Setahun Terakhir

Tanggal 3 November kemarin, tepat setahun kepergian Abang.

Setahun yang paling berat di hidup saya. Bukan hanya karena saya kehilangan salah satu significant person, tapi juga karena sepanjang tahun ini saya juga berkali-kali berusaha bangkit dari kegagalan.

Tidak banyak yang tau bahwa setahun ini ada banyak hal yang sedang berusaha saya kejar. Namun sayangnya, tidak ada satu pun yang berhasil saya raih. Rasanya sakit sekali sih. Saya merasa bisa, namun pada prakteknya ternyata saya tidak mampu.

Yang paling menyiksa tentu saja karena di kondisi seperti ini, Abang tidak ada di dekat saya. Abang, sebagai salah satu supporter paling setia yang pernah saya miliki di hidup saya. Yang selalu mendukung apapun yang akan saya lakukan dan yang selalu percaya bahwa saya bisa melakukan hal tersebut.

Rasanya semua yang saya jalani jadi semakin terasa berat. Mungkin karena 9 tahun terakhir saya udah terbiasa punya support system yang selalu siap memback-up saya setiap kali saya ‘jatuh’. Lalu yang terjadi setahun terakhir adalah saya yang berusaha terus untuk tetap berdiri tegak, meski saat ini saya menjalaninya seorang diri.

Sampai akhirnya, beberapa minggu lalu, saya tertegun saat melihat memory Timehop setahun lalu. Yang ngikutin #CeritaTimehopHariIni di IG story saya pasti tau tentang ini.

Di memory itu, saya mengungkapkan keinginan saya untuk bisa segera membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu. Postingan itu saya tulis dan publish setahun lalu, saat kami sudah tinggal di Jakarta. Saat itu, saya memang merasa seperti diberi jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Meski pada akhirnya, ternyata Allah punya rencana yang lain.

Saya share keinginan saya itu di Path dan Facebook. Lalu Abang pun datang memberikan komentarnya……

Support Abang

Ketika membaca komentar Abang tersebut setahun kemudian, saya jadi tersadar akan satu hal. Meski raga Abang sudah tidak ada lagi di dunia, tapi semangatnya, nilai-nilai hidupnya, dan banyak hal baik yang ia ajarkan dan contohkan kepada saya selama 9 tahun kami saling mengenal hingga akhirnya menikah, akan selalu ada mengiringi langkah-langkah saya ke depannya.

He won’t be far away..

Dia selalu ada di sini. Di hati saya.

***

Setahun ini, saya belajar banyak hal. Yang paling utama adalah saya belajar ikhlas.

Mengikhlaskan kepergian Abang.

Mengikhlaskan hari-hari saya ke depannya yang akan saya jalani tanpa Abang di samping saya.

Mengikhlaskan beragam tanya yang belum terjawab.

Mengikhlaskan berbagai kegagalan yang saya alami selama setahun terakhir.

Dan mengikhlaskan masa depan saya nantinya yang akan sangat jauh berbeda dari apa yang pernah saya impikan, karena sesungguhnya menjalani masa tua bersama Abang juga menjadi salah satu mimpi besar saya.

Kita tidak pernah bisa tau apa rencana Allah ke depannya. Tapi kita harus tau dan percaya, bahwa skenario apapun yang sudah Allah siapkan, adalah yang terbaik untuk semua hamba-hamba-Nya. ❀

***

Anyway, saya menulis blogpost ini di kamar Mama mertua. Yes, saya baru aja sampai di Pekanbaru kemarin pagi untuk ziarah.

Bagi saya, kembali pulang ke Pekanbaru itu punya tantangan tersendiri. Kota ini menyimpan terlalu banyak kenangan bagi saya dan Abang. Terlebih rumah ini. Dan semua orang yang ada di dalamnya, mulai dari Mama mertua sampai krucil-krucil.

Kemarin, di perjalanan dari Batam ke Pekanbaru, kecemasan saya mulai meningkat. Kejadian setahun lalu tiba-tiba berputar tanpa henti di pikiran saya.

Setahun lalu, ketika kami berada di Jakarta, entah sudah berapa kali kami merencanakan untuk pulang ke Pekanbaru. Tapi selalu saja terkendala satu dan lain hal. Pada akhirnya rencana tersebut justru terwujud dalam momen yang berbeda. Momen terakhir saya saat ‘pulang ke Pekanbaru’ bersama Abang.

Pekanbaru, akan selalu jadi tempat bagi saya untuk pulang. Kota ini juga menjadi tempat untuk saya menempa hati, agar semakin kuat menjalani hari. Dan kota ini menyimpan ‘obat rindu’ saya.

***

Saya sudah mengantisipasi datangnya minggu ini sejak beberapa waktu lalu. Saya tau nih kalo kemungkinan besar saya akan mulai mellow terhitung tanggal 31 Oktober sampai beberapa hari setelahnya. Supaya gak mellow-mellow banget, saya pun mulai menyibukkan diri.

Bahkan saya sampai seniat itu melakukan perjalanan seharian dari Batam, Singapore, Johor Bahru, trus balik lagi ke Singapore. Sambil belanja-belanja, masuk ke berbagai toko icip-icip tester ini itu, makan salah satu makanan favorite saya. Sengaja banget dibikin capek seharian itu biar pulangnya bisa langsung tidur dan gak sempat mellow-mellow lagi.

Berhasil gak? Alhamdulillah lumayan berhasil sih, meski tetap aja ada mellownya hehe.

Saya mulai mellow tuh bahkan sejak tanggal 30 Oktobernya. Kebetulan saat itu memang ada trigger yang bikin saya jadi kangen banget sama Abang. Trus udah deh bawaannya air mata ngalir terus. Literally ngalir dengan sendirinya gitu. Kebayang gak sih, tiba-tiba aja ngalir, padahal gak mau nangis.

Untuk menghibur diri, saya pun ubek-ubek file di laptop saya dan Abang. Nontonin ulang video bersama Abang. Trus karena ternyata saya jarang banget ngevideoin momen (seringnya foto-foto), akhirnya saya ubek-ubek file backup dari HP Abang deh, trus ketemu satu video yang bikin saya speechless.

I can feel his love from the way he look and the way he speak in that video. Dan video tersebut sukses saya putar ulang berkali-kali, karena kayak merasa Abang ada di depan saya ngomong seperti itu. Fix jadi penghibur banget di saat saya lagi mellow dan kangen Abang. ❀

Bermain bersama krucil ponakan Abang di Pekanbaru juga jadi salah satu obat kangen saya. Somehow saya kayak merasa ada Abang yang ikut bermain bersama. Saking seringnya kami bermain bersama krucil-krucil ini. πŸ™‚

***

Sudah setahun… Dan sampai saat ini saya masih terus berjuang. Untuk tetap berdiri tegak meski tanpa Abang. Terus berusaha mewujudkan mimpi dan niat baik kami berdua.

***

Your shadow follows me all day
Making sure that I’m okay
And we’re a million miles away

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Setahun Terakhir

  1. Ria

    Lia, aku baru baca blog lagi dan langsung menemukan tulisan ini. Kaget banget bacanya 😦 turur berduka cita ya …. sekalipun sudah lama sekali. Sabar dan selalu tetep kuat ya, Allah sudah menyiapkan segalanya untuk kita termasuk saat duka itu hadir ….

    *HUG*

    Like

    Reply
  2. Resha Nesia

    Allahummaghfirlahu..
    Semangat terus mba lia.. Allah sebaik baik pembuat rencana πŸ˜ƒ

    Membaca postingan mba Lia tentang Alm. Suami mba selalu membuat air mata saya meleleh, dan setiap kali itu juga saya merasa rasa cinta saya sama suami bertambah… Trimakasih mba πŸ˜ƒπŸ˜˜

    Like

    Reply
  3. Pingback: #CeritaTanggal7 : Tentang Abang | liandamarta.com

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s