Berwisata ke Rupat Utara

Setelah 3 tahun menetap di Pekanbaru yang merupakan ibukota Provinsi Riau ini, saya baru tau bahwa ternyata provinsi ini punya potensi wisata yang sangat cantik. Dulu saya sempat berfikir bahwa tidak ada yang menarik di provinsi ini. Tapi ternyata saya salah. Objek wisata tersebut baru saya ketahui pertengahan April lalu dalam sebuah perjalanan eksplorasi wisata ke Siak dan Rupat bersama Disparekraf Provinsi Riau. 🙂

Salah satu potensi wisata yang sangat cantik dan sedang dikembangkan oleh Disparekraf Provinsi Riau adalah Pulau Rupat Utara. Salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Selat Melaka dan masuk dalam wilayah kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.

Untuk sampai di Pulau Rupat, saya dan rombongan yang berjumlah sekitar 26 orang berangkat dari Siak dengan menggunakan mini bus. Sebelumnya kami memang menginap di Siak, menghabiskan sehari di sana untuk mengeksplor objek wisata yang ada di Siak Sri Indrapura.

Dari Siak, kami berangkat sekitar pukul 9 pagi. Menuju pelabuhan penyeberangan yang berada di kota Dumai. Di perjalanan, kami melewati Bukit Batu Bengkalis yang merupakan salah satu kawasan pengrajin tenun Melayu di Provinsi Riau. Kami sampai di pelabuhan penyeberangan kota Dumai sekitar pukul 1 siang. Jadi total kami menghabiskan waktu selama kurang lebih 4 jam di perjalanan.

Kapal yang akan membawa kami menyeberang ke Pulau Rupat dikenal dengan istilah kapal Ro-Ro (Roll on-Roll off). Biaya penyeberangannya cukup affordable, Rp100.000 per mobil dan Rp6.500 per orang. Kalo motor saya kurang tau berapa biayanya. 🙂

DSC07918

Kapal Ro-Ro

Setelah menyeberang selama kurang lebih 30-45 menit, kami pun sampai di pelabuhan Pulau Rupat. Dari pelabuhan, kami masih harus melanjutkan perjalanan darat menuju Rupat Utara selama kurang lebih 3 jam.

Salah satu spot yang sudah cukup terkenal di Rupat Utara adalah Tanjung Medang. Kabarnya bahkan sudah ada ferry penyeberangan langsung dari Dumai menuju Tanjung Medang ini. Tapi sayang di kunjungan saya ke Rupat kali ini, saya tidak sampai ke Tanjung Medang. Hanya sampai di Teluk Rhu, Rupat Utara.

Kami menginap di sebuah penginapan sederhana yang terletak di Teluk Rhu, Rupat Utara. Penginapan Muara Pantai namanya. Penginapan ini tepat berada di pinggir pantai lho. Jadi keluar kamar langsung ketemu pantai. 😉

DSC08060

Kamar di penginapan ini sangat sederhana, tapi fasilitasnya cukup nyaman. Ada kasur berukurang king, handuk, lemari, dan kamar mandi. Beberapa kamar bahkan ada yang menggunakan AC, dan beberapa lainnya menggunakan kipas angin. Dari info yang saya dapatkan, rate kamar di penginapan ini adalah sebesar Rp250.000 untuk kamar dengan AC dan Rp200.000 untuk kamar dengan kipas angin. Cukup terjangkau, bukan? 🙂

Selama menginap di penginapan itu, kami juga diservis dengan baik. Disediakan sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Dimasak langsung oleh pemilik penginapan. Menunya mostly ikan segar. Dimasak dengan cara dibakar atau digoreng balado. Ada juga tumis kerang. Ah, semuanya enak-enak. Tapi sayang, untuk paket makan ini saya tidak dapat info harganya. Jadi buat yang mau nginap di sana, better tanya langsung ke pihak penginapan saja ya. 🙂

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan jika berwisata ke Rupat Utara?

1. Menikmati Sunrise

Pantai Pesona yang berada tepat di depan penginapan kami adalah pantai sunrise. Jadi, untuk berburu si matahari terbit ini, kami tidak perlu pergi jauh. Cukup duduk manis di gazebo yang ada di depan hotel, menunggu matahari pagi tiba.

DSC07990

Menunggu sunrise 🙂

DSC08018

Sunrise pertama di Pantai Pesona, Teluk Rhu – Rupat Utara

Best viewnya untuk melihat sunrise ini sekitar jam 05.30 sampai jam 06.30 pagi. Jadi, buat yang mau jepret-jepret sunrise, pastikan sudah nangkring di gazebo di jam-jam tersebut ya! 😉

Selain sunrise, pemandangan nelayan-nelayan Rupat Utara yang baru pulang berlayar juga menjadi pemandangan indah yang bisa dinikmati di pagi hari. Mau beli ikan langsung sama nelayannya juga bisa lho. Harganya jauuuuh lebih murah dan ikannya udah pasti segar banget! 🙂

2. Menyeberang ke Beting Aceh

Setelah menikmati sunrise dan menyantap sarapan, sekitar jam 9 pagi kami pun bersiap untuk menyeberang ke Beting Aceh, sebuah pulau tak berpenghuni yang ada di Rupat Utara. Kami menyeberang dengan menggunakan boat kecil milik penginapan. Lama perjalanan sekitar 20-30 menit.

DSC08094

Beting Aceh

Di Beting Aceh ini kita bisa menikmati pemandangan pasir putih yang cantik dengan view langit biru. Best viewnya kalo mau mengunjungi Beting Aceh ini adalah di sore hari, karena kabarnya ada banyak burung migran yang terbang di sekitar pulau ini dan jadi spot cantik yang layak untuk diabadikan. Jumlahnya bisa sampai ribuan burung lho!

Oh ya, untuk menyeberang ke pulau ini dikenakan biaya penyewaan boat sebesar Rp.1.500.000 (PP). Boatnya muat sampai 10 orang. Harga tersebut masih bisa dinego lagi kok, atau kalo mau murah better jangan sewa boat milik penginapan, tapi sewa perahu-perahu milik nelayan aja. Harganya mungkin bisa lebih murah lagi. 🙂

3. Berburu Sunset

Karena pantai yang ada di depan penginapan adalah pantai sunrise, sudah jelas saya tidak akan bisa mendapatkan view sunset di pantai tersebut. Jadilah saya dan beberapa teman berjalan kaki ke arah dermaga yang ada di sisi barat. Jalan kakinya lumayan jauh, sekitar 3 kilometer. Tapi karena ramean sama temen-temen dan sambil menikmati pemandangan di pesisir pantai, perjalanan jauh jadi gak berasa melelahkan deh. 🙂

Dermaga yang ada di Rupat Utara ini baru selesai dibangun dan belum digunakan. Jadi aktivitas di sekitaran dermaga relatif masih sepi. Gak jauh dari dermaga ini juga ada 2 buah mercusuar (seperti yang terlihat di foto di bawah ini). Mercusuar yang lebih pendek konon adalah mercusuar pertama di Rupat Utara yang dulu dibangun oleh pemerintah Jepang, sedangkan mercusuar yang lebih tinggi adalah mercusuar baru yang masih digunakan sampai sekarang.

DSC08214

DSC08235

Best view untuk melihat sunset ini sekitar jam 6 sore sampai jam 6.30 sore. Spot yang oke untuk ambil view sunsetnya bisa dari atas dermaga atau dari atas mercusuar. Tinggal pilih aja mau yang mana. Kalo saya sih waktu itu milih dari atas dermaga. Kebetulan ada perahu nelayan yang lewat, jadi ada objek yang kece dengan background matahari yang mulai terbenam. 😉

DSC08251

4. Menyaksikan Pertunjukan Zapin Api

Jika di Bali ada pertunjukan kecak, maka di Rupat Utara ada pertunjukan Zapin Api. Berbeda dengan tarian Zapin pada umumnya, pertunjukan Zapin Api ini diperankan oleh 5 orang pemain yang umumnya adalah laki-laki. Mereka menari mengikuti irama gambus yang dimainkan dan beratraksi dengan bermain api. Pertunjukan ini memang menggunakan mantra-mantra khusus yang dibacakan oleh pemimpin pertunjukan. Karena itu, para pemain tidak merasakan panas saat sedang bermain dengan api.

Di mata para pemain, api unggun yang dinyalakan itu adalah sebuah taman bunga. Karena itu gerakan mereka seperti sedang menyibakkan bunga-bunga di taman. Selama menyaksikan pertunjukan ini, pengunjung dilarang menyalakan api (seperti merokok dll) karena beresiko akan dikejar oleh para pemain Zapin Api. 🙂

Zapin Api 🔥 Salah satu pertunjukan tradisional Melayu di Pulau Rupat. Sudah ada sejak tahun 1950an, tetapi sempat vakum selama 40an tahun. Dihidupkan kembali di tahun 2013 lalu. Berbeda dengan tarian Zapin Melayu pada umumnya, pertunjukan Zapin Api ini melibatkan 5 orang penari (yang biasanya laki-laki), 3 orang pemain gendang, 2 orang penjaga api dan 1 orang khalifah yang memimpin pertunjukan sembari bermain gambus. Kelima penari melihat api seperti bunga, sehingga mereka mendekati api dan bermain-main dengan api tsb mengikuti irama gendang dan gambus. Karena itu, selama pertunjukan Zapin Api ini berlangsung, pengunjung tidak boleh merokok atau menyalakan api karena akan beresiko dikejar oleh penari-penari tsb. Pertunjukan ini bisa disaksikan secara langsung di Rupat Utara. . . . . . #AyoKeRiau #VisitRiau #VisitIndonesia #ExploreRiau #ExploreRupat #RiauTheHomelandofMelayu #Rupat #RupatUtara #Riau #ZapinApi

A post shared by Lianda Marta | liandamarta.com (@liamarta) on

DSC08334

Sejauh ini pertunjukan Zapin Api hanya ditampilkan di event-event besar saja atau jika ada permintaan khusus. Belum ada jadwal pasti pertunjukan. Karena itu jika ada yang ingin ke Rupat Utara untuk menyaksikan Zapin Api, bisa tanyakan langsung ke pihak penginapan atau warga setempat ya. 🙂

5. Mencicipi Jajanan Khas Rupat Utara

Abuk-abuk, salah satu jajanan khas Rupat Utara yang sempat saya cicipi sebelum saya pulang ke Pekanbaru. Bentuknya sekilas seperti kue lupis. Terbuat dari sagu yang berbentuk bulat seperti mutiara dengan inti dari gula merah dan parutan kelapa. Rasanya enak dan gak bikin eneg. Manisnya juga pas. Harganya pun murah meriah, Rp1.000 saja per pcs.

DSC08359

Abuk-Abuk

DSC08365

Pak Nahar, penjual Abuk-Abuk di Rupat Utara

Saya beli jajanan ini di penginapan. Kebetulan penjualnya datang ke penginapan menjajakan kue-kue dagangannya. Namanya Pak Nahar. Konon hanya dialah satu-satunya yang masih menjual Abuk-Abuk ini. Beliau berkeliling Rupat Utara dengan sepeda tuanya. 🙂

***

Ada banyak yang bisa dieksplor di pulau Rupat Utara ini. Karena itu jika ingin berkunjung ke sini, siapkan waktu beberapa hari ya. Estimasi untuk perjalanan pulang dan perginya saja kalo dari Pekanbaru bisa menghabiskan waktu total sekitar 24 jam (12 jam pergi, 12 jam pulang).

Oh ya, selain objek wisata yang saya share di atas, ada pula wisata sejarah Makam Putri Sembilan yang bisa dikunjungi di Rupat Utara dan juga objek wisata di Tanjung Medang yang juga indah. Untuk permainan air yang ada di Pantai Pesona juga cukup lengkap, ada banana boat dan wind sailing lho. Trus bisa berkuda juga menyusuri pinggir pantai. 🙂

Jangan lupa juga beli oleh-oleh kerupuk ikan khas Rupat Utara yang enak banget! Dan terasi udang yang kabarnya juga jadi salah satu makanan khas di daerah ini. Detail infonya bisa ditanyakan langsung ke pihak penginapan atau warga setempat ya. Karena kemarin saya juga kelewatan info soal oleh-oleh ini, hehehe. 😀

Oke deh, selamat berwisata ke Rupat Utara. Ditunggu cerita-cerita serunya, ya! 🙂

Advertisements

28 thoughts on “Berwisata ke Rupat Utara

    1. liandamarta.com Post author

      Hahaha bisa aja nih omnduuut. Namanya juga tanah kelahiran, om. Sebisa mungkin dipromosikan terus potensi wisatanya 😀

      Iya nih, aku pun baru tau kalo daerah-daerah di Riau banyak yang bisa dijelajahi! 🙂

      Like

      Reply
  1. anykinds

    Asik banget ini pantainya, Lia. Udah lama ga maen ke Pantai. Meski takut tambah item hehehe. Affrodable biaya nginep sama kulinerannya, tapi jalan dari Bandung ke sananya euy harus nabung dulu.

    Like

    Reply
  2. Pingback: Eksplorasi Siak & Rupat Bersama Disparekraf Provinsi Riau | liandamarta.com

  3. Mizan Syahroni

    Terima kasih sudah mengunjungi pulau rupat. Zapin api akan terus hadir setiap tahun bersamaan dengan Festival Pantai dan Mandi Safar setiap akhir bulan safar kalender hijriah. Kami tunggu kahadiranya. Salam dari anak Rupat 🙂

    Like

    Reply
  4. sari

    Mba, tapi jalan ke rupat utaranya jelek bgt..banyak bgt yg perlu diperbaikin.. semoga lebih diperhatikan lg sm pemerintah. 😦

    Like

    Reply
    1. liandamarta.com Post author

      Iya bener mba, jalan ke Rupat Utara masih belum semuanya bagus ya. Banyak yang belum diaspal. Semoga jadi perhatian pemprov Riau ya. Karena sayang banget, Rupat Utara ini punya potensi besar untuk diangkat pariwisatanya.

      Like

      Reply
  5. Pingback: Pesona Beting Aceh di Rupat Utara | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s