Dua Minggu (Terakhir) Bersama Ayah

Mendapat telfon dari rumah di tengah malam bisa jadi suatu pertanda yang tidak menyenangkan. Seperti yang saya alami pada Jum’at malam di akhir Mei lalu misalnya.

Malam itu, sekitar pukul 11, saya baru saja selesai menutup laptop dan bersiap untuk tidur. Seperti biasa sebelum tidur yang dilakukan adalah scroll-scroll linimasa dulu. Selang 30 menit kemudian, ponsel saya berdering. Adik perempuan saya yang tinggal di Batam menelfon. Jantung saya pun seketika berdebar tidak karuan. Ada apa ini? πŸ₯Ί

Benar saja, ternyata telfon itu membawa kabar buruk. Adik memberi tahu bahwa Ayah dilarikan ke rumah sakit dan kondisinya cukup mengkhawatirkan. Ia juga menanyakan apakah saya memungkinkan untuk segera pulang ke Batam.

Saya yang saat itu sedang berada di Jatinangor karena mengikuti jadwal perkuliahan luring, hanya bisa terduduk lemas di tempat tidur. Air mata mengalir tidak bisa dihentikan, dada sesak, dan badan gemetar. Saya takut sekali. Yang saya lakukan kemudian adalah menelfon salah seorang sahabat untuk meluapkan emosi saya ketika itu. Setelah emosi saya mereda, saya pun mulai bisa berpikir tenang. Mencari tiket dan segala cara yang bisa dilakukan agar saya bisa sampai di Batam secepat mungkin.

Ketika saya mengecek tiket Jakarta-Batam, hanya tersisa beberapa penerbangan di siang hari dengan harga paling murah di 1,8 juta. Saya pun berpikir untuk pulang ke Batam via Pekanbaru. Masih ada beberapa pilihan penerbangan di jam 5 dan jam 6 pagi, lalu setelahnya saya bisa melanjutkan penerbangan ke Batam di jam 9 pagi. Tapi masalahnya, dari Jatinangor saya harus ke Bandung dulu baru ke Jakarta. Apakah saya bisa mengejar jadwal itu?

Lia dan Ayah, Singapore, 1993

Saat itu, Sabtu 28 Mei 2022 jam 1 dini hari. Saya pun memutuskan untuk segera packing dulu saja dan memesan GoCar menuju pool Primajasa di Batununggal Bandung. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, jadwal keberangkatan bus Primajasa dari Bandung ke bandara Soekarno Hatta ada setiap 30 menit sekali selama 24 jam. Jadi yang saya pikirkan adalah saya harus bisa sesegera mungkin sampai ke pool Primajasa, baru kemudian memikirkan untuk pembelian tiket pesawat.

Perjalanan Jatinangor ke Batununggal di dini hari tersebut ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Sepanjang perjalanan saya berusaha tampil tenang dan mengajak supir GoCar berbincang-bincang, sembari dalam hati terus memanjatkan doa agar perjalanan tersebut lancar dan saya bisa sampai dengan selamat. Bayangan berbagai adegan kejahatan yang mungkin saja bisa saya alami di sepanjang jalan lintas kabupaten Sumedang menuju Bandung, berusaha saya tepis. Saya sepenuhnya memasrahkan diri dan minta perlindungan dari Allah.

Alhamdulillah, saya sampai di pool Primajasa Batununggal tepat ketika bus Primajasa keberangkatan jam 2 pagi sedang bersiap untuk berangkat. Saya minta izin ke driver bus tersebut untuk menunggu saya membeli tiket. Setelah tiket berhasil dibeli dan saya sudah duduk di dalam bus, barulah saya bisa bernafas lega. Sepanjang perjalanan, sambil memantau Google Maps, saya pun kemudian memutuskan untuk mengambil tiket pesawat ke Pekanbaru di jam 6 pagi dan tiket pesawat Pekanbaru-Batam di jam 9 pagi. Sebuah keputusan yang cukup gambling sebenarnya, namun saya cukup yakin penerbangan di pagi hari biasanya berjalan on time.

Long story short, saya sampai di Bandara Soekarno Hatta jam 5 pagi. Kemudian langsung drop baggage karena sebelumnya sudah online check in dan lanjut sholat subuh. Tepat setelah saya selesai sholat, terdengar panggilan boarding. Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Termasuk untuk penerbangan dari Pekanbaru ke Batam yang berjalan lancar meskipun sempat delay sekitar 30 menit.

Lia dan Ayah, wisuda S1 di Bandung, 2012

Saya sampai di Batam sekitar pukul setengah 11 siang, dijemput oleh om dan tante. Dari bandara, kami langsung menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, karena sedang jam besuk untuk ICU, maka saya bisa langsung menemui Ayah sambil bergantian dengan Mama untuk menyuapkan Ayah makan siang.

Kondisi Ayah saat itu sudah jauh lebih stabil dari malam sebelumnya. Kalimat pertama yang Ayah katakan pada saya adalah “gimana kuliahnya?” Mungkin beliau khawatir jika saya sampai meninggalkan kuliah karena pulang ke Batam untuk menemui beliau yang sedang sakit. Selanjutnya, saya menyuapkan Ayah makan sambil sesekali mengajaknya mengobrol.

Diagnosis dokter saat itu adalah Ayah terkena serangan stroke iskemik, di mana terjadi penyumbatan darah di otaknya. Hal itu menyebabkan bagian tubuh Ayah di sebelah kiri menjadi tidak dapat digerakkan. Beberapa tindakan sudah dilakukan oleh dokter di malam kejadian, namun siang itu progresnya tampak belum signifikan.

Ayah dirawat di ICU selama 3 hari. Setiap siang, saya, Mama, dan adik perempuan saya bergantian menjaga di rumah sakit. Sedangkan di malam harinya, adik laki-laki saya yang tidur dan menginap di ruang tunggu ICU. Kami sekeluarga pun memutuskan pindah sementara ke rumah tante yang lokasinya lebih dekat dengan rumah sakit, untuk memudahkan mobilisasi. Saya masih tetap berkuliah seperti biasa, dan alhamdulillah mendapat kemudahan untuk bisa mengikuti perkuliahan secara daring.

***

Senin (30 Mei 2022) malam, Ayah dipindahkan ke ruang rawat inap. Kondisinya semakin membaik ketika itu, namun masih perlu dirawat di rumah sakit agar bisa tetap dalam pemantauan dokter. Rasanya saya lega sekali melihat kondisi Ayah yang tampak lebih segar dari pertama kali saya bertemu di Sabtu siang. Kondisi Ayah dari hari ke hari pun terus membaik hingga akhirnya di Sabtu (4 Juni 2022) sore, Ayah sudah boleh pulang ke rumah. Setengah badannya masih tidak dapat digerakkan, sehingga harus digendong dan dibopong. Namun kami sekeluarga sangat optimis ketika itu karena kondisi tersebut bisa pulih dengan bantuan fisioterapi.

Saya kemudian mulai mengatur rencana kepulangan ke Jatinangor, dikarenakan setiap minggu ada 2x jadwal kuliah luring, yaitu di Kamis dan Jum’at. Namun, Mama dan adik-adik meminta saya untuk tetap di Batam dulu dikarenakan hari Kamis dan Sabtu Ayah perlu dibawa ke rumah sakit untuk kontrol ulang. Dengan kondisi Ayah yang tidak bisa berjalan dan badannya yang besar, kami masih perlu mencari cara yang paling efektif untuk bisa membawa Ayah ke rumah sakit. Kehadiran saya tentu akan sangat membantu keluarga, terutama jika perlu bolak balik ke rumah sakit untuk mengurus administrasi. Saya pun kembali meminta izin kepada dosen untuk bisa mengikuti perkuliahan secara daring.

Lia dan Ayah, Istanbul – Turki, 2019

Kamis (9 Juni 2022) subuh, saya yang baru saja selesai sholat mendengar Mama berbicara kepada adik laki-laki saya untuk meminjam tabung oksigen ke klinik dekat rumah. Ayah mengalami sesak nafas. Saya langsung bilang untuk segera membawa Ayah ke rumah sakit agar bisa cepat ditangani. Mama dan adik-adik setuju. Jadilah pagi itu kami berlima pergi ke rumah sakit. Awalnya kami mengira Ayah hanya sesak nafas biasa, namun yang terjadi berikutnya ternyata di luar dugaan. πŸ’”πŸ’”πŸ’”

Dokter di Instalasi Gawat Darurat yang menangani Ayah pertama kali di Kamis pagi itu mengatakan bahwa fungsi jantung Ayah sudah menurun drastis. Kondisi normal pada manusia seharusnya berada minimal di 75%, sedangkan pada Ayah fungsi jantungnya saat itu berada di bawah 20%. Itu yang mengakibatkan adanya penyumbatan pembuluh darah sehingga Ayah mengalami stroke, juga yang membuat Ayah mengigau, meracau, selalu mengantuk, dan sesak nafas.

Kamis siang, dokter jantung yang menangani Ayah menyampaikan hal serupa. Kali ini lebih spesifik, beliau mengatakan fungsi jantung Ayah saat itu adalah 13-15%. Dokter juga mengatakan berbagai kemungkinan terburuk, yaitu kemungkinan terjadinya henti jantung secara tiba-tiba. Yang bisa dilakukan saat itu adalah menjaga agar kondisi Ayah tidak semakin menurun. Mendengar penjelasan dokter itu, saya lemas sekali. Berbagai pikiran buruk mulai muncul. Terlebih sejak hari Rabu sehari sebelumnya sampai di Kamis siang itu, Ayah beberapa kali meracau mengatakan kalimat-kalimat berikut:

Siapa itu yang baju putih, cantik kali..” – Rabu 8 Juni 2022, di rumah.

Ayah besok mau ke masjid sholat Jum’at.” – Kamis 9 Juni 2022, di rumah.

Ngapain kita di sini, pulang aja, Ayah mau sholat Jum’at.” – Kamis 9 Juni 2022, rumah sakit.

Di hari Kamis itu juga, Ayah sejak subuh terlihat selalu berusaha membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan lafadz yang jelas. Beliau bisa menyelesaikan sholat sunah qobliyah Subuh dan sholat fardhu Subuh dengan sangat lancar tanpa dibimbing Mama. Padahal sebelumnya, selama Ayah sakit, setiap lagi sholat Ayah kadang suka tertidur atau tiba-tiba gak fokus. Ketika di ruang IGD, Ayah pun sempat terlihat seperti sedang berwudhu, saat ditanya oleh Adik, Ayah menjawab “mau wudhu, mau siap-siap sholat Jum’at“. Tidak hanya itu, Ayah pun seperti sedang meruqyah dirinya sendiri dengan lafadz yang jelas.

Tanpa bermaksud mendahului takdir Allah, melihat kondisi Ayah yang seperti itu, saya mulai mempersiapkan diri untuk skenario terburuk yang akan kami hadapi. Pengalaman menghadapi kepergian Abang di malam Jum’at membuat saya jadi memikirkan hal serupa terhadap Ayah. Perasaan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya saja, tetapi juga oleh Mama dan adik-adik. Mama bahkan berkali-kali mengatakan kepada kami agar memasrahkan semuanya kepada takdir Allah.

Lia dan Ayah, ICU, 2022

Kamis sore, Ayah kembali dibawa ke ICU. Saat itu, saya, Mama, dan adik-adik memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan akan menginap saja di rumah sakit.

Memasuki waktu maghrib, Mama sholat lebih dulu, sedangkan saya menunggui Ayah di dalam ruangan ICU agar bisa sekalian menyuapkan Ayah makan malam. Ketika itu, makanan untuk Ayah terlambat datang, sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Ayah sambil sesekali mengajak Ayah membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Di momen itu, Ayah menggenggam tangan saya dengan sangat kuat, seolah tidak ingin dilepaskan. Ayah juga beberapa kali mengatakan hal-hal berikut:

Siapa itu yang baju putih-putih ramai kali masuk?”

Mana makanannya? Ayah abis makan banyak yang mau dikerjakan. Mau rapi-rapi.

Ayah bisa melawan yang baju putih-putih itu” – kalimat ini sempat terekam di handphone saya.

Malam itu, saya menyampaikan permohonan maaf kepada Ayah dan masih direspons dengan sangat baik oleh beliau. Saya juga mengungkapkan rasa sayang saya kepada Ayah, sesuatu hal yang selama ini jarang saya lakukan karena malu dan gengsi. Ayah pun mengatakan hal yang sama. Ayah juga sempat beberapa kali menanyakan kabar beberapa orang yang selama ini beliau pikirkan, salah satunya Salsa, sepupu saya yang memang dekat sekali dengan Ayah sejak kecil.

Di malam itu, saya tidak bisa tidur nyenyak. Setiap beberapa menit sekali, saya melihat ke arah jam. Entah mengapa, saya memikirkan kata-kata Ayah yang ingin sholat Jum’at. Saya bahkan sampai menghitung mundur kemungkinan jika seseorang meninggal dunia dan disholatkan ketika waktu sholat Jum’at, maka paling lama ia akan meninggal di jam berapa. Iya, saya sudah berpikir sejauh ini. Entah mengapa perasaan saya memang sudah tidak enak sejak di Kamis pagi.

***

Benar saja, Kamis jam 11 malam, saya, Mama, dan adik perempuan saya terbangun mendengar panggilan suara dari ICU. Mendengar nama Ayah disebutkan dalam panggilan suara itu, hati saya semakin tidak tenang. Saya segera menghubungi adik laki-laki saya yang tidur di mobil. Kami berempat kemudian masuk ke dalam ICU, menemui dokter yang sedang menangani Ayah. Kondisi Ayah malam itu tiba-tiba drop, sehingga perlu dilakukan tindakan kejut jantung. 😒

Selama proses tindakan dilakukan, saya bersama Mama dan adik-adik menunggu di depan ruang ICU. Kami duduk melingkar berempat. Di momen itu, Mama sekali lagi mengatakan agar kami dapat saling menguatkan dan bersiap dengan apapun takdir yang akan Allah berikan. Kami sepakat untuk menyerahkan segala tindakan apapun yang akan dilakukan sesuai dengan arahan dokter.

Tindakan kejut jantung Ayah dinyatakan berhasil dilakukan sekitar pukul 1 pagi. Mendengar penjelasan dokter, rasanya saya lega sekali. Malam itu, kami pun memutuskan untuk kembali beristirahat.

Lia dan Ayah, Istanbul – Turki, 2019

Jum’at (10 Juni 2022), saya baru sempat menemui Ayah lagi ketika siang hari sekitar jam 11 siang. Di pagi harinya, Mama yang masuk menemani Ayah. Siang itu, adik perempuan saya menyuapkan Ayah snack pagi. Kondisi Ayah semakin tidak baik dari sebelumnya, terutama dari segi pernafasan. Di momen itu, Ayah berkata kepada saya:

Jam berapa sekarang?”

Saya jawab, jam 11 siang.

Lalu Ayah kembali berkata “Ayah gak dapat sholat Jum’at..” dengan nada kecewa.

Itu adalah obrolan terakhir saya bersama Ayah. Karena di Jum’at sore, kondisi Ayah kritis sehingga perlu dilakukan tindakan selanjutnya yang akan membuat Ayah menjadi tidak sadarkan diri. Saat kami sekeluarga dipanggil untuk menandatangani persetujuan tindakan, saya menghampiri Ayah, mencium tangannya, dan membelai kepalanya. Mama yang terakhir keluar juga sempat membimbing Ayah mengucapkan kalimat syahadat, yang dilanjutkan dan diulang dengan sangat jelas oleh Ayah sebanyak dua kali.

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah..” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah).

Kami sekeluarga berharap kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang Ayah ucapkan. πŸ₯Ί

***

Sabtu (11 Juni 2022), kakak sulung Ayah yang berdomisili di Tanjungpinang datang ke Batam bersama kelima anak-anaknya. Adik-adik Mama yang tinggal di Pekanbaru juga mulai berdatangan. Di siang itu, kami semua berkumpul di rumah sakit. Di sesi jam besuk mulai jam 11 sampai jam 1 siang, satu per satu dari kami bergantian masuk ke ICU untuk melihat kondisi Ayah. Saya menjadi yang terakhir masuk, bersama dengan Salsa, sepupu saya. Saya berusaha menahan emosi dan berusaha tampil kuat, terlebih ketika Salsa berkata dengan lirih “pakwo.. ini caca datang, pakwo..” 😭

Setelah jam besuk usai, anggota keluarga mulai pulang ke rumah. Saya menemani kakak-kakak sepupu dari Tanjungpinang mengobrol di lobi rumah sakit. Mereka rencananya akan pulang ke Tanjungpinang di jam 4 sore. Di tengah-tengah obrolan, adik perempuan saya menelfon dan meminta saya untuk ke ruang ICU karena dipanggil oleh dokter. Saya tidak punya firasat apapun ketika itu. Saya naik ke lantai 3 bersama kakak-kakak sepupu karena mereka ingin sekalian pamit dengan Mama untuk pulang ke Tanjungpinang.

Sesampainya di lantai 3, saya melihat adik sudah berdiri di depan ruang ICU. Pintu ICU terbuka, dan saya melihat Mama sedang berada di samping Ayah. Saya pun bergegas masuk ke dalam. Dokter kemudian menghampiri saya dan mengatakan bahwa kondisi Ayah semakin memburuk. Ada satu tindakan lagi yang tadinya mau dilakukan oleh dokter namun Mama menolaknya. Dokter kemudian mempersilakan seluruh keluarga untuk masuk mendampingi dan melepaskan Ayah.

Informasi itu adalah informasi yang sudah saya persiapkan untuk saya dengar sejak beberapa hari sebelumnya. Namun tetap saja, ketika mendengarnya di sore itu, badan rasanya lemas sekali.

Dengan bergandengan tangan bersama adik-adik, kami berdiri di samping tempat tidur Ayah. Tepat di depan kami, Mama berdiri persis di sebelah telinga kanan Ayah mengucapkan kalimat tauhid tanpa henti.

Saya tidak tahu persisnya berapa lama proses itu terjadi. Saya juga tidak melihat adanya hentakan saat Ayah mengalami sakaratul maut. Yang saya ingat adalah saya hanya mendengar kalimat tauhid yang Mama ucapkan diiringi suara mesin-mesin di ruang ICU dan isak tangis kami sekeluarga yang mengelilingi Ayah. Dokter kemudian membawa mesin EKG dan memeriksa irama jantung Ayah. Beliau kemudian mengatakan bahwa Ayah telah meninggal dunia, sembari memperlihatkan hasil EKG yang sudah menunjukkan garis lurus. Saat itu juga terdengar suara adzan Ashar yang berbunyi dari handphone Mama.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.. Selesai sudah masa hidup Ayah di dunia. πŸ’”πŸ’”πŸ’”

Sesaat setelah selesai melaksanakan sholat jenazah, Sabtu 12 Juni 2022.

Salah satu hal yang menjadi penghibur kami sekeluarga di tengah duka ini adalah melihat Ayah yang pergi dengan begitu indah. Ayah pergi seperti sedang tertidur. Ketika disemayamkan di rumah saat malam hari, kening dan wajahnya berkeringat sampai harus saya lap berkali-kali. Jasad Ayah pun mengeluarkan aroma yang khas, seperti aroma tumbuh-tumbuhan, yang membuat saya ingin terus menciumnya tanpa henti.

Semakin pagi, saya menyaksikan sendiri senyuman di wajah Ayah semakin jelas terlihat. Begitu pula setelah dimandikan, wajah Ayah bersih, tersenyum cerah, dan terlihat seperti puluhan tahun lebih muda. Di salah satu foto yang saya ambil, Ayah bahkan terlihat seperti sunan yang menggunakan sorban. Sungguh indah sekali melihat jasad Ayah yang seperti itu, Masya Allah.. πŸ₯Ίβ€οΈ

Tidak hanya itu saja, melihat begitu banyak bantuan dan perhatian yang datang sejak Ayah sakit hingga proses pemakaman selesai, membuat kami sekeluarga sangat mensyukuri betapa kepergian Ayah meninggalkan kesan mendalam di hati setiap orang yang mengenalnya. Semua mengatakan bahwa Ayah adalah orang baik. Dan saya bersaksi, Ayah adalah orang yang sangat baik. πŸ₯Ίβ€οΈ

Semoga ini menjadi pertanda bahwa Ayah husnul khotimah, diampuni segala dosa-dosanya, diterima semua amal ibadahnya, dan semoga semua kebaikan yang telah beliau lakukan di dunia menjadi amal jariyah yang terus mengalir tiada henti. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu..

***

Saya sangat mensyukuri kesempatan yang Allah berikan untuk merawat dan mengurus Ayah selama 2 minggu terakhir menjelang kepergiannya. Ayah selama ini tidak pernah sakit, atau mungkin lebih tepatnya tidak pernah mengeluh sakit. Ayah tidak pernah mau merepotkan anak-anaknya dan selalu jadi orang pertama yang mengurus segala keperluan anak-anaknya meski kami sudah dewasa. Dalam 2 minggu itu, Allah berikan kami kesempatan untuk mengurus Ayah, menyuapkan Ayah makan, membantu Mama memasangkan pampers Ayah, dan mendampingi Ayah, sesuatu yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya karena Ayah tidak pernah mau kami melakukan itu. Adik laki-laki saya juga bahkan mendapatkan kesempatan spesial menjadi imam di sholat jenazah Ayah, tepat di hari kelahirannya.

Sekarang yang bisa kami lakukan adalah meneruskan amalan dan kebaikan-kebaikan yang telah Ayah lakukan di dunia. Juga tentu tidak putus mengirimkan doa dan terus belajar menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. Semoga Ayah mendapatkan pahala atas doa anak-anaknya, amal jariyah dari kebaikan yang beliau lakukan, dan ilmu-ilmu bermanfaat yang pernah beliau bagikan semasa hidupnya. ❀️

Bagi teman-teman pembaca blog yang mungkin mengenal Ayah saya dan pernah berinteraksi dengan beliau, mohon dimaafkan ya jika beliau ada salah kata atau salah ucap. Mohon doanya juga agar beliau husnul khotimah. Aamiinn. 😊❀️

Bersama Ayah dan Mama usai menjalani tawaf wada (tawaf perpisahan), 2019.

10 thoughts on “Dua Minggu (Terakhir) Bersama Ayah

  1. Ira

    innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
    turut berduka cita Martilo..semoga dosa-dosa beliau diampuni dan amal ibadah beliau diterima Allah SWT, aamiin!!
    *sending hug to you Martilo

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s