Sehari di Palembang

September 2018 adalah kali pertama bagi saya mengunjungi kota Palembang. Saat itu, saya ke sana karena sedang ada tugas kantor. Tentu saja saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengeksplor kota yang terkenal dengan pempek dan tekwannya ini.

Saya sampai di Palembang sekitar jam 10 pagi. Dari bandara, saya langsung menuju ke Hotel Batiqa yang terletak di jalan Kapten A. Rivai Palembang. Masih terlalu pagi untuk check in hotel dan saat itu saya juga belum bisa mengecek lokasi tempat saya akan bertugas selama dua hari ke depan.

Ya sudah, mumpung lowong, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di kota ini. Saya yang masih lapar karena hanya makan snack di pesawat ini pun langsung memesan ojek online untuk menuju destinasi pertama saya di kota ini.

MIE CELOR 26 ILIR H.M. SYAFEI

Dari hasil googling, katanya kalo ke Palembang selain makan pempek, saya juga wajib makan mie celor. Sesungguhnya saya suka sekali dengan mie berkuah kental seperti mie celor ini.

Dulu, di Batam mie seperti ini yang jadi favorite saya adalah mie lendir di Pasar Penuin. Lalu ketika pindah ke Pekanbaru, saya juga sering banget sarapan di mie keling. Jadi ketika sampai di Palembang, tentu saja gambar mie celor yang saya lihat di internet terbayang-bayang terus sampai bikin ngiler. 😀

Mie Celor 26 Ilir H.M. Syafei ini lokasinya di dekat pasar. Tidak terlalu jauh dari Hotel Batiqa tempat saya menginap. Sesampainya di sana saya langsung memesan satu porsi mie celor. Ketika mienya datang, wow sungguh sangat menggugah selera. ❤

Mie Celor

Mie celor ini terdiri dari mie kuning, telur rebus, irisan daun seledri dan bawang goreng yang disiram dengan kuah kental gurih. Rasanya bagaimana? ENAK SEKALIIII. Kuah kental gurihnya itu sungguh sedap nian. Cocok sekali menjadi menu sarapan pagi ditemani dengan teh manis hangat. ❤

Untuk harganya jujur aja saya lupa, soalnya waktu itu gak sempat saya catat. Tapi seingat saya masih sangat affordable sih harganya, gak sampai 50rb untuk seporsi mie celor dan teh manis hangat. 🙂

Setelah perut kenyang, saya pun memutuskan langsung menuju ke destinasi berikutnya…

JEMBATAN AMPERA

Meskipun matahari sedang bersinar dengan sangat terik (ya bayangin aja jam 12 siang shayyy hahaha), tapi saya tetap semangat menuju ke jembatan ikonik di kota ini. Agar kunjungan saya sah dan makin afdol hehe.

Dari beberapa artikel yang saya baca, konon katanya jembatan ini dibangun untuk menghubungkan kota Palembang yang berada di bagian Ulu dan bagian Ilir. Jembatan Ampera mulai dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan tahun 1965 oleh Presiden Soekarno. Dulu jembatan ini diberi nama jembatan Bung Karno, namun seiring dengan pergolakan politik di tahun 1966, nama jembatan ini pun diganti menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera yang berwarna merah layaknya jembatan San Fransisco ini berdiri kokoh di Sungai Musi. Dulu, bagian tengah jembatan ini dapat terangkat untuk dilalui oleh kapal. Tapi sekarang sudah tidak lagi, karena aktivitas di atas jembatan yang semakin padat.

Di sekitar jembatan, terdapat sebuah taman terbuka yang ramai dengan pedagang. Ada juga warung-warung tenda yang berada di sepanjang pinggir Sungai Musi. Beberapa perahu ada yang terparkir di pinggir sungai. Entah perahu tersebut digunakan sebagai moda transportasi untuk menyeberang ke bagian Ulu atau menjadi salah satu objek wisata bagi pengunjung. Saya tidak sempat bertanya kepada warga sekitar.

Matahari semakin terik. Saya merasa gak sanggup berlama-lama di sana. Setelah mengambil beberapa konten video dan gambar, saya pun memesan ojek lagi untuk kembali mengisi perut. Kali ini saya ingin makan…

PEMPEK VICO

Yes, katanya ini adalah salah satu pempek enak dan terkenal di Palembang. Meskipun kalo kata orang asli Palembang sih ada yang lebih enak, tapi tidak apa-apa deh, yang penting saya makan dan numpang ngadem di sini hihi.

Pempek Vico Palembang

Saya memesan seporsi pempek kapal selam. Saya memang suka sekali dengan pempek kapal selam. Rasanya enak sih… tapi sejujurnya tidak meninggalkan kesan mendalam. Di lidah saya rasanya sama saja dengan rasa pempek pada umumnya. 😀

Worth to try kok gengs. Kalo bingung mau ke pempek mana (saking banyaknya toko pempek di kota ini), Pempek Vico ini bisa jadi salah satu opsi. Di sana kita bisa beli pempek setengah matang untuk dibawa ke luar kota. Kalo gak mau ribet nenteng naik pesawat atau takut nambah beban bagasi, bisa minta langsung dikirim juga sama pihak tokonya. Bahkan kalau saya tidak salah, Pempek Vico ini juga menerima pemesanan secara online. Correct me if I’m wrong yaaa.. 🙂

Selain pempek, di Pempek Vico juga terkenal dengan es kacang merahnya. Tapi karena saya tidak suka kacang, jadi saya tidak pesan deh.

Kalian ada yang punya rekomendasi pempek enak lainnya di Palembang gak? Coba share dong di kolom komentar. 🙂

MENCICIPI AYAM TANDOORI

Malam harinya, Putri, teman dekat saya ketika kuliah di Bandung datang nyamperin ke hotel. Kebetulan Putri asli Palembang, dan sudah kembali tinggal di kota ini setelah menyelesaikan studi S2-nya. Putri ngajak saya makan di dekat hotel.

Teh Aba, begitu nama tempat kami makan malam itu. Sebuah restoran dengan sajian makanan dan minuman khas Mediterania. Saya memesan Ayam Tandoori. Seperti ayam bakar yang berwarna merah, yang disajikan dengan roti pita (atau kalo di Melayu, saya mengenalnya dengan sebutan roti canai).

Ayam Merah

Saya tidak dapat mendeskripsikan rasa ayam tandoori ini bagaimana. Seingat saya, ada rasa asam dan pedas di ayamnya. Rasa dan penampilannya yang berwarna merah ini memang cukup unik. Karena berbeda dengan tampilan ayam bakar seperti yang selama ini saya kenal.

MAKAN TEKWAN

Di malam berikutnya, saya kembali bertemu dengan Putri dan teman-teman relawan Akber Palembang. Kali ini kami makan tekwan di restoran samping hotel. Wah kalo tekwan sih ini favorite saya! Setiap lebaran, biasanya saya selalu berkunjung ke rumah teman kantor tante saya yang asli dari Palembang untuk makan tekwan. 😀

Bagi yang belum tau, tekwan ini layaknya sup bening. Terbuat dari campuran ikan dan tepung sagu. Biasanya dilengkapi juga dengan jamur kuping, soun, irisan bengkuang, dan kuah bening dengan cita rasa kaldu yang khas, serta taburan irisan seledri dan bawang goreng.

Tekwan

Tekwan yang saya cicipi di Palembang ini bukanlah tekwan terbaik dan terkenal. Tapi rasanya udah enak sekali huhu. Favorite saya kalo makan tekwan ya bening seperti ini. Bagi saya, kuah tekwan yang bening begini akan lebih terasa kaldunya. Rasa aslinya juga lebih ketauan. Jadi kalo bening aja udah enak, berarti resepnya memang pas. 😀

Selain makan tekwan, saya juga sempat diajak Putri ke salah satu tempat makan pempek yang terkenal dengan pempek panggangnya. Tapi sayang, ketika kami sampai di sana, pempek panggangnya sudah habis huhuhu.

Anyway, kesan pertama saya ketika sampai di kota Palembang adalah kota ini mirip sekali dengan Pekanbaru. Tidak hanya sama dari segi cuacanya yang memang panas dan kering, sajian makanannya pun mirip. Banyak menu ikan sungai dan olahan ikan yang menjadi makanan khas kedua kota ini, seperti Pindang Patin, Gulai Patin, dll. Ini mungkin karena letak geografis keduanya yang sama-sama berada di dekat sungai.

***

Well, ini cerita saya ketika pertama kali berkunjung ke Palembang. In total sih saya 4 hari 3 malam berada di sana. Tapi karena 2 hari full ngurusin kerjaan, dan hari terakhir pulang ke Jakarta dengan flight pagi, jadi hanya benar-benar punya waktu untuk mengeksplor kota ini ya di hari pertama datang.

Meski hanya sehari, tapi saya cukup puas. Yang penting udah makan mie celor, pempek, tekwan dan lihat jembatan Ampera. Highlight dari semuanya tentu saja mie celor dan tekwan yang rasanya masih terbayang-bayang terus sampai detik ini. ❤

Kalian ada yang punya cerita seru dan tidak terlupakan di kota ini? Share dong di kolom comment! 🙂

11 thoughts on “Sehari di Palembang

  1. alaniadita

    Aku juga pernah sehari di Palembang. Waktu pemilihan termin ke-2 gubernur Jakarta.
    Dimana, Jakarta libur kota lainnya engga. Tiket PP nya hanya 500 ribuan :))))
    Sama juga, yang ada cicip cicip makanan jugaa XD

    Like

    Reply

Leave a Reply to ardiantoyugo Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s