Mengunjungi Museum Bank Indonesia

Saat tour de museum beberapa waktu lalu, museum yang saya dan suami kunjungi selain Museum Bank Mandiri adalah ini. Museum Bank Indonesia.

Lokasi Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia ini bersebelahan persis. Jadi bisa dipastikan sih kalo abis dari Museum Bank Mandiri pasti ingin masuk juga ke museum di sebelahnya. 😀

Ini juga adalah kali kedua bagi saya mengunjungi Museum Bank Indonesia. Tahun 2012 lalu, saya jalan-jalan sama tante ke Kota Tua dan mengunjungi kedua museum tersebut. Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Udah ngumpulin foto-fotonya. Niatnya sih mau ditulis di blog. Tapi bertahun-tahun berlalu setelah itu dan niat itu pun hilang begitu saja hahahaha.

Bentuk bangunan Museum Bank Indonesia masih mencirikan suasana zaman kolonial Belanda. Dengan bangunan yang berwarna putih ditambah pilar-pilar yang sangat kental dengan tipikal gedung-gedung di masa pemerintahan Belanda.

dsc01189

Memasuki bagian dalam gedung, pemeriksaan terasa lebih ketat dibandingkan ketika memasuki Museum Bank Mandiri. Di Museum Bank Indonesia ini, pengunjung akan diperiksa dengan menggunakan metal detector seperti layaknya pemeriksaan di bandara dan di beberapa mall besar di Jakarta.

Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk Museum Bank Indonesia, saya dan suami berjalan mengarah ke tempat pembelian tiket. Tiket masuk Museum Bank Indonesia ini murah banget sih. Sama dengan museum di sebelahnya. Yaitu sebesar Rp5.000 per orang. Tiket ini juga gratis jika bisa menunjukkan kartu tanda pelajar atau kartu tanda mahasiswa. 🙂

Tas dan barang bawaan juga wajib dititipkan di sini. Pengunjung akan diberikan tas jinjing transparan untuk membawa barang-barang berharga, seperti dompet, hp, kamera, dsb.

Museum Bank Indonesia ini jauh lebih modern dibandingkan dengan Museum Bank Mandiri. Display-displaynya memanfaatkan teknologi-teknologi yang keren. Yang paling penting, sangat informatif. Museum ini juga gak membosankan terutama jika membawa anak-anak.

Museum ini terdiri dari beberapa area. Area pertama yang akan kita masuki adalah auditorium. Di sana kita bisa melihat penayangan video sejarah keuangan di Indonesia. Tapi sayangnya, video tersebut hanya ditayangkan 2x dalam sehari, kalo gak salah jam 10 pagi dan jam 2 siang.

Saya dan Abang awalnya sampai di area auditorium sudah lewat jam tsb, jadi kami berdua muter dulu ke semua ruangan museum. Jam setengah 2 balik lagi masuk dan duduk di ruang tunggu, sebelum kembali masuk ke auditorium. Tapi ditunggu-tunggu gak ada juga pengumuman videonya mau ditayangin. Saya sih kekeuh pengen nonton ya, jadi kita berdua benar-benar nungguin. Akhirnya video dokumenter tsb baru diputar sekitar jam setengah 3 siang. Worth it gak nungguinnya? Menurut saya sih worth it ya, karena di video tsb ada informasi menyeluruh tentang keuangan Indonesia dan juga apa yang ditampilkan di dalam museum itu. Jadi sebenarnya memang sebaiknya nonton videony dulu baru deh muterin museum. Makanya saya bilang sayang banget karena video dokumenternya hanya diputar di jam-jam tertentu. Jadi bisa aja ada yang skip gak lihat video dokumenternya dulu.

Oke lanjut ya. Setelah area auditorium, kita akan masuk ke area display. Area display pertama menggambarkan kondisi Indonesia sebagai negeri yang kaya dengan rempah-rempah dan hasil buminya. Digambarkan juga bahwa nenek moyang kita yang terkenal dengan berlayar dan berdagang membawa rempah-rempah tsb.

dsc01198

Setelah itu masuk ke masa penjajahan, di mana negara kita dikuasai oleh Hindia Belanda (VOC) sampai akhirnya Indonesia mencapai kemerdekaannya.

Museum ini dilengkapi juga dengan display-display berupa patung yang menggambarkan suasana penjajahan jaman dulu. Ada beberapa display yang juga mengeluarkan audio sehingga suasana terasa lebih nyata. Seperti misalnya display tentara-tentara Indonesia yang sedang berperang melawan penjajah.

Selain display patung yang merefleksikan situasi di masa lalu, ada juga display lainnya seperti baju pejuang kemerdekaan dan foto-foto suasana tempo dulu. Di beberapa area juga dilengkapi dengan papan informasi yang berisi sejarah singkat perekonomian Indonesia dari masing-masing periode. Sangat informatif sekali menurut saya. Terutama bagi para pelajar yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai sejarah perekonomian di Indonesia.

dsc01215

dsc01222

Jadi ruangan-ruangan yang ada di museum ini memang dibagi ke beberapa periode. Dimulai dari periode penjajahan, periode pembangunan sampai periode krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 silam.

Saat memasuki periode krisis moneter ini suasananya dibuat mencekam. Beberapa tayangan aksi demo mahasiswa di tahun 1998 lalu dan juga pemberitaan di media-media mengenai kondisi Indonesia saat itu ditayangkan di sini. Membuat kita sebagai pengunjung ikut merasakan tegangnya situasi di masa itu.

dsc01246

Penggambaran situasi Indonesia di masing-masing periode yang ada di museum ini keren banget deh. Kita seakan diajak belajar sejarah tapi dengan cara yang menyenangkan. 🙂

Tidak hanya area informasi mengenai situasi Indonesia di masing-masing periode yang ada di Museum Bank Indonesia ini. Kita juga bisa melihat display emas dan mata uang Indonesia dari masa ke masa yang ada di ruang Koleksi Numismatik.

Mata uang dari jaman dulu banget saat nenek moyang kita masih menggunakan emas, perak, atau perunggu untuk transaksi jual beli, bisa kita lihat di sana. Di ruangan Koleksi Numismatik tersebut juga kita bisa melihat perubahan mata uang Indonesia dari masa ke masa. Dan saya baru tau lho kalo di tahun 1950 lalu, Menteri Keuangan Indonesia saat itu, bapak Sjafruddin Prawiranegara, pernah mengeluarkan kebijakan penyehatan keuangan yang dikenal dengan nama Gunting Sjafruddin.

Jadi intinya, di masa itu uang kertas De Javasche Bank dan Hindia Belanda pecahan di atas f2,50 digunting menjadi dua bagian. Lembar guntingan bagian kiri tetap berlaku sebagai uang dengan nilai separuhnya dan lembar guntingan di bagian kanan dapat ditukar dengan surat pinjaman Obligasi RI tahun 1950.

dsc01309

Wah, asli saya baru tau soal Gunting Sjafruddin ini hehehe. Ketauan banget yah dulu waktu sekolah gak pernah benar-benar nyimak pelajaran sejarah. 😛

Di ruang Koleksi Numismatik ini kita juga bisa lihat beberapa mata uang yang dulu sempat digunakan. Hayooo masih inget gak dulu pernah ada uang kertas Rp500 yang ada gambar monyetnya? Atau uang Rp50.000 yang ada gambar bapak Soeharto? Dan juga pastinya masih ingat dong dengan uang kertas Rp5.000 yang ada gambar Danau Kelimutu ini?

dsc01316

Semacam nostalgia ya. Seru juga jadi ngebayangin dulu pernah pegang uang seperti itu. Uang kertas Rp100 yang berwarna merah, uang kertas Rp500 yang berwarna hijau dengan gambar monyet, dsb. Uang-uang kertas tersebut pastinya sekarang udah susah sekali untuk ditemukan. 🙂

Berkeliling museum selalu jadi hal yang menyenangkan. Karena banyak hal-hal baru yang akan kita dapatkan di sana. Jadi gak ada salahnya lho menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan ke museum. 😉

Advertisements

17 thoughts on “Mengunjungi Museum Bank Indonesia

  1. gegelin2

    Aku lagi rajin ke Kota Tua nih mbak Lia tp belum sempet mampir kesini.. Sengaja :)) Gongnya adalah bulan ini seminggu sekali ke museum: Museum Wayang, Fatahillah, Museum Seni Rupa 😀

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s