada kalian semua.

Saya mau mulai cerita dari momen di malam takbiran yang dihabiskan bersama teman-teman relawan Akademi Berbagi. Karena banyak di antara teman-teman relawan yang tidak mudik, maka kami pun mengadakan silaturahmi online via Zoom yang diawali dengan sesi sharing dan diskusi bersama Mba Ainun Chomsun.

Salah satu hal yang saya highlight dari sesi diskusi tersebut adalah pesan Mba Ai ini: “jika kita tidak bisa membantu orang lain, paling tidak kita jangan sampai menyusahkan orang lain.”

Pesan yang menurut saya sangat relate dengan situasi pandemi saat ini. Terlebih yang saya lihat masih ada aja orang-orang yang terkesan ignorant dengan COVID-19. Jika ada teman-teman yang baca tulisan saya ini dan masih menganggap remeh COVID-19 dengan tidak mematuhi himbauan pemerintah untuk tetap di rumah aja, juga masih nongkrong di sana sini, plis ingat satu hal ini: kalo kalian sampai sakit, yang susah bukan hanya diri kalian saja, tapi juga keluarga, orang-orang terdekat, dan seluruh tenaga medis yang mungkin udah berbulan-bulan gak pulang ke rumah dan gak bertemu keluarganya. 😒

Jadi coba dipikirkan dengan sangat matang deh kalo misalnya kepikiran ingin main ke mall atau nongkrong untuk hal yang gak terlalu penting. Sebisa mungkin tetap stay di rumah, dan kalo pun harus keluar entah untuk bekerja atau urusan lainnya, please ikuti protokol kesehatan yang ada ya. Karena kita gak pernah tau apakah orang-orang yang kita temui di luar rumah itu membawa virus Corona atau tidak. Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain saling jaga satu sama lain. Jaga diri sendiri, jaga keluarga, dan jaga orang-orang di sekitar kita.

Kembali ke cerita malam takbiran Akber, seperti biasa relawan Akber kalo udah ngumpul gak akan bisa cuma sebentar. Mulai ngumpul dari jam 7 malam dan baru benar-benar berakhir di jam 1 dini hari. Menjelang tengah malam, di saat sebagian relawan sudah bubar dan hanya tersisa 12 orang saja, tiba-tiba Mba Ai bikin kuis berhadiah THR masing-masing sebesar 250rb rupiah untuk 4 orang pemenang. Disusul kemudian Mba Sita dan Bang Rijal yang juga ikut berbagi rezeki. Jadi totalnya ada hadiah THR untuk 8 orang, sementara pesertanya hanya 10 orang. Ya auto menang semua lah, kecuali 2 orang yang belum beruntung. πŸ˜†

Beginilah malam takbiran saya tahun ini, saling menyebarkan positive vibes, berdiskusi dan bertukar insight, juga ketiban rezeki. ❀️

Keesokan paginya, saya bangun diiringi sayup-sayup suara takbir dari masjid di dekat kost. Perasaan mendadak mellow lagi nih, karena suasana pagi pertama Idulfitri yang saya tau itu ya suasana kehebohan di rumah, untuk bersiap ke masjid di depan rumah atau ke lapangan Kepril Mall untuk melaksanakan sholat ied berjamaah.

Usai shalat subuh, saya mandi dan bersiap untuk shalat ied sendiri di kamar kost. Meski di rumah aja, saya tetap dandan dan pake baju yang rapi dong. Kan ada sunnahnya ya kalo gak salah untuk menggunakan pakaian terbaik di hari Idulfitri ini. Sebelum mulai shalat ied, saya nontonin lagi video panduan shalat ied yang dishare Mama sehari sebelumnya. Karena tahun ini jadi tahun pertama saya melaksanakan shalat ied sendirian, di kamar kost pula. πŸ™‚

Selesai shalat, saya turun ke bawah karena sudah janjian dengan teman-teman kost lain untuk foto bersama. Di kost saya, dari 12 anak kost, hanya tersisa 6 orang yang gak mudik. Sisanya udah pulang ke kota masing-masing sejak awal ditetapkan kebijakan WFH. Kami pun sepakat untuk mendokumentasikan momen lebaran Idulfitri di kost dan jauh dari keluarga, yang mudah-mudahan hanya terjadi 1x ini saja.

Janjian jam 07.30, tapi sampai jam 8 yang turun hanya 3 orang, ditambah si Mba dan anaknya. Maka jadilah foto ini, meski tanpa masker tapi kami berupaya tetap menerapkan physical distancing. Mengucapkan selamat Idulfitri pun kami lakukan tanpa berjabat tangan dan cipika cipiki. πŸ™‚

Usai foto-foto, kami kembali ke kamar masing-masing karena jadwal video call dan Zoom session dengan keluarga di kampung halaman sudah menunggu. Tidak lupa kami mengambil sepiring ketupat beserta opor dan gulai nangka untuk dimakan di kamar.

Eh, emangnya anak kost ada ketupat?

Oh tentu saja ada dong. Saya dan teman-teman kost lainnya patungan beli ketupat, lalu kami juga ikut langganan catering dengan si Mba. Alhamdulillah, jadi tetap berasa lebaran deh, karena ada ketupat dan opor daging hihi. Ditambah lagi, Uni, salah satu anak kost asal Payakumbuh dikirimi kerupuk jangek dan sambal kentang ati ampela. Ya Allah senang sekali saya melihat menu itu karena biasanya di rumah Mama juga masak sambal kentang ati ini.

Meskipun lebaran tahun ini tidak ditemani ketupat, opor ayam, paru balado, dan lauk pauk bikinan Mama, saya tetap bersyukur sekali karena ada menu lebaran ala Mba kost. Juga ada aneka kue yang dikirim oleh teman-teman. Alhamdulillah. Rezeki anak kost nih hihihi. ❀️

Pagi itu, saya menyantap ketupat dan opor daging sambil Zoom session dengan keluarga di Batam. Zoom session pertama di lebaran tahun ini dilakukan bersama keluarga besar dari pihak Ayah yang tersebar di Batam, Jakarta, Tanjungpinang, dan Semarang. Yang di Batam, meskipun satu kota, tapi tetap tidak diizinkan untuk berkunjung ke rumah saya di Baloi. Karena di sana ada Oma dan Opa yang sudah tua dan memiliki risiko paling tinggi terpapar virus Corona. Jadi ya kami semua menyapa Oma dan Opa hanya lewat layar kaca saja. πŸ™‚

Rasanya haru namun juga senang bisa kumpul keluarga dengan cara baru seperti ini. Lucu melihat reaksi Oma terheran-heran karena anak cucunya ada di dalam laptop. Kata Oma “kok mereka semua bisa masuk situ (laptop)?” hehehe. Tapi ya beginilah kondisi saat ini, ketika tidak saling berkunjung adalah satu-satunya cara terbaik untuk menunjukkan rasa sayang di tengah pandemi. The New Normal, begitu kata orang-orang. πŸ™‚

Selesai Zoom session dengan keluarga besar dari pihak Ayah, lanjut Zoom session dengan keluarga besar dari pihak Mama. Kali ini participantnya tersebar di Batam, Jakarta, Pekanbaru, dan Duri. Ada momen bagi-bagi THR secara simbolis sebelum mulai ditransfer satu-satu. Saya sebagai kakak tertua tentu saja udah gak dapat THR lagi dong, malah kena todong dimintain THR sama adik-adik. πŸ˜‚

Dengan keluarga besar Mama ini, setiap lebaran kami punya tradisi jalan-jalan. Dulu waktu saya masih tinggal di Pekanbaru, destinasi utamanya ya ke Sumatera Barat. Menambah macet Kelok Sembilan sampai Bukittinggi, lalu cari jalan alternatif untuk menuju ke Solok via Batusangkar. Mengunjungi Lembah Harau di Payakumbuh, berfoto dengan pakaian adat minang di Istana Baso Pagaruyung, jalan-jalan di Bukittinggi, sampai berwisata kuliner. ❀️

Setelah pindah ke Batam, destinasi libur lebaran kami pun bergeser. Pilihannya ya menyeberang ke Bintan, atau menambah cap paspor di negeri tetangga, baik Singapura maupun Malaysia. Tahun 2018 bahkan pernah secara impulsif kami pergi ke Kuala Lumpur. Waktu itu gak ada niatan mau pergi jalan-jalan. Lalu tiba-tiba di satu siang, saya, tante dan adik kepikiran untuk ke Kuala Lumpur. Saat itu juga langsung beli tiket ferry ke Singapore, dari Singapore lanjut naik bus ke Kuala Lumpur, menginap semalam di Kuala Lumpur dan kemudian pulang lagi deh ke Batam. πŸ˜‚

Setiap kali liburan keluarga gini, saya selalu kebagian tugas jadi mba-mba travel, yang ngurusin itinerary, booking hotel/Airbnb, sampai jadi tukang foto dan tukang dorong stroller bayi. Setiap tahun, semua anggota keluarga akan bertanya ke saya “Kak Lia, jalan-jalan ke mana lagi kita?“. Tahun lalu, kami memutuskan ke Singapore dan Johor Bahru selama 3 hari 2 malam. Tahun ini, tentu saja kami tidak ke mana-mana, bahkan untuk saling berkunjung ke rumah masing-masing pun sudah tidak bisa. Tapi ya tidak apa-apa ya, karena ini semua demi kebaikan bersama. πŸ™‚

By the way, saya baru sadar, ternyata cerita jalan-jalan tahun lalu belum saya tulis di blog ini. Baiklah, karena tahun ini mba-mba travelnya lagi libur, jadi nanti saya tulis cerita jalan-jalan tahun lalu aja ya. πŸ™‚

***

Momen lebaran Idulfitri hari pertama (24 Mei 2020), usai Zoom session dan sesaat sebelum bersiap bobo sampai sore.

Tahun ini, kita memang menjalani lebaran yang berbeda dari biasanya. Ada yang memutuskan tidak mudik, ada yang satu kota tapi tidak saling berkunjung, ada juga yang mungkin seperti saya dan teman-teman di kost lainnya yang menjalani lebaran hanya di hari pertama dan itu pun sampai jam 12 siang saja, lalu setelahnya kami kembali menjadi geng rebahan. πŸ˜‚

Kemarin, setelah mengikuti 2x Zoom session dengan dua keluarga besar, lalu juga video call via whatsapp dengan Mama mertua dan keluarga Abang di Pekanbaru, saya tidur siang sampai sore. Bangun tidur, lanjut makan malam, dan kirim ucapan ke teman-teman juga membalas semua whatsapp yang masuk. Lalu setelah itu saya pun sibuk mengurus Melody (karakter di The Sims 4) yang baru memulai perkuliahannya. Btw, saya share cerita si Melody ini di IG story @liamarta, follow dong gengs! πŸ˜†

Lebaran tahun ini.. saya gak ngurusin cuci piring dan beres-beres rumah. Kerjaan saya benar-benar hanya makan, tidur, main game, makan, tidur, main game, ALL DAY LOOOONG! Kapan lagi kan lebaran kayak gini hihihi. Ya adalah sesekali diselingi ngobrol dengan teman-teman dan keluarga via chat di Whatsapp atau video call. Tapi ya most of the time saya sibuk sendiri dan setelah dijalani ternyata gak sedih-sedih banget sih. πŸ™‚

Iya, saya kangen keriaan kumpul keluarga besar. Kangen berada di dekat orang tua dan adik-adik. Kangen jalan-jalan heboh sekeluarga di momen libur lebaran. Ada kekosongan di dalam hati yang gak bisa saya jelaskan. Tapi di sisi lain, berdiam sendiri di kost seperti sekarang ini ternyata juga bukan sesuatu yang menyedihkan. Saya menikmati kesendirian ini. Sudah lebih dari 2 bulan seperti ini dan ternyata saya masih menikmatinya. ❀️

Kemarin, saya membaca IG story salah seorang teman yang isinya kurang lebih begini: perjalanan pulang terjauh adalah perjalanan pulang ke diri sendiri. Dan iya, mungkin ini yang sedang saya lakukan. Saya tidak pulang ke rumah, namun saya pulang ke dalam diri. Menyelami diri sendiri dan belajar untuk lebih memahami apa yang sebenarnya ingin dicari. πŸ™‚

***

Selamat lebaran, teman-teman! Mohon maaf lahir dan batin ya. ❀️

Ini cerita lebaran saya tahun ini. Besok saya sudah mulai ngantor lagi dan masih bekerja dari kost seperti yang sudah dilakukan selama dua bulan terakhir. Teman-teman ada cerita apa nih di lebaran tahun ini? Tulis dong di kolom comment! πŸ€—

4 thoughts on “Cerita Lebaran Tahun 2020 / 1441 H

  1. Ikha

    Suka sama pesannya Mbak Ainun.
    πŸ’œ

    selamat idulfitri mbak Lia, mohon maaf lahir batin. πŸ™ semoga kondisi kedepan semakin membaik. salam dari saya yang juga ga mudik pas lebaran. sedih sih ga bisa kumpul keluarga, tapi ga sedih-sedih amat, masih ada hal-hal menyenangkan yang bisa disyukuri.

    Like

    Reply
  2. Hadi M Hs

    lebaran tahun ini memang berbeda, cenderung hal ini dialami semua orang, termasuk saya, yang biasanya seumur hidup lebaran bersama orang tua, tapi kali ini gak bisa pulang kampung

    Like

    Reply
  3. koy

    Waktu gabut dirumah iseng-iseng liat bookmark di google chrome, ada blog trip to pangandaran hasil tulisan mba, seketika teringat tahun 2010 coba-coba pakai motor ke pantai pangandaran dengan referensi dari blog tsb.
    Saya iseng buka kembali blog ya ternyata sudah pindah kesini dan masih berkarya.
    Mantap mba, hormat saya untuk mba.

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s