Wisata Kuliner di Bukittinggi – Rekomendasi Sarapan, Makan Siang, dan Makan Malam

Tidak lengkap rasanya jika pergi ke Sumatera Barat tanpa berwisata kuliner. Itu juga yang saya dan keluarga lakukan saat liburan dadakan ke Bukittinggi di akhir tahun lalu. Kami bahkan sengaja tidak menikmati sarapan yang disediakan oleh pihak hotel, karena mau mencari sarapan enak rekomendasi dari tetangga sebelah rumah yang asli orang Bukittinggi.

Di tulisan ini saya akan berbagi cerita tentang menu sarapan, makan siang, dan makan malam yang saya icip selama di Bukittinggi kemarin ya. Semoga bermanfaat untuk yang sedang merencanakan liburan ke sana. πŸ˜‰

Sarapan : Pical Ayang

Pical Ayang berlokasi di dekat pasar simpang ngarai, atau tepatnya di jalan Simpang Atas Ngarai No. 37, Bukittinggi. Jaraknya sekitar 700 meter dari hotel tempat saya menginap. Konon katanya, Pical Ayang ini sudah dikenal sejak tahun 1975 dan memang menjadi salah satu tempat sarapan yang ramai dikunjungi, baik oleh warga setempat maupun wisatawan. Lokasi sarapan yang satu ini udah buka dari jam 6 pagi. Jika sedang di Bukittinggi saat akhir pekan atau di musim liburan, pastikan kamu datang ke Pical Ayang sepagi mungkin ya, karena makin siang akan makin rame dan bisa keabisan menu-menu andalan mereka.

Pagi itu, sambil menikmati udara pagi Bukittinggi yang sejuk dan berkabut, saya berjalan kaki ke Pical Ayang untuk sarapan. Mama, tante, dan adik-adik sudah lebih dulu sampai di sana. Saya menyusul karena harus menyelesaikan proposal penelitian yang menjadi syarat ujian akhir semester salah satu mata kuliah yang saya ambil.

Sesuai namanya, menu utama yang dijual di Pical Ayang ini adalah pical atau pecel. Tapi karena saya merasa kalo makan pecel di pagi hari terlalu berat, jadi saya pun memutuskan untuk memesan bubur kampiun. Seporsi bubur kampiun harganya Rp7.000. Dengan porsi yang cukup banyak, menurut saya harganya murah dan wajar.

Sepiring bubur kampiun berisi bubur candil, bubur sumsum, lopis, dan bubur ketan hitam pun sampai di hadapan saya. Iya, saya request gak pake bubur kacang hijau karena gak suka. πŸ™‚

Tanpa menunggu lama, saya pun langsung mencoba si bubur kampiun ini. Dan rasanya…….. ENAK SEKALI, PEMIRSA! 😍😍😍

Bagi saya, kekenyalan si bubur candilnya tuh pas. Kombinasi rasa manis dan gurih dari lopis, bubur sumsum, bubur candil, dan bubur ketan hitam ini tuh pas sekali. Enak dan gak bikin eneg. Semangkuk gitu sih udah cukup kenyang menurut saya. Jadi porsinya benar-benar pas dan cocok untuk sarapan. ❀️

Saking sukanya, hari kedua di Bukittinggi, saya dan keluarga sarapan di Pical Ayang lagi hahahaha. Saya pesan bubur kampiunnya lagi karena enak banget. Terbayang-bayang terus rasanya. Oh ya, di kunjungan kedua ini, saya juga pesan lontong sayurnya. Ini rekomendasi salah seorang teman yang bilang lontong sayur di Pical Ayang tuh enak.

Setelah dicoba, wah iya enak. Rasanya ya seperti lontong sayur pada umumnya. Tapi karena ini dia pake lontong kacau, jadi tekstur lontongnya tuh lembut gitu, sesuai dengan selera saya. Porsinya juga gak terlalu banyak, jadi pas di perut. Harga lontong sayur dengan telur ini adalah Rp9.000.

Udah di Pical Ayang kok malah gak cobain picalnya? Yah maaf ya, saya jadi gak bisa cerita deh gimana rasanya si pical ini. Saya juga belum pernah sih makan pical di Bukittinggi, jadi gak bisa mendeskripsikannya. Kalo kata adik saya yang udah cobain sih rasanya pedas. Mungkin bisa request untuk bikin yang gak terlalu pedas kali ya. Selain pical, bubur kampiun, dan lontong sayur, di Pical Ayang juga ada aneka jajanan pasar. Saya juga coba beberapa dan rasanya pun enak-enak semua. Luv deh! Kayanya kalo nanti ke Bukittinggi lagi, saya gak akan bosan-bosan sih makan di sana. πŸ₯°

FYI, selain Pical Ayang, di Bukittinggi juga ada yang namanya Pical Sikai. Ini salah satu yang terkenal juga. Tapi kalo dari cerita tetangga saya yang asli orang Bukittinggi, di Pical Sikai ini menunya hanya pical aja. Sedangkan di Pical Ayang ada berbagai menu yang bisa dipesan. Kalo info saya ini salah, tolong dikoreksi ya, teman-teman. Saya juga belum pernah ke Pical Sikai nih soalnya. 😊

Makan Siang : Nasi Kapau Uni Linda

Sebenarnya, menu makan siang pertama yang saya dan keluarga icip saat liburan kemarin adalah di sebuah rumah makan yang kami temui dalam perjalanan dari Bandara Minangkabau ke Bukittinggi. Saat itu kami pasrahkan pilihan tempat makan ke supir travel, karena mereka pasti lebih tau ya mana yang enak. Tapi sayangnya, tempat yang kami kunjungi tersebut pelayanannya kurang ramah dan saat kami datang, makanan pun udah banyak habis. Jadi saya skip aja ya, tidak saya ceritakan lebih detail.

Di hari kedua, saya dan keluarga yang pergi ke Puncak Lawang berencana akan makan siang di Itiak Lado Mudo Ngarai. Kami bergerak dari Puncak Lawang sekitar jam setengah 2 siang, sampai di Itiak Lado Mudo Ngarai jam setengah 3 dan ternyata… SUDAH HABIS, SAUDARA-SAUDARA! Huhu sadddd deh. Padahal sepanjang jalan udah terbayang-bayang tuh nikmatnya makan siang dengan itiak lado mudo huhu. 😒

Karena perut udah lapar dan gak bisa mikir, saya pun menyerahkan ke abang driver untuk membawa kami ke tempat makan siang yang enak. Hingga akhirnya, sampailah kami di Nasi Kapau Uni Linda yang berlokasi di jalan Setiabudi, tidak jauh dari monumen Bung Hatta.

Karena sampainya udah hampir sore, pilihan lauknya pun udah terbatas dan tampilannya juga udah berantakan. Tapi yang saya suka dari tempat ini adalah, uni-uninya ramah sekali. Benar-benar menyambut dengan senyum dan sabar saat kami bertanya ini itu. Luv deh! ❀️

Salah satu ciri khas dari nasi kapau di Bukittinggi adalah lauknya ditaruh di baskom-baskom alumunium seperti foto di atas dan uni-uninya akan mengambil dengan sendok centong. Kita tinggal pilih aja mau pake lauk apa. Saya saat itu memilih lauk ayam bumbu. Uninya pun mengambilkan sepiring nasi, ayam bumbu, lalu memberikan potongan dendeng kering, daun pucuk ubi, sambal cabai merah, bumbu rendang, dan kuah gulai. Kalo kamu seperti saya yang tidak terlalu suka makan nasi padang dengan kuah gulai yang banyak, jangan lupa request ya minta kuahnya sedikit aja.

Saya lupa euy foto penampakan nasi kapaunya. Seporsinya lumayan banyak seperti makan nasi Padang yang dibungkus. Mengenyangkan sekali deh! Soal rasa, jujur saya susah mendeskripsikan rasa nasi Padang. Ya enak lah ya pastinya, apalagi ini cita rasanya khas dari tanah Minang. Harga nasi kapau dengan 1 lauk seperti yang saya pesan itu sekitar Rp30.000.

Oh ya, beberapa tahun lalu saya dan Abang juga pernah makan nasi kapau di dalam Pasar Ateh. Namanya, Nasi Kapau Uni Lis. Konon ini salah satu yang terkenal juga. Tapi saya gak tau, masih ada atau ngga ya? Karena tampilan Pasar Atehnya sendiri udah berubah sekali. Yang mau baca ceritanya, bisa baca di postingan yang berjudul Dari Warung Tenda, Sate Mak Syukur, sampai Nasi Kapau Uni Lis.

Makan Siang : Itiak Lado Mudo

Di hari ketiga, sebelum memulai perjalanan dari Bukittinggi ke Pekanbaru, kami pun kembali ke itiak lado mudo untuk makan siang. Alhamdulillahnya travel yang kami pilih bersedia untuk berhenti sebentar di tempat makan. Jadi, keinginan makan itiak lado mudo pun akhirnya bisa terealisasi yeayyy! Anyway, yang mau tau informasi tentang travel Bukittinggi ke Pekanbaru yang saya gunakan ini, silakan baca di tulisan ini ya.

Kami sampai di rumah makan Itiak Lado Mudo Ngarai sekitar jam 1 siang. Saat itu pengunjungnya sudah cukup rame. Tersisa 1-2 meja saja yang masih kosong. Kami pun memilih meja yang berada di area luar dan langsung memesan 6 porsi itiak lado mudo dan 2 bakul nasi. FYI, menu di rumah makan ini hanya itiak lado mudo aja ya gengs. Kemarin ada sih disajikan cincang daging juga, tapi sepertinya hanya itu saja yang bukan itik. Selain itu, disajikan pula acar timun yang segar dan menambah kenikmatan makan siang.

Sebuah tips dari saya untuk kamu yang baru mau mencoba pesan itiak lado mudo. Pesan yang bagian dada aja ya. Karena dagingnya biasanya lebih banyak daripada bagian paha. πŸ‘ŒπŸ»

Rasanya gimana? DUH ENAK BANGET BANGET BANGET. Gurih dan pedasnya tuh benar-benar enak sekali. Pedasnya sih pedas banget ya kalo kata saya, karena ini pake cabe hijau. Tapi percayalah, makan itiak lado mudo tuh bisa sampai merem melek saking enaknya hahaha. Susah banget dideskripsikan dengan kata-kata karena benar-benar enak sekali. Enak level saya ngomong “duh enak banget” terus selama makan dan sekarang membayangkannya aja bikin ngences. πŸ˜‚

Daging itiknya lembut, gak alot sama sekali. Bumbunya juga meresap banget jadi enak bangetlah udah haha. Coba hitung deh tuh berapa kali saya bilang enak. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Harga seporsi itiak lado mudo ini adalah Rp35.000 di luar nasi putih. Nasinya dihitung per bakul, kalo tidak salah harganya Rp16.000 deh per bakul. Satu bakul bisa 4-5 orang karena porsinya cukup banyak.

Kalo kamu ke Bukittinggi dan suka makan bebek atau itik, WAJIB BANGET BANGET BANGET cobain Itiak Lado Mudo Ngarai ini. Jangan sampai salah lokasi ya, cek di google maps namanya “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai”. Karena dulu saya pernah salah lokasi trus zonk banget karena itiaknya alot dan gak enak. Jadi pastikan kamu makan itiak lado mudo di tempat aslinya, karena rasanya SEENAK ITUUUU GAESSS. πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

Saking enaknya sampai dibungkus bawa pulang ke Pekanbaru trus besoknya diolah jadi nasi goreng duh nikmatnya tiada tara. ❀️

Makan Malam : Sate Danguang-Danguang dan Es Tebak

Malam pertama di Bukittinggi, saya dan keluarga jalan ke Jam Gadang. Sampai di sana ternyata rame banget banget banget. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berjalan menjauh dari Jam Gadang. Setelah beberapa menit berjalan kaki, kami menemukan sederet warung tenda yang menjual beraneka makanan dan minuman.

Satu warung tenda yang menarik perhatian saya adalah Tenda Sate dan Es Tebak Danguang-Danguang Khas Payakumbuh. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mengajak Mama, tante, dan adik-adik untuk makan di warung tenda itu. Karena sate danguang-danguang tuh adalah sate Padang favorit saya! ❀️

Cerita sedikit ya, dulu di Pekanbaru saya punya langganan sate danguang-danguang yang enak banget. Saking enaknya sampai saya dan Abang memutuskan untuk menghadirkan sate tersebut di acara pernikahan kami. Ceritanya pernah saya bagikan di tulisan ini.

Kembali ke warung sate danguang-danguang dan es tebak di Bukittinggi, saya pun memesan satu porsi sate dan es tebak. FYI, kalo sate danguang-danguang tuh identik dengan warna kuahnya yang kuning, beda dengan sate Padang lain yang kuahnya berwarna merah. Saya kurang paham juga sih bumbunya ada apa aja, kalo ada yang tau tulis di comment ya! 😊

Rasa sate danguang-danguangnya… ENAKKK SEKALIII! Bumbu di dagingnya meresap banget, jadi makan dagingnya aja tuh udah enak banget. Dicampur dengan kuah dan ketupatnya wah makin enak. Lagi-lagi definisi makanan enak menurut saya tuh, kalo lagi membayangkannya aja udah bikin menelan ludah. Meski sate ini aslinya berasal dari Payakumbuh, tapi ternyata di Bukittinggi kita tetap bisa menemukan sate danguang-danguang seenak ini lho! ❀️

Kalo es tebaknya, bagi saya sih enak-enak aja ya haha. Segar dan manisnya pas. Isinya tuh ada cendol, roti tawar, kelapa serut, dan lain-lain. Dulu saya pertama kali mencoba es tebak tuh di Bandung, tepatnya di terminal Damri Dipati Ukur. Di sana ada sebuah warung tenda yang menjual sate dan es tebak. Dalam ingatan saya, rasa es tebak yang saya coba di Bukittinggi ini bahkan lebih enak dari es tebak yang di Bandung itu. πŸ‘ŒπŸ»

Harga seporsi sate danguang-danguang adalah Rp18.000 dan harga es tebaknya Rp10.000. Cukup terjangkau lah ya. πŸ™‚

Snack : Opak Kuah Padang

Salah satu makanan yang ingin saya makan selama di Bukittinggi adalah… opak kuah Padang di Jam Gadang. Saya gak tau nama aslinya apa, tapi saya menamakannya seperti itu hihi. Ini adalah kerupuk opak yang diberikan kuah sate Padang dan bihun. Dulu saya sering makan opak ini di Masjid An-Nur Pekanbaru kalo abis jogging sore dan terakhir kali makan tuh 5 tahun lalu di Jam Gadang.

Jadilah di malam pertama ketika kami memutuskan jalan kaki ke Jam Gadang, yang dicari pertama tuh ya opak ini. Tapi entah perasaan saya aja atau gimana, saya merasa penerangan di Jam Gadang makin minim ya? Gelap sekali sehingga jadi sulit melihat ke sekeliling. Bahkan saya sampai harus menyalakan senter di handphone karena khawatir terjerembap mengingat kawasannya yang sekarang berundak-undak.

Awalnya saya sempat kesulitan mencari si opak ini dan udah gak mood juga sih sebenarnya melihat keramaian di Jam Gadang. Lalu tiba-tiba kami melihat seorang ibu-ibu yang berjualan opak lagi duduk sendiri. Ya sudah, kami coba samperin dan beli opaknya. Harganya Rp5.000 dan sayangnya rasanya biasa saja. Bahkan kurang enak menurut saya, karena kerupuknya hambar dan bumbu kuahnya kurang terasa. πŸ˜”

Kuahnya juga kurang kental dan kurang Padang banget sih menurut saya. Tapi ya akhirnya habis juga sih karena sayang kan udah dibeli. Nanti deh kalo ke Bukittinggi atau ke Pekanbaru lagi, saya niatkan untuk makan opak ini lagi. 😊

Rasa aslinya tuh harusnya kerupuknya kriuk dan terasa gurih, berpadu dengan kuah kental pedas khas kuah sate Padang dan bihun yang berbumbu enak. Kerupuknya juga bukan yang tebal banget seperti yang saya beli di Bukittinggi ini. Cenderung tipis, jadi nanti lama kelamaan dia akan lembek gitu karena kena kuahnya. Duh enak banget lah jajanan satu ini, saya bisa habis 2 hahaha. Ada yang suka opak gini juga gak sih? πŸ˜†

***

Segitu aja cerita kuliner saya selama di Bukittinggi. Di malam kedua, saya dan adik-adik tiba-tiba ingin makan KFC. Lalu kami kecewa karena ternyata nasi KFC di Bukittinggi tuh dari beras Padang yang mana jadinya mudah terurai gitu (bukan model nasi pulen seperti nasi KFC pada umumnya). Jadi gak berasa lagi makan KFC deh. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Oh ya, salah satu teman saya juga ada yang memberikan rekomendasi kuliner yang harus dicoba di Bukittinggi. Tapi sayangnya gak ada satu pun yang sempat saya cobain. Ada pisang panggang hm zein (beberapa waktu lalu lihat Instagram Story teman yang lagi makan pisang ini duh jadi ngiler!), mie ayam bukik apik di bawah jembatan limpapeh, dan pical sikai. Insya Allah nanti kalo ada rezekinya ke Bukittinggi lagi, semoga saya bisa cobain semua itu ya.

Kalo teman-teman ada yang punya rekomendasi lain untuk menu sarapan, makan siang, makan malam, atau cemilan dan jajanan di Bukittinggi, tulis di comment ya!

5 thoughts on “Wisata Kuliner di Bukittinggi – Rekomendasi Sarapan, Makan Siang, dan Makan Malam

  1. Muhammad Catur Nugraha

    Pical ayang emang juaranya kalau buat sarapan di Bukittinggi. Harganya murah, rasanya enak.

    Kalau Itiak Lado Mudo, selain yang dibawah turunan itu, sebenarnya banyak yang nyediain. Ada di warung yang di tepian sungai Ngarai itu. Menurut saya lebih asik suasananya dan yang jamu juga lebih ramah.

    Nasi Kapau Uni Lis masih eksis di Pasar Lereng.

    Like

    Reply
  2. Pingback: Destinasi Wisata di Bukittinggi | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s