‘Post Power Syndrome’

Post Power Syndrome adalah gejala yang muncul ketika seseorang tidak lagi menduduki suatu posisi sosial, biasanya suatu jabatan dalam institusi tertentu. Misal seorang direktur yang mencapai usia pensiun. Gejala ini bisa pula dirasakan oleh orang-orang yang tadinya memiliki karier yang cemerlang, tapi harus melepaskan kariernya tersebut karena faktor-faktor tertentu. And many more.

Biasanya gejala ini akan ditandai dengan munculnya gangguan emosional yang bersifat negatif. Kecemasan, rasa putus asa, ketakutan, kekhawatiran akan masa depan, dan lain sebagainya cenderung tampak pada orang-orang yang mengalami gejala ini. Detail lebih lanjut bisa coba baca di sini.

Nah, mengapa judul postingan ini saya namakan Post Power Syndrome dengan tanda kutip?

Jawabannya adalah karena ini Post Power Syndrome versi saya. Hehehehe.

Jadi gini, seperti yang saya utarakan di postingan ina dan inu, bahwa per tanggal 31 Januari lalu saya resmi pindah ke Pekanbaru. Meninggalkan pekerjaan di Jakarta. Meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta.

Setelah lebih dari lima tahun saya merantau dan jauh dari keluarga, saya merasakan kebebasan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Maklum saja, saya dibesarkan di keluarga dengan tipe pola asuh yang authoritarian. Menurut Baumrind (Berk, 1994), pada pola asuh authoritarian, orang tua cenderung menerapkan aturan dan memberlakukan kontrol yang sangat ketat terhadap aturan tersebut. Di keluarga saya, pola asuh ini terasa sangat dominan. Walaupun di beberapa kondisi tertentu, aturan yang pernah ditetapkan oleh kedua orang tua saya bisa saja sedikit melonggar.

Jauh dari pengawasan keluarga tentunya memunculkan perasaan baru bagi diri saya pribadi. Senang, bisa bebas dan bisa benar-benar menikmati hidup tanpa ada kontrol sana sini dari orang tua. Perasaan seperti ini semakin terasa ketika saya bekerja di Jakarta. Which means, saya sudah ‘lepas’ dari tanggungan orang tua, merasa punya penghasilan sendiri, bisa kemana-mana sendiri.

Dan, sejak Februari lalu, sejak saya pindah ke kota ini, gejala yang saya anggap post-power-syndrome-versi-saya itu pun muncul. Saya merasa kehilangan “power” atas diri saya sendiri. Merasa kembali diatur-atur. Merasa hidup saya kembali dikontrol. Ya, sebenarnya gak ada yang salah dengan tinggal bareng orang tua, malah enak banget lagi. Karena kan biar gimana pun keluarga itulah tempat kita pulang. Dibanding masa-masa ngekos dulu, tiap pulang kantor, nyampe kamar sendirian. Jarang ketemu Ayah dan Mama. Paling cuma telfonan. Kerasa banget hidup cuma sendiri.

Tapi ada masa di mana saya butuh ke sana ke sini tanpa kenal waktu. Butuh mobile ke sana dan ke mari. Dan hal-hal tersebut yang menurut saya ‘hilang’ sejak saya pindah ke Pekanbaru. Efeknya? Saya jadi gampang terpancing emosinya, jadi sensitif, jadi suka galau-galau gak jelas kayak sekarang ini hahahaha.

Di usia saya yang beberapa tahun lagi nyampe di seperempat abad ini, orang tua saya masih memperlakukan saya kayak anak kecil. Ditambah pula saya gak bisa bawa kendaraan apa-apa, jadi kalo mau kemana-mana harus dianter. Naik taksi sendiri juga gak boleh. Gak boleh pulang lewat dari jam 10 malam. Hhhhh.. Stress juga sih dengan semua aturan-aturan yang ada. Tapi yah, kalo dari artikel yang saya baca tentang Post Power Syndrome ini, gejala ini pada umumnya disebabkan karena seseorang mengalami kegagalan atau kesulitan dalam beradaptasi dengan kondisi atau lingkungan barunya. Jadi mungkin memang saya yang belum bisa beradaptasi dengan kondisi saya yang baru di kota ini.

So, gimana dong caranya supaya saya bisa keluar dari situasi ini? Solusinya ada pada diri saya sendiri.

Yang saya lakukan sekarang adalah pelan-pelan saya coba untuk mencari rutinitas-rutinitas lain yang lebih bermanfaat. Berusaha menyibukkan diri dengan kegiatan ini itu. Dan hal yang paling utama adalah ya saya belajar bawa kendaraan pribadi, supaya gampang kalo mau mobile sana sini. Jadi gak bergantung sama orang tua lagi. Mohon doanya aja yah, mudah-mudahan saya bisa melewati masa-masa post-power-syndrome-versi-saya-ini hehehe.

Kalo kamu, pernah gak merasa ‘post power syndrome’ seperti yang saya rasakan sekarang? Dan bagaimana solusinya? Ikut share di sini yah šŸ˜‰

P.S. Postingan ini hanya curahan hati dari seorang mantan perantau yang lagi galau hahahaha
Advertisements

13 thoughts on “‘Post Power Syndrome’

  1. Aan Handayani

    Post Power Syndrome juga gak musti dialami seorang pensiunan mas mbak…….gejala ini benar-benar saya rasakan satu tahun yang lalu ketika usia berusia 26 tahun. Saya namakan gejala ini Premature Post Power Syndrome atau……gejala post power syndrome sebelum waktunya. Saya kehilangan pekerjaan yang amat saya cintai, lalu muncul gejala-gejala aneh dalam diri saya….saya tidak pernah bisa tidur, di pagi atau malam hari. Saya takut dengan datangnya pagi hari, saya malu dengan munculnya matahari terbit, saya jadi minder sosial karena merasa jadi pengangguran dan tidak berguna. Saya wanita ,namun seperti laki-laki akan serasa menjadi sampah masyarakat ketika sudah tidak memiliki pekerjaan lagi.

    Like

    Reply
    1. liamarta Post author

      iya benar, Post Power Syndrome memang tidak harus dialami seorang pensiunan šŸ™‚ siapapun bisa mengalaminya, termasuk saya dalam hal yang saya ceritakan di postingan ini dan juga mbaknya yang sedang merasa kehilangan pekerjaan šŸ™‚

      yang saya pahami, kondisi ini terjadi karena kita yang belum bisa beradaptasi. jadi saya pribadi pelan-pelan belajar untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada saat ini. susah memang, tapi diusahakan saja yang terbaik. semoga mbaknya juga begitu ya šŸ™‚

      tetap semangat mbak dan makasih udah mau mampir disini! šŸ˜€

      Like

      Reply
  2. Tommy

    Terasa berat bagi beberapa wanita yg mengalami post power syndrome.Untuk menutupi gejala itu biasanya wanita akan berpura2 mencari aktifitas atau sesuatu hal sekiranya membuat rasa nyaman meski harus melawan aturan agama jika kondisinya wanita itu sudah berkeluarga.Masa masa menjelang kehilangan jabatan wanita cenderung sensitif meski untuk hal yg sepele.Jadi sebisanya seorang wanita bisa mengatasi hal tersebut dengan cara cara yg harmonis klo perlu melibatkan pasangan hidup atau keluarganya.Dengan demikian pola mengatasi gejala tersebut bisa dilaksanakan tanpa harus menabrak aturan2 yg salah menurut aturan agama.Moga bermanfaat

    Like

    Reply
  3. ika

    Aku juga ngalamin ini, cuma bedanya aku ngerasa kehilangan ke jayan..hahaa

    Iya, aku anak terakhir dari lima bersaudara, biasa dikelilingin kaka terus kuliah dan ngkos disana biasa dikelilingin temen juga, tiba2 lulus kuliah berasa sifat jadi berubah drastis, jadi emosian sama siapa pun, negatif thinking terus bawaannya, karna setelah lulus aku balik kerumah kaka aku udah nikah semua mereka pindah rumah, temen temen yg biasa ada disekitar jadi hilang… rasanya jadi kesepian bahkan sampe sekarang masih suka ngerasa belom bisa beradaptasi padahal udah 4th, ga tau ini termasuk post power syndrome ato bukan

    Like

    Reply
  4. close2mrtj

    Mungkin ga sih gejala ini dialami seseorang yg tadinya, katakanlah, di mana2 disukai, cantik/ganteng, lalu ada perubahan fisik yg entah gimana bikin dia ga disukai layaknya dulu?

    Like

    Reply
  5. Yani

    Sepertinya sy mmg mengalami post power syndrom 10 th sy bekerja d perusahaan swasta dan menjabat sbg manager sy iseng ikut tes pns ternyata masuk ,setelah sy jalani pekerjaan sbg pns yg jauh kondisinya dibanding di perusahaan swasta sy seperti tidak bisa menerima kondisi saat ini sp sekarang sdh 5 th sy msh terbayang pekerjaan sy yang dulu .bagaimana menghadapi kondisi ini bu

    Like

    Reply
  6. lina

    Saya juga sedang mengalami post power syndrome.. 20 th bekerja sebagai karyawati bank, saat ini mengambil sekolah kecantikan lalu akan membuka usaha sendiri tapi serasa kehilangan banyak teman-teman.. sepi..

    Like

    Reply
  7. wbyark

    Saya ngerasain Post Power Syndrome. Umur saya 27 tahun
    saya anak bungsu yang dari kecil terbiasa diatur orang tua. mungkin karena kasih sayang mereka.
    umur 23 saya masuk di sebuah prshaan multinasional di jenjang future leader. dg karir yang ckp bagus. dalam 4 tahun bekerja, saya sudah mengalami 4 kali pindah dari 4 pulau besar di indonesia.

    namun ada 1 masalah ketika saya pulang lebaran, karena terbiasa dengan hirarki diperusahaan saya kaget ketika memposisikan diri di rumah sebagai adik dan anak, saya sering tersinggung saat orang tua menganggap saya anak kecil, saya sering protes saat orang tua terlalu mengatur keseharian saya. bahkan terkadang saya emosi dan meninggalkan rumah sampai 2-3hari.
    sama ketika orang tua saya datang dari sumsel ke jakarta. dari 2 minggu beliau di rumah saudara saya, paling hanya 3-4hari saya kunjungi.. karena masalah yang sama, saya tidak bisa memerankan diri dengan baik di kantor dan di rumah..

    saat ini ortu saya ada di tangerang dari 1 minggu baru 2 hr saya kunjungi, ini artkel yang bagus, dan menyadarkan saya bahwa bukan maslah ketika ortu menganggap saya anak kecil, tp lebih parah kebodohan saya yang tidak mampu transisi. bagaimanapun “setiap anak itu masih kecil dimata orang tuanya”

    Like

    Reply

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s