Kenal Lebih Dekat dengan DPR RI

Ibarat kata pepatah “tak kenal maka tak sayang..”, karena itulah saya akhirnya memutuskan untuk ikutan kopi darat blogger dan netizen bareng DPR RI pada hari Rabu (24/8) kemarin.

Acara kopi darat blogger dan netizen ini adalah inisiatif dari Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI dan DPR RI. Harapannya, blogger dan netizen dapat menyampaikan informasi tentang DPR RI kepada masyarakat.

Poin utama yang dibahas dalam acara ini adalah mengenai fungsi legislastif DPR yaitu membuat dan mengesahkan UU (Undang-Undang). Karena banyak masyarakat (termasuk saya) yang belum benar-benar memahami proses pembuatan UU yang dimulai dari pembuatan RUU (Rancangan Undang-Undang) hingga akhirnya UU tersebut disahkan.

DSC00287-1

Acara ini dimulai pukul 1 siang dan terdiri dari beberapa rangkaian acara. Yang pertama adalah pengenalan legislasi dan parlemen oleh Sekretaris Jenderal DPR RI, Ibu Winantuningtyas Titi Swasany. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan bahwa dari tahun ke tahun, DPR RI terus berbenah diri.

Sejak tahun 2014, DPR RI berkomitmen untuk menjadi parlemen yang modern, dengan indikator penilaian seluruh pegawai mampu bekerja setiap waktu. Selain itu hal-hal lain yang juga menjadi indikator dari parlemen modern ini adalah penggunaan teknologi dan penyebaran informasi yang mudah diakses oleh banyak orang.

Komitmen tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menjawab arus globalisasi, tantangan teknologi, dan juga tuntutan dari masyarakat akan keterbukaan kerja DPR RI. Karena itulah saat ini DPR RI telah memiliki beberapa akun social media seperti twitter, instagram, facebook, dll untuk menjawab tuntutan tersebut.

Dan sebenarnya DPR RI sudah sejak lama berusaha terbuka kepada masyarakat. Salah satunya dengan diadakannya rapat terbuka yang bisa disaksikan langsung oleh siapa saja. Hmm, saya belum pernah sih lihat rapat anggota DPR RI secara langsung. Biasanya cuma lihat di TV saja. 😀

Setelah sesi pengenalan selesai, seluruh peserta kopi darat diajak berfoto bersama di depan gedung MPR/DPR RI. Duh, selama ini cuma bisa lihat di TV doang atau lihat dari jalan saat melintas di depannya, eh kemarin saya bisa foto-foto di sana lho. *norak*

Foto Bareng

Sumber Foto : Twitter @DPR_RI

Acara berikutnya adalah diskusi santai dengan anggota dewan. Saat registrasi, setiap peserta dibagi ke dalam 3 kelompok. Saya kebagian di kelompok 3 dan akan berdiskusi dengan Dede Yusuf (Ketua Komisi IX) dan Eva Sundari (Komisi XI).

Wah, saya bakalan ketemu langsung sama Dede Yusuf.. *salah fokus* 😀

Apa saja yang dibahas selama diskusi tersebut?

Masih tetap berkaitan dengan proses legislasi atau proses penyusunan UU. Awalnya saya pikir bakal ngebosenin. Tapi karena disampaikan dengan santai, jadinya saya yang aslinya gak begitu ngerti dengan politik ini, masih bisalah ngikutin penjelasannya. Jadi belajar juga deh hehehe.

DSC00319

Dari proses diskusi tersebut, saya jadi paham bahwa ternyata proses penyusunan UU itu gak gampang lho. Prosesnya panjaaang banget. Dimulai dari naskah akademik yang dibuat oleh tim ahli yang memahami konteksnya.

Usulan UU itu bisa berasal dari pemerintah, bisa juga berasal dari DPR. Setelah ada usulan dilanjutkanlah dengan penyusunan RUU. Setelah RUU disusun, dilanjutkan agi dengan Rapat Paripurna untuk membahas isi dari RUU tersebut. Di rapat ini bisa saja ada penolakan, perubahan, atau persetujuan terhadap RUU yang sedang dibahas.

Nah selanjutnya pembahasan RUU ada dalam 2 tingkatan:

  1. Tingkat satu di rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat baleg/banggar/pansus. Pembahasan dilakukan dengan musyawarah, penyampaian pendapat dan pembahasan DIM (Daftar Isian Masalah).
  2. Tingkat dua di dalam rapat paripurna atau pengambilan pendapat dari tiap fraksi. Jika kesepakatan dalam musyawarah tidak terjadi, maka akan diambil langkah voting.

Jadi dalam pembahasan RUU, yang paling lama memang di rapat-rapat ini. Gunanya apa? Ya pastinya untuk memutuskan poin-poin yang akan dimasukkan ke dalam UU dan disesuaikan dengan hal-hal yang terdapat di dalam DIM tadi.

Setelah RUU disetujui, barulah kemudian diserahkan kepada Presiden untuk ditandatangani dan disahkan.

Baru dengar cerita Kang Dede dan Bu Eva saat proses penyusunan UU saja, udah kebayang ribet dan complicated-nya. Apalagi ngalamin langsung ya.

Curhatannya para anggota dewan nih, sayangnya kadang tidak semua masyarakat paham dengan proses panjang penyusunan UU ini. Karena tidak paham itulah, akhirnya muncul anggapan bahwa anggota dewan itu tidak bekerja.

Yah, mungkin ada aja sih yang kerjaannya cuma 4D (datang, duduk, diam, duit). Tapi gak semua anggota dewan lho kayak gitu. Yang benar-benar bekerja sepenuh hati dan mengupayakan yang terbaik untuk masyarakat juga ada kok. 🙂

Dan yang perlu diketahui juga nih, ternyata masing-masing komisi itu hanya punya jatah penyelesaian 2 UU per tahun. Jadi kalo udah ada 2 UU yang disahkan di tahun itu, ya pengajuan lainnya masuk ke jatah tahun depan. Makanya benar-benar harus ditentukan prioritasnya, mana yang harus didahulukan.

Foto Bareng 2

Foto bareng usai diskusi santai. Sumber: twitter @DPR_RI

Setelah otak ngebul usai diajak berdiskusi santai dengan Kang Dede dan Bu Eva, kami pun masuk ke acara berikutnya. Yaitu jalan-jalan ke Ruang Komisi.

Dalam satu kelompok ini pun dibagi 2 lagi. Ada yang ke ruang kerjanya Kang Dede, ada yang ke ruangannya Bu Eva. Saya ikut di rombongan yang ke ruangan Kang Dede.

Untuk ukuran seorang Ketua Komisi, ruangannya Kang Dede cukup kecil lho. Tapi memang beliau jarang menempati ruangan tersebut, karena lebih sering menghadiri rapat atau kunjungan kerja ke daerah-daerah. FYI, Kang Dede sekalinya rapat komisi bisa dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam lho. Dan rapat tersebut bisa dilaksanakan hampir setiap hari selama 2 bulan.

Ruangan kerja Kang Dede sendiri terbagi menjadi 2 area. Begitu masuk ke dalam ruangannya, ada area kerja Aspri beliau. Antara area kerja Aspri dan area kerja Kang Dede hanya dibatasi oleh sekat berupa rak buku.

Di area kerja Kang Dede sendiri cuma ada rak buku, beberapa kursi untuk menerima tamu dan meja kerja yang dipenuhi dengan berkas-berkas. Meja kerja tersebut bukan hanya digunakan oleh Kang Dede sendiri, tetapi juga digunakan oleh Aspri dan Staf Ahli beliau. Terutama saat membahas RUU itu tadi.

DSC00338

Udah puas sidak ke ruang kerja Kang Dede dan kepoin beliau dengan berbagai pertanyaan, kami pun melanjutkan tour ke Ruang Sidang Paripurna I.

For the first time, saya masuk ke dalam ruang sidang yang berada tepat di bawah atap hijau gedung MPR/DPR yang sangat iconic itu. 😀

DSC00351

Ruang Sidang Paripurna I ini adalah ruangan yang biasa digunakan untuk melantik presiden. Jadi ruangan ini memang sudah jarang digunakan, karena untuk rapat-rapat paripurna anggota dewan ruangan yang digunakan adalah Ruang Sidang Paripurna II.

Ruang Sidang Paripurna I ini hanya digunakan 1x dalam setahun dan 1x dalam 5 tahun. Yaitu saat rapat menjelang HUT RI tanggal 16 Agustus dan pelantikan presiden.

Kapasitas ruangan ini bisa menampung sampai 1000 orang di lantai bawah untuk para peserta rapat dan juga di lantai atas yang digunakan bagi media atau masyarakat yang ingin melihat jalannya rapat paripurna. 🙂

Ruang Sidang Paripurna I ini dibuat tanpa tiang penyangga lho. Gunanya apa? Agar semua peserta rapat bisa melihat ke depan tanpa terhalang oleh apapun. Yang menjadi penyangga hanya 2 buah beton yang berada di langit-langit.

Setelah puas menikmati kemegahan Ruang Sidang Paripurna I, kami pun melanjutkan perjalanan tour ke ruangan selanjutnya yang merupakan ruang terakhir dalam rangkaian tour ini, yaitu Museum DPR.

DSC00374

Di Museum DPR ini, pengunjung bisa melihat barang-barang bersejarah yang digunakan oleh DPR sejak sebelum kemerdekaan RI. Tapi sayangnya barang-barang tersebut, terutama dokumen-dokumen bersejarah milik negara tidak lengkap. Berdasarkan info dari tim humas DPR yang menjadi guide kami saat itu, sejak pendudukan gedung MPR/DPR di peristiwa Mei 1998, ada banyak dokumen negara yang tidak ditemukan. Sampai saat ini, tim humas masih berupaya untuk mencari dokumen-dokumen negara yang hilang, agar bisa didokumentasikan di Museum DPR ini.

Oh ya, museum DPR ini terbuka untuk umum lho. Siapa pun bisa datang ke sana. Bukanya setiap hari Senin-Jum’at, mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore.

Bagi anak-anak sekolah atau mahasiswa yang mau melakukan kunjungan ke gedung DPR/MPR juga bisa banget. Caranya tinggal kirimkan surat permohonan untuk melakukan kunjungan ke email humas DPR dan tunggu saja konfirmasi selanjutnya. Rombongannya maksimal 200 orang dan akan mendapatkan rangkaian acara kurang lebih sama dengan yang saya alami ini. Dimulai dari pengenalan tentang DPR di ops room, tour ke Ruang Paripurna I, dan mengunjungi Museum DPR.

Untuk info lengkapnya tentang DPR RI atau hal-hal lain yang ingin diketahu, silahkan cek langsung ya ke twitter @DPR_RI, instagram @DPR_RI, dan websitenya di http://www.dpr.go.id 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Kenal Lebih Dekat dengan DPR RI

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s