Berlebaran ke Belakang Padang, Si Pulau Penawar Rindu

Ini ya, lebarannya kapan, nulis postingannya kapan coba. Kalo kata si Cinta mah “Basi! Madingnya keburu terbit!” :))))

Tapi yah sayang sekali kalo gak ditulis. Setelah sekian lama ingin menginjakkan kaki di Pulau Belakang Padang, akhirnya baru kesampaian di libur lebaran lalu. Pertama dan terakhir kali ke Belakang Padang itu udah lama banget. Saya bahkan lupa persisnya kapan, pokoknya saat itu saya masih kecil banget lah.

Karena itu saya excited sekali ketika diajak Tante lebaran ke rumah temannya di Belakang Padang. Langsung kepikiran ingin buat artikelnya untuk di blog. Belum ditulis-tulis karena tadinya mau nulis cerita lebaran tahun ini dulu. Tapi berhubung kalo nulis cerita lebaran kemungkinan besar saya bakal galau lagi yah, jadi udahlah diskip aja. Saya mau share cerita-cerita bahagia aja. Yang galau-galau mah cukup sebulan sekali di #CeritaTanggal7 huehehehe.

Oke, cukup deh ya preambulenya. Mari kita mulai cerita tentang momen berlebaran di Belakang Padang yang terkenal dengan istilah Pulau Penawar Rindu ini.

Dari Batam ke Belakang Padang dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan laut motor sangkut atau kalo saya sih biasanya nyebutnya ‘pancung’. Harga tiketnya Rp15.000 per orang untuk sekali jalan. Jadi ya modal ke sananya kalo PP sekitar Rp30.000.

DSC05238

Kami naik pancung ini dari Pelabuhan Domestik Sekupang. Ada sebuah pelabuhan kecil yang khusus untuk mengangkut penumpang menyebrang menuju Belakang Padang dan pulau-pulau di sekitarnya.

Pancungnya sendiri kecil dan menurut saya dari segi keamanan masih sangat kurang dibandingkan saat saya naik pancung dari Tanjungpinang ke Pulau Penyengat beberapa waktu lalu. Pancung ke Belakang Padang ini tidak dilengkapi dengan safety vest. Yah ada sih, tapi jumlahnya gak sebanding dengan jumlah penumpang yang naik.

Alhamdulillah perjalanan pulang dan pergi berjalan lancar. Ombak gak begitu tinggi, jadi kurangnya safety vest ini masih bisa ditolerir. Tapi saya tetap berharap sih semoga pemerintah memerhatikan kondisi ini. Karena gimana pun, keamanan penumpang tetap harus jadi prioritas utama, kan?

DSC05240

Salah satu yang bikin saya penasaran dari Belakang Padang adalah menu sarapan pagi yang selalu dicari oleh banyak orang. Beberapa teman saya bahkan seniat itu nyebrang ke Belakang Padang hanya untuk sarapan pagi. Jadilah saya penasaran juga kan ingin cobain langsung.

Tempat sarapan heits di Belakang Padang itu namanya Kedai Kopi Botak. Terletak tidak jauh dari pelabuhan. Begitu keluar pelabuhan dan memasuki area pasar, langsung kelihatan deh itu kedai kopinya. Salah satu menu andalan yang ada di sana (selain kopi tentu saja) adalah mie lendir dan es cendol.

Sayangnya, karena kami kesiangan sampai di sana, kami pun kehabisan menu-menu andalan tersebut huhuhu. Ya gimana, berangkat dari Batam aja udah jam 11. Sampai di Belakang Padang sekitar setengah 12. Udah mau masuk jam makan siang. Sarapan macam apa itu? :)))

Untungnya sih masih ada beberapa menu yang bisa dipesan. Saya pesan Prata Kosong dan Es Gunung.

DSC05281

Prata Kosong (Rp5.000 per keping) + Es Gunung (Rp12.000)

Surprisingly, rasa pratanya menurut saya enak banget lho. Asli deh, sebagai fans prata kosong, saya suka banget prata kosong di Kedai Kopi Botak ini. Pratanya kriuk-kriuk enak, porsinya pun banyak dan kuah karinya nendang sekali rasanya. Harus banget coba deh kalo datang ke Belakang Padang.

Es gunungnya ya oke lah. Saya makin ke sini makin gak doyan minum es sebenarnya, jadi ya bagi saya rasanya sama aja dengan rasa es pada umumnya hehehe. Selain prata kosong dan es gunung, di Kedai Kopi Botak ini juga ada prata telur (Rp10.000 per porsi), dan soto (Rp13.000 per porsi, kalo pake nasi tambah Rp5.000).

DSC05292

Jalanan Belakang Padang saat kami datang ke sana di lebaran hari keempat terasa lengang sekali. Entah warganya lagi pada diem di rumah, atau malah nyebrang ke Batam? Gak tau juga saya hehehe. Tapi melihat jalanan yang lengang gitu justru asik sekali. Karena kadang kita butuh mengasingkan diri ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan.

Di Belakang Padang ini juga, kita gak akan menemukan mobil yang lalu lalang. Karena kendaraan utama warga di sana adalah sepeda, sepeda motor, atau becak. Satu-satunya mobil yang saya lihat selama di sana adalah mobil ambulans milik puskesmas setempat. Selebihnya tidak ada lagi.

Untuk menuju rumah tante saya, kami pun memutuskan berjalan kaki dari pelabuhan. Jaraknya sekitar 2 km. Akan terasa jauh bagi kita yang tinggal di kota dan terbiasa ke mana-mana naik kendaraan bermotor. Tapi saat itu rasanya jalan kaki menjadi sangat seru karena ada banyak hal yang bisa dilihat di sepanjang perjalanan. Salah satunya adalah masjid yang konon merupakan masjid terbesar di Belakang Padang ini.

DSC05337

Masjid At-Taqwa, masjid terbesar di Belakang Padang

Oh ya, saat ke sana saya baru tau lho kalo ternyata Belakang Padang itu masih masuk wilayah kota Batam. Merupakan salah satu kecamatan yang ada di kota Batam. Selama ini mikirnya Belakang Padang adalah pulau sendiri yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Ternyata saya salah ya? Ketauan banget nih gak belajar Geografis dengan baik dan benar hahaha.

Anyway, rumah teman tante saya yang kami kunjungi saat itu bentuknya seperti rumah panggung. Yang terletak di atas laut. Saat kami ke sana, anak-anaknya lagi asik berenang. Udah serasa punya kolam renang alami pribadi deh.

Makanya wajar banget kalo anak-anak pulau itu identik dengan skill berenang yang mumpuni. Ya gimana nggak kan, lah wong rumahnya di pinggir laut, udah pastilah itu pagi siang sore malem berenang terus. Tanpa pelampung pula. Saya pun kalo jago renang rasanya ingin juga nyemplung. :)))

DSC05318

Yuklah yang berkunjung ke Batam, coba sempetin untuk nyebrang dan eksplor Belakang Padang. Saya aja masih penasaran mau ke sana lagi. Masih belum puas karena belum berhasil nyicip mie lendir yang katanya enak itu. Trus belum benar-benar explore keseluruhan pulaunya juga.

Mungkin ini ya kenapa Belakang Padang dibilang Pulau Penawar Rindu. Karena kayanya gak cukup kalo cuma datang sekali ke sana. Bawaannya pasti rindu dan ingin balik lagi. Jadi mari yang lagi merindu, mungkin perlu datang ke Pulau Penawar Rindu ini, agar rasa rindunya terpuaskan. πŸ˜‰

DSC05354

Kamu ada yang pernah ke Belakang Padang juga? Share dong ceritanya di kolom komentar. πŸ™‚

Advertisements

18 thoughts on “Berlebaran ke Belakang Padang, Si Pulau Penawar Rindu

      1. liandamarta.com Post author

        Hahaha. Gak besar-besar banget sih pulau ini. Dan pantainya aku gak tau, karena kemarin cuma di kotanya aja. Mungkin ada pantai di sisi lain pulau yang aku gak tau. Mungkin bang Andrew harus eksplor langsung ke sini huehehe

        Like

        Reply
  1. alaniadita

    Aku juga terakhir kali ke Belakang padang heeem jaman di Smansa dan lagi baksos.
    Jadi belum sempet juga ngerasain nyari sarapan sampe belakang padang.
    Aku bakal kesini untuk sarapan juga nanti kalo ke Batam, kak Li! Muehehee.

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Hahaha maap kak, kemarin sama rombongan dan cuma bentar doang di sananya. Siangan udah balik. Next time deh kalo aku ke sana lagi aku kabari ya, ajak aku keliling Belakang Padang ya 😊

      Like

      Reply
  2. Pingback: 7 Hal Yang Bisa Dilakukan di Pulau Penyengat | liandamarta.com

  3. Pingback: Family Trip ke Pulau Mubut Bawah | liandamarta.com

  4. Pingback: Family Trip ke Pulau Mubut Darat | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s