Story of a Recruiter

Entah ini dialami oleh semua recruiter atau cuma saya doang, tapi yang pasti kejadian ini baru aja saya alami beberapa waktu lalu. Rasanya? Perih, sob.. Perih….. πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

1238876_10201435220538451_1967222465_n_zps2d1d954bWell, sebagai seorang HR di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kelahiran saya ini, memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya untuk mencari orang-orang terbaik untuk mau bekerja di sini, either as a lecturer or as a supporting staff. Proses rekrutmennya sendiri gak jauh berbeda mungkin yah dengan proses rekrutmen di perusahaan-perusahaan lain. Dimulai dari seleksi administrasi, wawancara user, tes psikologi, medical check up dan wawancara akhir.

Jujur aja, ini adalah pengalaman pertama saya bekerja di bagian HRD dan di perguruan tinggi. Walaupun pengalaman sebelumnya saya juga bekerja di HR Consultant yang sehari-harinya berkutat di bidang recruitment, tetap aja terasa sekali bedanya ketika saya melakukan proses rekrutmen sebagai seorang HRD. Ibarat kata, dulu mah tinggal proses aja sesuai kriteria yang telah disepakati dengan client (dalam hal ini biasanya konsultan banyak berhubungan ya dengan HRD nya). Kandidatnya biasanya udah ada dari si client, tapi gak jarang juga konsultan bantuin sourcing. Dan untuk finalnya ya kita kembalikan lagi ke client. Nah kalo sekarang saya berada di posisi si client, yang pastinya berhadapan langsung dengan kandidat dari awal sampai akhir proses rekrutmen dan berhubung butuhnya bukan yang skala besar jadi biasanya pake jasa konsultan hanya untuk tes psikologinya saja, sisanya dihandle sendiri.

Perjuangan mencari orang yang benar-benar mau bekerja sebagai dosen tentunya menjadi sebuahΒ challengeΒ tersendiri buat saya. Dan yang saya sadari selama kurang lebih 8 bulan saya bekerja di posisi ini, challenge ini tidak mudah. Sungguh tidak mudah.

Kenapa saya bisa bilang ini tidak mudah?

IMO, yang pertama adalahΒ gak semua lulusan S2 siap dan bersedia untuk jadi dosen, terutama lulusan dari luar negeri.Β Biasanya ekspektasi mereka (terutama terhadap salary) cukup tinggi. Kecuali mereka memang melanjutkan studinya ke jenjang Magister karena ingin jadi dosen :). Kalo yang tujuan S2nya karena memang ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kemungkinan besar mereka akan yuk-dadah-babay ketika ditawarkan pekerjaan yang dari segi benefit dirasa tidak sesuai dengan pendidikan terakhir mereka. Sekali lagi, ini in my opinion loh ya, berdasarkan pengamatan saya aja. Karena saya pun kalo di posisi si-lulusan-S2 itu juga akan begitu. High expectation.

Untuk daerah yang masih minim perguruan tinggi dengan pendidikan Magisternya, kudu cari orang ke luar kota dong? Yang di kota-kota besar pada mau gitu ‘hijrah’ ke daerah untuk mengajar? IMO, gak semuanya bersedia yah. Terutama kalo di kota besar juga ada penawaran yang serupa atau mungkin yang lebih baik. Solusi untuk masalah ini menurut saya ya carilah putra-putri daerah yang merantau ke luar kota untuk kuliah sampai ke jenjang S2. Karena biasanya mereka mau jika ditawarkan pekerjaan di daerah asalnya. πŸ™‚

Dan, satu hal yang menurut saya SANGAT PENTING dijadikan ‘senjata’ dalam menarik banyak kandidat potensial adalahΒ identitas perusahaan. Well, mari terlebih dahulu kita bicara dalam ruang lingkup perguruan tinggi.Β Dalam bayangan saya, kalo ada kandidat yang memang berminat jadi dosen dan ditawarkan posisi dosen di dua perguruan tinggi berbeda di mana salah satunya adalah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, besar kemungkinan dia akan milih yang lebih terkenal dan punya reputasi yang jauh lebih baik dong? Hehehe, IMO. πŸ˜€

Nah, permasalahan ‘identitas’ ini juga berlaku dalam ruang lingkup company. Perusahaan-perusahaan besar yang sudah punya nama, biasanya lebih gampang ngegaet orang-orang untuk mau bekerja di sana. Ya kaaaan? Liat aja tuh perusahaan besar yang sekarang lagi pada rame buka lowongan. Dalam kurun waktu 1-2 minggu aja yang apply bisa puluhan sampai ratusan ribu orang. 😯

Ketika dulu saya bekerja di konsultan, saya pernah handle dua client : yang satunya sebuah client besar (kita sebut saja dia perusahaan A) dan client satunya lagi ya so-so (yang ini kita sebut sebagai perusahaan B). Ketika si A ini buka lowongan, yang apply jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Saat dilakukan penyaringan awal melalui seleksi administrasi pun masih kejaring dalam jumlah besar dan selama proses rekrutmen berjalan, kandidat yang sampai di tahap akhir jumlahnya masih banyak, at least puluhan orang lah. Bandingkan dengan perusahaan B, atau perusahaan lain yang kurang punya nama, ketika mereka buka lowongan yang apply biasanya gak begitu banyak. Saat disaring di awal, jumlahnya udah berkurang drastis. Yang diundang ke tahap berikutnya, semakin berkurang lagi jumlahnya. Apes-apesnya ya jadi kayak yang diceritain di gambar di atas. πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

Makanya, sekarang-sekarang ini banyak perusahaan yang menggunakan jasa konsultan SDM untuk membantu menjaring kandidat dalam jumlah besar. Karena biasanya konsultan-konsultan tersebut punya portal jobs sendiri yang sering diakses oleh para pencari kerja. Walaupun begitu, menurut saya identitas perusahaan tetap menjadi ‘kunci keberhasilan’ dalam menjaring kandidat-kandidat yang potensial. Karena biar gimana pun, setiap orang pastinya ingin punya pekerjaan yang menjamin kehidupan yang lebih baik kan? πŸ™‚

Adakah di sini yang juga punya cerita seru seputar dunia rekrutmen? Share di sini yuks! πŸ˜‰

Advertisements

17 thoughts on “Story of a Recruiter

  1. Baginda Ratu

    Aku pns sih, Na. Jadi nggak bisa komentar lebih jauh, hihihi..
    Tapi bener, kalo utk jd dosen, biasanya orang emang bukan ngejar salary, (walopun gaji dosen kan sekarang juga gedeeee, hihi) tapi lebih ke passion ngajar, betul? Aku punya temen yg tajir melintir, skrg lg S3, dan keukeuhhh pengen tetep ngajar, padahal sm orangtuanya udh disuruh nerusin bisnis keluarga aja yg jauuhhhh lebih menggiurkan. Well, aku salut sih sm orang kayak dia. Punya prinsip! πŸ™‚

    Like

    Reply
    1. liamarta Post author

      Kalo PNS menurutku sama kayak perusahaan besar ya mbak, peminatnya banyak, jadi as a recruiter, gak begitu susah harusnya cari kandidat potensial πŸ˜€

      Gaji dosen yang gede itu kayanya gak di semua PT ya mbak. Ga tau juga deng aku, hihihi. Tapi kayanya kalo PT di daerah masih menyesuaikan dg kondisi PT nya juga kali yah.. πŸ˜€

      Iya, passion itu yang nomer satu. Biar ngajarnya juga sepenuh hati ga cuma karena uang kan hehehehe..

      Like

      Reply
        1. ndutyke

          jangan panggil dia tyka karena itu namaku loh bu fitri…. *mesem manja* btw temenku tuh punya cerita aneh2 pas nginterview orang. salah satunya adalah ketemu interviewee yg kalo ngomong tuh gini: “Iya eke di tempat yg dulu tuh begini begini…. trus eke juga begitu begitu…..”

          yg nginterview bengong dan bisik2 ke temennya: “Dia manggil dirinya ‘eke’ as in yey eke dese ala belandaan gitu?” setelah dicek…. eh nama kandidatnya itu MARIEKE, huahahahaha….

          Like

          Reply
          1. liamarta Post author

            Hahahahahahaha.. Mba tykaaaa, lucu banget sih itu pengalaman temennya. Kebayang deh dia pasti bengong banget kirain iteenya ngomong “eke eke” ala belanda gitu ya” hihihihi. πŸ˜†

            Emang sih suka ada yang lucu2 tiap kali interview kerja gini. Eh cerita sedih2nya suka ada juga sih hiks

            Like

            Reply
  2. sondangrp

    hahahahha lucu banget quotesnya. Kmrn pas sama Novi ngobrol , aku baru tau kalo di oil and gas malahan lebih enak kerja di perusahaan yang ‘kecil’ . Tapi perusahaan-perusahaan ini biasanya nggak terima fresh grad. Yang terima fresh grad malah perusahaan besar, jadi perusahaan besar enak dijadikan loncatan gitu. Padahal selama ini aku mikirnya ya setiap orang maunya sampe tua di perusahaan besar. Ternyata nggak semua, ya. Kerjaanmu menarik, Lia hahaha. I love dealing with people (yah sebenernya dibanding with undang-undang dan angka sih ihihi) Temenku ada yg human capitalnya hotel, cerita dia lucu lucu banget meski ngak soal rekruit aja ya. Kau cerita dooong. eh kau emang nanganin rekruitmen sajakah?

    Like

    Reply
    1. liamarta Post author

      Mungkin kerja di perusahaan ‘kecil’ yang gak nerima fresh grad itu bisa bikin masa depan lebih terjamin mbaaa hihihi. Iya kadang perusahaan besar jadi batu loncatan kan karena udah punya nama, jadi perusahaan lain yang ngerekrut ngeliatnya udah dari “oh dia pernah kerja di perusahaan blabla” gitu yah hehehe..

      Iya kerjaanku ga semata-mata nanganin rekrutmennya aja sih mbaa. Nanti deh kapan-kapan kuceritain yang lain. Cuma memang karena dulu pengalamannya di konsultan HR dan jaman kuliah sering ikutan proyek2 rekrutmen jadi emang banyakan cerita tentang rekrutmennya πŸ˜€ Aku juga sebenernya gak terlalu suka juga sama yang berbau-bau UU, angka-angka, dan administratif. Sementara kalo kerjaan HRD kan banyak dominan di administratif juga kan walaupun kita udah punya admin tersendiri, jadi kadang malah suka ngerasa bosen-bosen sendiri sama kerjaannya πŸ˜›

      Like

      Reply
    1. liamarta Post author

      Hehehe tadinya mba dosen kah? πŸ˜€
      Aku ndak tau kalo di tempat lain ya mbak, kalo di tempatku kerja sekarang sih jujur aja buat yang dosen baru masih rendah sih menurutku. Hehehe..

      Like

      Reply
  3. Messa

    Hahaha kesiannya nasib si Recruiter ini πŸ˜€ saya nggak pernah merekrut orang mbak, tapi pernah dengar pengakuan mereka para rekruter. Yang jelas, nyari orang yg kompeten utk suatu posisi, susah katanya πŸ˜€ tetap semangat ya mbak!

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s