Loving Someone Because You Want To

Ada satu kutipan yang selalu saya ingat ketika membaca novel Test Pack dari Ninit Yunita : Don’t love someone because of what/how/who they are. From now on.. start loving someone because you want to.

Biasanya seseorang jika ditanya alasan mengapa ia menyayangi pasangannya, jawaban yang diberikan cenderung mengarahkan mereka untuk mencari hal apa yang membuat ia menyayangi orang tersebut. Kecantikan/ketampanannya, kepintarannya, kebaikan hatinya, kelembutan sikapnya, dan banyak hal lain yang diungkapkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pernahkah kamu menjawab kamu menyayangi pasanganmu, karena kamu memang ingin menyayangi dia?

Setelah lama saya sadari. Saat ini, saya telah sampai di jawaban itu.

Mungkin kalimat yang ada di buku Ninit Yunita itu secara tidak langsung menyadarkan saya tentang perasaan saya sendiri. Karena selama ini saya mencari tahu, mengapa saya masih saja menyimpan rasa sayang terhadap orang yang sudah menyakiti saya dengan begitu hebatnya. Yang telah membuat saya hancur sehancur-hancurnya.

Ya, karena saya ingin menyayangi dia.. 

Karena dia adalah dia, orang yang ingin saya sayangi..

Menyayangi seseorang karena kamu memang ingin menyayangi dia, akan sangat mendalam rasanya. Ketika dia berubah dari yang biasanya romantis menjadi tidak, dari yang baik menjadi jahat, dari yang cantik/ganteng menjadi jelek, dari yang muda menjadi tua, kamu tidak akan pernah berhenti menyayanginya. Karena biar gimana pun, dia tetap dia, orang yang ingin kamu sayangi dan kamu cintai. Dan hanya bersamanya, kamu ingin menghabiskan sisa waktu yang kamu punya di dunia.

Tapi, apa perasaan cinta harus terus seperti itu? Apa iya kamu harus terus-terusan mencintai dan menyayangi orang yang (sayangnya) tidak mencintaimu dan justru memilih untuk menyakitimu?

Terkadang hati memang tidak pernah sejalan dengan logika. Kamu tau itu salah. Kamu tau dia sudah tidak lagi baik bagimu, tapi masih saja bertahan? Mau sampai kapan?

Sekarang selanjutnya kembali pada diri individu itu sendiri. Masih mau bertahan dengan orang yang sudah menyakiti dan (mungkin saja) akan mengulangi kesalahan yang sama, atau bangkit dan mengubur dalam-dalam perasaan yang kamu punya?

Saya, setengah mati, berusaha meyakinkan diri saya, untuk memilih yang kedua.

Kita begitu berharga untuk disakiti oleh orang lain yang hanya mementingkan egonya semata.

Saya sadar sangat sulit menghapus rasa yang telah lama ada. Tapi paling tidak saya berusaha. Berusaha menyimpan perasaan saya sampai saya bertemu dengan orang lain yang ingin saya sayangi dan lebih layak untuk saya cintai. Orang lain yang (insya Allah) akan memperlakukan saya lebih baik lagi.

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s