Trip Edisi Pulang Kampung : Sipirok dan Padangsidimpuan

Long weekend kemarin, saya bersama Abang, ibu mertua, dan tantenya suami, pergi ngetrip ke Sipirok, kampungnya ibu mertua. Sudah lama sebenarnyaΒ Abang mau ngajak saya ke kampung halamannya itu. Dari jaman pacaran, doi udah selalu bilang pengen ngajak saya ke Sipirok. Alhamdulillah ya akhirnya sekarang kesampaian. πŸ™‚

Perjalanan ke Sipirok dari Pekanbaru memakan waktu kurang lebih 10 jam. Kami berangkat jam 8 pagi menggunakan mobil pribadi. Yang nyetir gantian antara Abang dan tantenya.Β 

Dalam perjalanan menuju Sipirok, kami melewati beberapa kota dan kabupaten yang menjadi jalur lintas antara Pekanbaru dan Sipirok. Kota pertama yang dilalui adalah Bangkinang, kemudian Ujung Batu, Pasir Pangaraian dan barulah sampai di perbatasan Riau dan Sumatera Utara. Jalan saat masih di daerah Riau relatif bagus dan mulus. Nah, setelah melewati perbatasan Riau dan Sumatera Utara itulah jalan mulai banyak yang berlubang. Trus jalannya juga sempit karena di kiri dan kanan banyak rumah-rumah warga.

Anyway, awalnya kan saya dan Abang mau pergi berdua aja ya ke Sipiroknya. Tapi batal, karena akhirnya ibu mertua dan tantenya ikutan. Ayah saya juga sempat menyarankan agar kami gak cuma pergi berdua. Setelah melalui perjalanan kemarin, saya bersyukur kami tidak hanya pergi berdua. Karena perjalanan ke Sipirok medannya lumayan sulit. Selain jalan yang berlubang dan sempit, lawannya kebanyakan mobil-mobil besar. Kalo belum pernah ke sana dan belum terbayang medannya, ya bahaya juga.

Kami sampai di Sipirok sekitar jam 7 malam.Β Total waktu tempuhnya berarti 11 jam, termasuk waktu berhenti dua kali untuk makan siang dan sholat.

Trus, apa kesan saya saat pertama kali sampai di Sipirok?

DINGIN BANGET!

Selain suhunya yang 20 derajat celcius, anginnya juga kencang banget.Β Berdiri di luar rumah aja udah bisa bikin menggigil saking dinginnya. Udara dingin di Bandung juga kalahΒ kalo kayak gini mah.

image1Karena sampainya udah malam, jadi malam itu kami gak kemana-mana. Cuma kumpul sama keluarga aja dan makan mie rebus untuk menghangatkan badan! πŸ˜€

Keesokan paginya, kami bersiapΒ untuk ziarah ke makam ompung-ompungnya ibu mertua. Saat saya ke luar rumah, saya melongo aja dong melihat pemandangan Sipirok di pagi hari. Langitnya luarrrr biasa cantik sekali. πŸ™‚

DSC02732Walaupun panas matahari mulai terik, tapi anginnya tetap sejuk. Enak banget deh suasananya. Adem! πŸ™‚

Kami memang tidak berlama-lama di Sipirok, karena siang harinya kami harus ke Padangsidimpuan untuk menyelesaikan urusan lain dan lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Pekanbaru. So, setelah ziarah, kami buru-buru untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tapi sebelum itu, ibu mertua mengajak kami untuk mampir sebentar ke rumah ompungnya.

Rumah ini udah puluhan tahun lho usianya, tapi masih berdiri kokoh. Furniture di dalamnya juga vintage banget. Di rumah inilah dulunya ibu mertua bersama saudara-saudara sepupunya menghabiskan waktu tiap kali liburan ke Sipirok. Mendengar ceritanya sepertinya seru sekali membayangkan kehidupan di kota kecil ini puluhan tahun yang lalu. πŸ™‚

DSC02782Anyway, setelah puas bernostalgia di rumah lama tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Padangsidimpuan. Eh tapi sebelumnya beli oleh-oleh dulu dong. πŸ˜‰

Salah satu oleh-oleh khas Sipirok yang banyak dicari orang adalah Panggelong. Panggelong ini terbuat dari tepung beras yang digoreng dan dibalur dengan gula merah. Di beberapa daerah, Panggelong ini dikenal dengan nama Gemblong. Di salah satu warung di Sipirok, Panggelong ini dijual dengan harga Rp5.000 per 6 biji. Mayan murah ya, gak nyampa seribu satunya hehehe.

DSC02797

Dari Sipirok ke Padangsidimpuan memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan.Β Sesampainya di sana, udaranya langsung berubah drastis hehehe. Padangsidimpuan lumayan panas ya. Tapi ya gak sepanas Pekanbaru sih. Udaranya masih lebih segar dibanding di Pekanbaru, tapi mataharinya bok gak tahan teriknya.

Saya baru tahu, kalo ternyata Padangsidimpuan ini mendapat julukan sebagai Kota Salak. Yes, kota ini memang penghasil salak. Rasa salaknya enak, sepet-sepet manis gitu. Dan lebih ‘crunchy’ sih kalo menurut saya dibandingkan salak pondoh. Harganya juga murah, beli 300rb udah dapat berkarung-karung hihihi.

DSC02852 DSC02857Oh ya, salah satu yang khas juga di Sipirok dan Padangsidimpuan (dan juga di Medan) adalah becak motor!

Kalo di daerah lain biasanya becak itu ditarik pake sepeda, nah kalo di daerah Sumatera Utara ini, becak ditarik dengan sepeda motor. Saya belum nyobain naik sih, mungkin lain kali kalo ke sana lagi saya cobain. Tapi sempat kepikiran gara-gara lihat becaknya yang kicik, kalo saya duduk berdua si Abang di dalamnya, bakalan muat gak yaaa? πŸ˜†

DSC02862Liburan singkat saya dan Abang ke Sipirok kemarin benar-benar jadi pengalaman baru buat saya. Selain karena ini jadi kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sipirok, liburan ini juga jadi kesempatan saya untuk mengenal lebih jauh tentang silsilah keluarga Abang, terutama dari pihak ibu mertua. Nambah informasi-informasi baru deh hehehe.

Dan saya jatuh cinta sama keindahan langit di kota Sipirok. Karena udaranya masih segar banget dan polusi masih minim, jadi langitnya bisa indah banget gitu yah. Di perjalanan pulang ke Pekanbaru, sekali lagi sayaΒ diperlihatkan keindahan langit kota ini di penghujung senja. Masya Allah. πŸ™‚

DSC02870Well, itu cerita liburan singkat saya saat long weekend minggu lalu. Kalo kamu, long weekendnya ngapain aja? πŸ™‚

Advertisements

56 thoughts on “Trip Edisi Pulang Kampung : Sipirok dan Padangsidimpuan

  1. alrisblog

    Cukup dingin ya. Mungkin karena di daerah ketinggian dan alamnya masih lumayan terjaga. Coba kalo udah ditebang pohonnya semena-mena dan banyak penduduk pasti panas kayak Bandung, 😦

    Like

    Reply
  2. Beby

    Aku pas long weekend main sama Mbak Noni full time.. Hahah.. πŸ˜€

    Enak ya di Sipirok, Mbak? Aku belom pernah lah ke sana.. Kalok dari Medan bingung jugak naik apa, kecuali travel atau mobil pribadi.. Langit di sana keren yak.. :3

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Asiknyaaa.. Pergi ke belawan yah sama mba noni?

      Enak, adeeem hehe. Maklum ajah pekanbaru kan super panas dan udaranya ga segar, jadi aku norak banget pas lihat langit keren begitu di Sipirok :)) iya kalo dari Medan harus naik mobil pribadi ya. Waktu tempuhnya sama kayak dr Pekanbaru ke Sipirok. Sama2 10 jam kan.

      Like

      Reply
      1. Beby

        Hihihi.. Iya, Mbaaak.. πŸ˜€

        Iyaaa.. Pekanbaru emang panas. Gitu ketemu yang dingin-dingin jadi langsung bahagia gitu ya.. Hahah.. πŸ˜€ Adek sepupu ku yang tinggal di Pekanbaru aja pas aku ajak ke Berastagi langsung sumringah gitu dia. Wkwkwk πŸ˜›

        Like

        Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Mayan pegel duduk di mobil, Haya. Apalagi jalan agak jelek jadi kejedut mulu :))

      Ah kamu kan walau di rumah aja tapi berkarya teruuus.. Ya masak, ya crafting. Keren! πŸ™‚

      Like

      Reply
  3. Hengki

    Long weekend? Kapan ya? Waduh, saya ketinggalan liburan ya. :’D

    Kalau pulang kampung, kejauhan. Beda pulau soalnya. Lihat salaknya saya jadi semakin ingat dengan kampung halaman sendiri. Kalau pulang, pasti disuguhi salak.

    Like

    Reply
      1. Fahmi (catperku)

        Kampung halamannya di Blitar, Jawa timur, Kalau main ke blitar bilang saja, nanti bisa mampir ke rumah πŸ˜€ Long weekend kemarin rasanya kecapekan banget euy, jadi milih stay di home aja πŸ˜€

        Like

        Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Wow, 32 derajat celcius mba? Panas banget yaaa.. Tapi udara di sana masih segar ya jadi langitnya cerah. Kalo di Pekanbaru udah kena polusi asap mbaaa makanya langitnya rada butek warnanya 😦

      Like

      Reply
  4. Pingback: Menyusuri Sudut Kota Sipirok | liandamarta.com

    1. liandamarta.com Post author

      Wah, emaknya tinggal di Pekanbaru juga? Asik dong kapan2 bisa kopdaran kita πŸ™‚ Kemarin ke Tapanuli Tengah lewat mana mak? Lewat arah Ujung Batu-Pasir-DaluDalu juga kah? πŸ™‚

      Like

      Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Iya dalam rumahnya masih rapi banget mak. Rajin dibersihin juga sama yang jaga rumah. πŸ™‚
      Hawa di Sipirok dan Brastagi sama-sama dingin, tapi katanya Brastagi lebih dingin sih mak πŸ˜€

      Like

      Reply
  5. Gara

    Waah, langitnya, aduhai indahnya. Keren, keren! Bagus sekali, birunya, terus semburat jingga itu, kok ya di Jakarta sini tidak ada yang seindah itu (ya iyalah ya :haha).
    Sipirok ini di dataran tinggi ya Mbak, kalau dinginnya sampai sebegitunya. Ada kabut jugakah di sana? Kalau subuh atau malam, orang bicara di luar rumah, sampai berasapkah uap air dari mulutnya? :hihi.
    Bagus sekali kota-kota ini :)).

    Like

    Reply
              1. liandamarta.com Post author

                Yoaaa.. Sampe-sampe dulu kalo lagi main ke Blok M Square trus mau balik ke kostan, sering ditolak sama supir bajaj yang males ke Kemang gara-gara macet :’))

                Nanti atuh ya aku ke Jakarta kita kopdaran πŸ˜›

                Liked by 1 person

  6. Pingback: Backpacker Story : Dari Singapore ke Kuala Lumpur | liandamarta.com

  7. Pingback: #NgobrolinPekanbaru Eps. 2 : Beragam Cara untuk Datang ke Pekanbaru | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s