Healing Process #4

Sudah berminggu-minggu berlalu sejak tulisan terakhir saya ini. Dan ya, sampai detik ini saya masih berjuang untuk selalu merasa baik-baik saja. Secara perlahan, saya mulai bisa mendefinisikan apa yang terjadi hingga saya merasa sekusut ini.

Yang saya sadari saat ini adalah kepala saya penuh sekali. Sepenuh itu sampai saya sulit untuk berpikir dengan jernih.

Saya tau persis apa yang saya pikirkan. Tapi saya merasa, semua yang ada di kepala saya ini acakadut. Berantakan. Sangat berantakan.

Saya gak tau yang mana yang harus saya pikirkan lebih dulu. Saya gak tau mana yang harus diprioritaskan.

Semua hal-hal itu menumpuk di dalam kepala saya dan mengakibatkan saya seringkali merasa kelelahan dengan pikiran-pikiran saya sendiri.

Sejak kepergian Abang saya mulai memasukkan berbagai hal ke dalam pikiran saya. Saya ‘membebani’ diri dengan banyak hal, mulai dari hal-hal gak penting sampai yang memang penting sekali untuk dipikirkan. Mulai dari yang terjadi saat ini sampai antisipasi untuk kehidupan di masa depan.

Dulu, saya punya Abang sebagai teman cerita yang selalu setia mendengarkan celotehan saya.

Dulu, saya punya Abang sebagai tempat untuk meluapkan isi hati dan pikiran saya.

Dulu, saya punya Abang sebagai teman untuk bertukar pikiran dan meminta masukan tentang mana yang harus saya prioritaskan atau keputusan apa yang harus saya ambil.

Tapi sekarang saya menjalani semuanya sendiri. Sebagai gantinya, saya seringkali melakukan monolog pada diri sendiri. Seolah di dalam kepala ini ada dua orang berbeda yang saling bertukar pikiran.

Tanpa saya sadari, kondisi ini seperti bola salju yang terus bergulung menjadi besar. Semua hal itu semakin lama semakin memenuhi isi kepala saya. Lalu… BOOM! semuanya meledak dan menjadi sulit saya kendalikan.

Separah itu? Iya.

Orang-orang di sekitar saya dan yang berhubungan langsung dengan saya pasti menyadari kalo something happened pada diri saya. Ada banyak chat di whatsapp, Instagram, dan email yang tidak saya respons.

Saya masih terlihat update di IG story? Oh iya, sesekali memang masih update. Tapi DM-DM yang masuk saya abaikan. Saya bahkan mematikan notifikasi di ponsel pribadi karena memang sedang merasa selelah itu.

Saat ini, saya butuh jeda. Saya butuh istirahat sebentar dan merapikan benang kusut yang ada di kepala. Semoga semua orang bisa paham, karena kondisinya memang tidak semudah itu.

Untuk urusan pekerjaan, saya masih berusaha bersikap profesional. Semaksimal mungkin saya berusaha untuk tetap fokus dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya sebaik mungkin.

Saya sadar, apa yang terjadi sekarang bukan kondisi terbaik saya. Tapi saya masih terus berjuang agar bisa selalu menjadi yang terbaik dan tetap menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mohon doanya semoga kondisi ini dapat saya lewati dengan baik dan proses healing ini dipermudah ya.

Ketika kondisi ini sudah sangat mengganggu diri dan lingkungan, di saat itulah saya sadar bahwa saya butuh bantuan professional. Dan iya, saya sedang mengarah ke sana.

Sambil jalan, saya juga tetap berusaha melakukan terapi kepada diri sendiri. Salah satu yang saya lakukan adalah menulis jurnal. Saya tuangkan semua hal yang ada di pikiran saya ke dalam sebuah buku. Konon kabarnya, hal ini dapat membantu menguraikan apa yang ada di kepala agar pikiran dapat lebih jernih.

Upaya lainnya tentu saja berdoa kepada Allah dan memperbanyak ibadah. Saya tidak bermaksud riya’ dalam urusan agama. Tapi hal ini perlu saya sampaikan, karena biasanya ketika ada orang yang sedang merasa tidak sehat secara mental, orang lain akan dengan mudah ngejudge “kamu sedang jauh dari Allah”.

Meski mungkin belum sempurna, tapi insya Allah saya gak pernah meninggalkan kewajiban dalam beribadah. Yang gak wajib juga sesekali masih dilakukan. Kondisi mental yang sedang tidak sehat ini ya memang karena sedang tidak sehat aja. Gak jauh beda sama kalo lagi demam atau sakit kepala, butuh istirahat dan berobat. As simple as that. Jadi plis jangan dikaitkan dengan kadar keimanan ya.

Bagi yang pernah atau sedang mengalami stress, depresi, atau mungkin sedang merasa tidak oke secara mental, hang in there! Saya paham sekali apa yang kalian rasakan dan saya yakin kalian pun paham dengan apa yang saya rasakan saat ini. Semoga kita semua selalu diberi kemudahan untuk bisa melalui kondisi sulit ini ya. *virtual hug*

It’s okay to not be okay.

YES. IT’S OKAY TO NOT BE OKAY!

Cheers! ❤

 

Advertisements

3 thoughts on “Healing Process #4

  1. @ilmidian

    Peluk erat Kak Lia ❤️

    Aku pun pernah, bahkan masih merasakan kelelahan & kesemrawutan dalam jiwaku. Apakah depresi? Aku belum tahu pasti. Tapi kadang gejalanya mirip. Dan hingga saat ini aku masih berusaha healing (pribadi) sambil bersiap meminta bantuan tenaga professional.

    Berdiam diri itu kadang perlu. Memeluk erat diri sendiri, menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia, sambil terus healing, demi jiwa yang lebih sehat. Namun tetap ingat, bahwa kita tak sendiri. Masih banyak orang disekeliling kita yang mencintai dengan tulus, baik melalui kebaikan-kebaikannya, atau sekedar memanjatkan doa-doa baik untuk kita

    Semoga Kak Lia bisa segera pulih dari kondisi ini. Love you. ❤️❤️❤️

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s