Wot Batu: Sebuah Pengalaman Sensory Melalui Karya Seni

Hari Minggu kemarin, saya bersama dua orang teman pergi mengunjungi Wot Batu. Tempat ini pertama kali dibuka pada tahun 2015 lalu dan menjadi semakin terdengar namanya beberapa tahun belakangan, khususnya sejak Tara Basro dan suaminya memilih Wot Batu sebagai tempat mereka melangsungkan pernikahan.

Wot Batu adalah sebuah karya seni instalasi berskala ruang yang dibuat oleh Bapak Sunaryo, seorang seniman asal kota Bandung. Lokasinya berada di Bukit Pakar Timur, atau yang biasa dikenal warga Bandung dengan ‘Dago Pakar’. Di dalam Wot Batu, terdapat ratusan bebatuan yang masing-masing menyimpan cerita. Belasan dari ratusan bebatuan itu dapat disimak dan didengar ceritanya melalui audio guide yang bisa di-scan dari QR code di masing-masing karya.

Dalam bahasa Jawa Kuno, Wot berarti “jembatan”. Dikutip dari penjelasan yang ada di website mereka, tempat ini konon diciptakan oleh Bapak Sunaryo sebagai jembatan antara raga manusia dengan ruang batinnya. Di dalam Wot Batu, Bapak Sunaryo mensinergikan empat elemen alam: tanah, api, air, dan angin. Sebuah sinergi yang diwujudkan dalam penataan bebatuan secara selaras dan harmoni.

Untuk berkunjung ke Wot Batu, perlu melakukan reservasi terlebih dulu. Reservasi dilakukan di website wotbatu.id dengan memilih tanggal dan waktu kunjungan. Terdapat dua sesi kunjungan yang bisa dipilih, yaitu sesi pagi dari jam 10.00-13.00 WIB dan sesi siang dari jam 14.00-17.00 WIB. Harga tiket masuknya adalah Rp50.000 untuk dewasa dan Rp25.000 untuk anak usia 6-11 tahun. Sedangkan untuk anak usia di bawah 6 tahun dan lansia di atas 65 tahun, harga tiketnya gratis.

***

Saya dan teman-teman sampai di Wot Batu sekitar pukul 10 pagi. Kami sudah membeli tiket masuk Wot Batu dari malam sebelumnya. Ya, tiket masuk Wot Batu bisa dibeli mulai dari 2 bulan sampai 1 hari sebelum kunjungan, dan tidak bisa dibeli secara on the spot.

Sesampainya di sana, teman saya melapor terlebih dulu di pintu masuk, lalu kemudian kami pun mulai memasuki area Wot Batu. Kesan pertama saya sesaat setelah memasuki gerbang utama Wot Batu adalah rasanya tenang dan nyaman. Udara dingin Bukit Pakar Timur berpadu dengan keindahan harmonisasi susunan bebatuan yang tertangkap secara visual, serta suara gemericik air dan alunan melodi yang menenangkan hati, terintegrasi menjadi satu kesatuan.

Itulah mengapa, saya mengatakan bahwa kunjungan ke Wot Batu ini menjadi sebuah pengalaman sensory yang begitu berkesan. Melibatkan berbagai sistem sensory manusia: mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, hingga perasa.

Setelah 30 menit berkeliling di dalam Wot Batu, saya dan teman-teman didatangi oleh seorang staf. Beliau menginformasikan bahwa akan ada tour untuk keliling Wot Batu yang bisa diikuti oleh semua pengunjung. Ya, harga tiket masuk yang kita bayar itu sudah termasuk dengan tour gratis dan juga welcome drink. Jadi, dengan harga segitu menurut saya worth it banget sih, terlebih dengan pengalaman serta sensasi tidak terlupakan yang akan didapatkan saat berkunjung ke Wot Batu. ❤️

Tour berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Kami diberikan penjelasan mulai dari gerbang masuk Wot Batu hingga di karya terakhir yang berada di dekat gerbang keluar. Tour guide-nya memberikan penjelasan yang sangat komprehensif tentang cerita di balik Wot Batu serta karya-karya yang ada di dalamnya. Beberapa kali saya dibuat merinding saat mendengar makna dari beberapa cerita di balik karya-karya Bapak Sunaryo ini. Beberapa cerita juga rasanya sangat mengena di hati saya pribadi, seolah mengajak diri untuk berefleksi.

Mungkin itulah mengapa pada websitenya tertulis “mulailah perjalanan untuk memusat, memasuki diri sendiri“. Seolah berbagai pesan yang disampaikan melalui karya-karya Bapak Sunaryo memang mengajak kita untuk melihat kembali ke dalam diri. Paling tidak, itu yang saya rasakan. Namun, saya yakin, setiap pengunjung akan memiliki interpretasi dan pengalaman tersendiri saat berkunjung ke Wot Batu.

Pada tulisan ini, saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang masing-masing karya yang ada di Wot Batu. Karena menurut saya, apa yang akan saya tulis mungkin tidak akan bisa memberikan gambaran utuh seperti halnya bertandang langsung ke sana.

Tapi lewat tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa karya yang paling berkesan bagi diri saya pribadi dan sedikit cerita di balik karya-karya tersebut.

Batu Mandala

Batu Mandala yang berada berhadapan dengan Batu Angin

Batu Mandala berada tidak jauh di dekat gerbang masuk Wot Batu. Batu yang terletak di atas karya seni lain yang bernama Panggung Kehidupan ini menggambarkan tentang kehidupan manusia. Pada Batu Mandala, terlihat ada sebuah lubang yang berada tepat di tengah, dan dikelilingi oleh guratan-guratan berbentuk lingkaran yang tampak semakin membesar. Guratan tersebut tidak semuanya berbentuk mulus, bahkan beberapa terlihat kasar dan pecah-pecah.

Karya ini melambangkan tentang kehidupan manusia yang dikelilingi dengan manusia lainnya. Guratan melingkar pada batu tersebut menggambarkan tentang relasi manusia dengan manusia lain yang terus meluas namun mungkin tidak semuanya berjalan mulus. Batu ini juga berbentuk horizontal, sebagai simbol hubungan manusia dengan sesama manusia lain dan makhluk hidup lainnya di muka bumi.

Yang menarik dari Wot Batu dan juga karya Bapak Sunaryo pada umumnya adalah setiap karya memiliki pasangan dan tersusun secara harmoni, sehingga menciptakan adanya keseimbangan. Begitu pula dengan Batu Mandala yang berpasangan dengan Batu Angin, yang berada tepat di seberangnya.

Batu Angin

Batu Angin

Batu Angin merupakan batu tertinggi yang ada di Wot Batu. Jika Batu Mandala melambangkan relasi manusia secara horizontal dengan sesama makhluk hidup lainnya, maka Batu Angin melambangkan relasi manusia secara vertikal dengan Tuhan.

Melihat Batu Mandala dan Batu Angin yang berpasangan sehingga menciptakan adanya keseimbangan, mengingatkan saya tentang betapa pentingnya untuk menjaga keseimbangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam, saya pun belajar tentang habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan dengan sesama manusia). Kedua hal penting yang seharusnya berjalan beriringan, agar hidup dapat berjalan dengan lebih seimbang. ❤️

Batu Parahu

Batu Parahu

Parahu dalam bahasa Sunda berarti perahu. Batu ini juga terletak di atas karya Panggung Kehidupan sama halnya dengan Batu Mandala. Sebagai informasi, selain kedua batu tersebut, di atas Panggung Kehidupan juga terdapat Batu Indung. Ketiga batu ini menggambarkan tiga tahapan kehidupan manusia. Batu Indung sebagai simbol kelahiran, Batu Mandala sebagai simbol kehidupan, dan Batu Parahu sebagai simbol perjalanan menuju kematian.

Yang menarik dari Batu Parahu ini karena bongkahan aslinya memang menyerupai seperti sebuah perahu. Batu ini ditempatkan mengarah menuju karya berikutnya yaitu Batu Air, yang menggambarkan kehidupan setelah kematian. Pada bongkahan Batu Parahu, Bapak Sunaryo menambahkan beberapa lubang yang dianggap dapat memberikan kemudahan bagi ‘perahu’ tersebut saat mengarungi samudera.

Karya ini memberikan gambaran tentang kehidupan manusia. Dalam hidup, manusia layaknya sedang menaiki sebuah perahu mengarungi lautan yang tenang hingga bergelombang, dan kelak akan bermuara pada titik akhir yang sama, yaitu kematian.

Batu Air

Batu Air

Batu Air di Wot Batu melambangkan afterlife atau kehidupan setelah kematian. Dalam hal ini, Bapak Sunaryo menggambarkan kehidupan yang tenang seperti layaknya air dan suasana yang berada di Wot Batu.

Bebatuan pada Batu Air ini awalnya disusun oleh Bapak Sunaryo tanpa intensi membentuk suatu bentuk tertentu. Namun ternyata, susunan batu tersebut membentuk kata “Altitud(e)” yang berarti ketinggian. Saya pribadi memaknai kata “ketinggian” ini tidak hanya terkait lokasi Wot Batu yang memang berada di atas ketinggian kota Bandung, namun juga terkait makna “ketinggian” pada kehidupan setelah kematian itu sendiri.

Hal tersebut jadi membawa saya pada ingatan saat Ayah meninggal dunia beberapa bulan lalu. Saat itu, saya bersama Mama, adik-adik, dan tante, berdiskusi tentang apa yang terjadi pada roh manusia saat manusia meninggal dunia. Saya lupa persisnya dari surat atau hadist apa, namun Mama mengatakan, bahwa roh manusia yang telah meninggal dunia akan dibawa oleh malaikat menuju langit ketujuh dengan kain kafan yang semerbak wanginya.

Seperti halnya kata “Altitud(e)” yang terbentuk dari susunan batu-batu di Batu Air, kelak roh manusia memang akan dibawa ke langit ketujuh pada ketinggian yang mungkin berada di luar jangkauan nalar manusia.

Batu Waktu

Karya Bapak Sunaryo lain yang paling berkesan bagi saya di Wot Batu adalah Batu Waktu ini. Di dalam sebuah bongkahan batu, terdapat roda-roda bergerigi yang entah ada berapa jumlahnya. Roda-roda tersebut digerakkan oleh tenaga matahari, sebagai lambang dari kehidupan di muka bumi. Setiap roda berputar dan bergerak karena adanya pergesekan antara satu sama lain.

Di atas karya Batu Waktu tertera amanat dari Gunung Galunggung yang berbunyi:

Hana nguni hana mangke

Tan hana nguni tan hana mangke

Amanat Gunung Galunggung – Wot Batu

Dalam Bahasa Indonesia, amanat tersebut dapat diartikan sebagai “ada kini ada nanti, tidak ada kini tidak ada nanti“. Seperti halnya kehidupan, bahwa apa pun yang ada di masa kini, terjadi karena adanya kehidupan di masa lalu. Apa yang akan kita jalani saat ini pun, akan membawa kita pada kehidupan di masa nanti.

Karya ini membawa saya berefleksi dan menyadarkan saya bahwa waktu akan terus berputar dan tidak akan pernah bisa diulang. Percuma menyesali kesalahan atau kehidupan di masa lalu, karena meskipun mungkin kehidupan dulu terasa buruk dan tidak menyenangkan, namun kehidupan itulah yang membawa saya sampai ke titik ini.

Pun begitu dengan kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Berusaha menjalani dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik, karena kehidupan saat ini pun kelak akan berdampak bagi kehidupan saya di masa mendatang.

***

Apa yang saya bagikan di atas hanya lima dari ratusan bebatuan yang ada di Wot Batu. Apa yang saya interpretasikan pun bisa sangat berbeda dengan interpretasi teman-teman jika kelak kalian berkesempatan untuk datang langsung ke sana. Namun saya harap, apa yang saya tulis ini juga bisa mengajak teman-teman berefleksi tentang diri dan hidup yang sedang dijalani saat ini. ❤️

Selama kurang lebih berada tiga jam di Wot Batu benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya pribadi. Tidak hanya pengalaman secara sensory saja yang saya dapatkan, tapi juga saya menjadi meresapi kembali pesan-pesan kehidupan yang disampaikan lewat karya-karya Bapak Sunaryo ini.

Karya seni yang ada di Wot Batu boleh disentuh oleh pengunjung, beberapa di antaranya bahkan boleh diduduki. Hal tersebut tentu saja akan melengkapi pengalaman kita saat bertandang langsung ke sana. Rerumputan yang ada di sana juga boleh diinjak dengan melepas alas kaki, seolah mengajak kita untuk benar-benar menyatu dengan alam. Mengaktifkan berbagai sistem sensory yang ada di dalam tubuh kita, hingga dapat menarik makna tersirat dari setiap karya yang ada.

Bagi teman-teman yang senang menikmati karya seni dan meresapi makna yang ada di baliknya, saya sangat menyarankan teman-teman untuk datang langsung ke Wot Batu. Saya sendiri juga rasanya tidak akan bosan, dan ingin kembali berkunjung ke sana suatu hari nanti. 😊

***

Wot Batu
Jl. Bukit Pakar Timur No. 98#1,
Ciburial, Cimenyan, Bandung 40198
(+62) 22 82524480

Buka: Selasa-Minggu, pukul 10.00-17.00
Tutup setiap Senin dan hari libur nasional tertentu

1 thought on “Wot Batu: Sebuah Pengalaman Sensory Melalui Karya Seni

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s