Menyusuri Sudut Kota Sipirok

Saya ini bisa dibilang gak punya kampung halaman. Dulu saat masih di Batam, ‘kampung’ bagi saya itu ya Pekanbaru (kota asalnya mama) dan Tanjung Pinang (kota asalnya ayah). Tapi yah tetep aja beda dong ya definisi kampungnya. Karena dalam bayangan saya, kampung itu identik dengan suasana yang sejuk, lingkungan yang masih asri dan belum banyak kendaraan bermotor, dan ada perkebunan atau sawah. Pokoknya kota kecil atau pedesaan gitu deh.

Makanya saya selalu excited setiap kali dibawa jalan-jalan ke kota kecil atau desa, karena saya akhirnya bisa melihat ‘kampung’ yang selama ini seperti ada di dalam bayangan saya.

Lebaran tahun lalu saya dan keluarga pergi ke Sumatera Barat, tepatnya ke Batusangkar. Suasananya masih asri banget deh. Seru! Tapi tetap ada yang kurang, karena momennya momen liburan, bukan pulang kampung hehehe.

Sampai akhirnya minggu lalu, suami ngajak saya pulang kampung ke kampung ibunya di Sipirok. Sejak jaman pacaran doi udah pengen ngajakin saya ke sana dan selalu bikin mupeng dengan ngirimin foto-foto kalo lagi pulang kampung. Saya kan jadi makin mupeng hahaha.

Seperti yang saya ceritain di postingan ini, kami sampai di Sipirok udah malam, sekitar jam 7 malam. Di sana udah gelap dan gak kelihatan apa-apa. Suasana malam di Sipirok memang beda banget dengan suasana malam di kota-kota besar. Di Sipirok, jam 7 malam aja udah lumayan sepi dan gelap banget. Beberapa rumah pencahayaannya masih seadanya, toko-toko udah pada tutup, supir-supir angkutan umum pun mulai pulang ke rumah masing-masing. Yang saya lihat sih ada beberapa warung yang masih buka.

Kebanyakan warga memang sudah pulang ke rumah masing-masing sejak jam 7 malam, kecuali kalo memang lagi ada acara tertentu di luar rumah ya. Waktu saya datang kemarin, di sekitaran rumah sakit umum lumayan rame karena ada yang meninggal, jadi beberapa warga berkumpul di sana sambil menghangatkan badan dengan api unggun. Asik kali ya duduk di depan api unggun dan menghangatkan badan dari udara dingin kota Sipirok (20 derajat celcius bok suhunya hehe).

Nah, sekitar jam 10 malam, di area pasar mulai rame lagi. Banyak mobil-mobil travel menunggu penumpang yang mau pergi ke Pekanbaru atau Medan. Mobil-mobil travel ini memang sering jalan di malam hari dan beriringan satu sama lain.

Pagi hari saat ke luar rumah dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Padangsidimpuan, saya dibuat terkagum-kagum dengan keindahan langit Sipirok. Warna birunya cerah bangettt. Pertanda udara di sana juga masih segar dan jauh dari polusi ya. Beda deh sama warna langit Pekanbaru yang udah terkontaminasi dengan asap dan seringkali berubah warna jadi abu-abu butek. 😦

Well, mumpung ada kesempatan lihat langit biru yang cantik, saya foto-foto deh sampai puas. 🙂

Di Sipirok ini sepertinya komposisi umat muslim dan kristianinya seimbang ya. Karena jumlah masjid dan gereja juga hampir sama banyaknya. Satu hal yang keren adalah kebanyakan masjid dan gereja itu letaknya berdampingan. Katanya sih, toleransi antar umat beragama di Sipirok ini sangat tinggi sekali. Masyarakatnya hidup rukun satu sama lain. Keren, ya. 🙂

Anyway, ini Masjid Raya Sipirok yang juga merupakan masjid tertua di sana :

DSC02791Mayoritas masyarakat Sipirok bekerja sebagai petani. Jika kita keliling ke rumah-rumah warga, kita akan melihat warga yang sedang menjemur padi di depan rumah masing-masing.

Selain bertani, warga juga berkebun dan menjual hasil kebunnya ke pasar. Selain itu dulunya di Sipirok ini juga terkenal dengan kopinya, tapi kemarin saya gak sempat nemu kopi Sipirok yang legendaris itu. Gak cuma kopi, di sana juga banyak yang menanam pohon cokelat lho. Pagi-pagi sebelum pergi jalan, saya melihat sepasang suami istri yang jaga rumah tantenya Abang lagi asik menjemur cokelat. Asik ya, bisa punya pohon cokelat sendiri, gak perlu beli cokelat di luaran lagi hihihi.

DSC02759 DSC02735Ada banyak sudut kota Sipirok yang bisa diexplore. Tapi jangan lupa mampir ke pasarnya ya, karena pasar ini menjadi salah satu titik awal pembangunan kota Sipirok. Zaman dulu juga di pasar inilah pusat semua kegiatan masyarakat di sana. 🙂

DSC02813Di Sipirok juga ada sebuah sekolah menengah yang terkenal. Masyarakat menyebut sekolah ini dengan SMA Plus. Katanya sih, sekolah ini dulu dibangun oleh beberapa menteri (saya lupa siapa aja menterinya hehe). Tapi yang bikin sekolah ini makin keren, karena letaknya di atas bukit!

Ibu mertua pun mengajak saya ke sana untuk melihat pemandangan dari lingkungan sekolah tersebut. Saya naksir banget sama model-model rumah gurunya. Iya, jadi guru dan murid memang disediakan rumah dan asrama untuk tinggal di sana. Nah rumah guru dan hampir keseluruhan bangunan di sana, dindingnya dari bata merah. Kayak rumah-rumah di luar negeri. Cakep banget! Sayangnya model rumahnya gak sempat saya foto, cuma foto pemandangannya aja.

DSC02826Selain ke SMA Plus, ibu mertua juga mengajak saya masuk ke salah satu hotel di Sipirok yang juga memiliki pemandangan keren. Hotel ini menyediakan kamar dalam bentuk cottage dan cottagenya dibuat dengan model rumah adat Tapanuli Selatan. Cakep deh. Kapan-kapan mau ah nginap di sana. *colek suami* 😛

DSC02848 DSC02846

Anyway, kalo udah sampai di suatu kota, gak sah dong ya kalo gak nyobain makanan khas di kota tersebut. Nah, kalo di Sipirok salah satu cemilan khasnya bernama Panggelong. Terbuat dari tepung beras yang digoreng kemudian disiram dengan gula merah cair. Enak! Paling enak dimakan saat masih panas. 🙂

Kalo mau beli Panggelong di Sipirok, bisa mampir ke salah satu toko oleh-oleh di Jalan Tarutung, Panggelong Apri Hasibuan. Kita bisa lihat langsung lho proses pembuatan Panggelong ini karena langsung masak di sana. Proses masaknya juga masih tradisional banget. Pake tungku! Saya yang jarang-jarang lihat orang masak pake tungku langsung semangat pengen lihat. Ealah, yang ada mata perih kena asap hihihi.

DSC02793 DSC02798Selain panggelong, di sana juga ada jual kue-kue basah lainnya, seperti kue talam, nagasari, dll. Favorite saya ya si kue talamnya. Enak banget! 😀

Kalo mau keripik-keripikan juga ada. Mulai dari keripik keladi dan keripik sambal taruma yang juga jadi jajanan khas kota Sipirok. Pengen nyobain semuanya dehhh. 🙂

DSC02799

Kue Talam

DSC02796

Keripik dan Aneka Kue Basah

DSC02795

Panggelong

***

Anyway, setelah baca postingan ini, jadi tertarik jalan-jalan ke Sipirok gak? 😉

Advertisements

44 thoughts on “Menyusuri Sudut Kota Sipirok

  1. Gara

    Tentulah saya mau menyambangi kota yang sudah saya idolakan sejak kecil ini, karena saya ingin membuktikan langsung, merasakan langsung, suasana di kota yang merupakan setting roman pertama di Indonesia, Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar, Mbak. Menyesap makna cerita di tempat cerita itu terjadi, pasti akan meninggalkan berjuta kesan yang bisa menjadi cerita baru :)).

    Like

    Reply
  2. dani

    Subhanallah Liii, baca ceritanya dan lihat fotonya aja udah bikin mupeng pengen ke sana. Suhu 20 dercel tanpa ac. Huiii kebayang asrinya itu kotaaa…….

    Like

    Reply
  3. HM Zwan

    penasaran banget….ke Padang aja belum kesampaian hehehe. asik ya mbk,bener2 di kampung,apalagi kalau udah lihat warga njemur padi hehe.penasaran sama panggelongnya >_<

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Nanti kalo anak2 libur sekolah, ajakin jalan2 mbak ke Padang trus ke Sipirok juga hehehe.

      Panggelong itu kalo di Jawa katanya namanya Gemblong mbak. Udah pernah makan kah?

      Like

      Reply
  4. alrisblog

    Dulu waktu balik dari Medan lewat Sipirok, cuma lewat aja, 🙂
    Saya suka alam yang masih asri itu. Oh, senangnya lihat pemandangan dari sekolah plus itu.

    Like

    Reply
  5. Hastira

    memang alam sumbar itu mempesona, aku senang saat bisa ke sana . Aku kepincut dengan alamnya dan ingin kembali ke sana

    Like

    Reply
  6. Beby

    Aku jatuh cinta sama langitnya. 😀 Beneran bagus yah. Kalok di Medan sendiri jarang banget langit sebagus itu. Biasanya butek. Hihihi.. 😛

    Kue talam sering ada di sini Mbak, apalagi kalok acara wirit atau pengajian gitu 😀

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Medan juga udah mulai padat sama kendaraan bermotor ya Beb, jadinya polusi juga.

      Ih aku mau dong nanti ke Medan makan kue talam juga. Eh kalo aku ke Medan kita kopdar ya 😀

      Like

      Reply
  7. nindya

    Liat tautan link di fb, tadinya kukira itu reruntuhan dataran eropa mana gitu :v wah enak banget tuh kalo jadi murid di SMA Plus. Abis penat belajar, langsung liat pemandangan bikin sejuk kepala 😀
    ohiya, salam kenal mak, saya blogger baru 🙂

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Semacam di Eropa ya mak hihihi. Iya, asik banget yang di SMA Plus itu, dan mereka kan juga tinggal di sana, jauh dari hiruk pikuk kota, jadi belajarnya bisa lebih fokus ya. 🙂

      Salam kenal kembali mak Nindya 🙂

      Like

      Reply
  8. Asmar Wiranto

    hehe, kampung ane, izin download fotonya mbak, mua saya masukkan ke blog saya. Soalnya blog saya juga tentang Sipirok juga.

    Like

    Reply
  9. marihot sipirok

    Dari cerita mbak…ada yg terlewat pemandian umum Aek milas sosopan (pemandian air panas alami dari gunung berapi sibual-buali . Klo sudah berendam disana pasti betah ..

    Like

    Reply
  10. Palti Doro

    Wah, dahsyattt pemandangannya. Kemaren saya ngelawati batang toru trus marancar, bulumario dan sipirok tembus ke sidempuan. Alam pegunungan yang luar biasa alami. Ada juga air panas sebelum bulu mario. Sempat berendam di air panas sosopan pas waktu itu lagi gerimis. Tambah asyiiik mandinya.

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s