Do What You Love & Love What You Do

Quote tersebut adalah quote yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran saya. Paling tidak selama sebulan belakangan ini. Do what you love, and love what you do. Maknanya simpel. Intinya, kerjakan apapun yang kamu cintai dan (berusahalah) mencintai apapun yang kamu kerjakan.

Pertanyaannya sekarang : sudahkah kamu mengaplikasikan quote tersebut dalam hidupmu? Dalam pekerjaanmu?

Seminggu sebelumnya, saya bisa jawab : Ya, sudah.

Sekarang? Jawabannya : belum tahu.

Well, seperti yang saya ungkapkan pada postingan ini, bahwa pada akhir tahun lalu, saya mengambil satu keputusan besar dalam hidup saya. Meninggalkan pekerjaan yang saya senangi di Jakarta, dan pindah ke sebuah kota kecil di pulau Sumatera. Yap, per tanggal 31 Januari lalu, I’m officially move to Pekanbaru. Dan tanggal 1 Februari lalu, adalah hari pertama saya bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini, sebagai Human Resources Development Staff.

Tinggal dan bekerja di kota ini, punya sisi positif dan negatif tersendiri bagi saya. Yang secara tidak langsung sering saya bandingkan dengan kehidupan dan pekerjaan saya di Jakarta. Sisi positifnya sudah jelas, dekat dengan keluarga. Selain itu, karena di sini gak perlu ngekost dan semua keperluan sudah di-provide oleh orang tua di rumah, jadi secara tidak langsung, saya bisa nabung lebih banyak. Hehehe. Di Jakarta, pengeluaran harian saya bisa gila-gilaan, selain harus dikeluarkan rutin tiap bulannya untuk bayar uang kostan, saya juga seneng jajan ini itu, terus pulang kantor suka kongkow sana sini dulu sama temen-temen, jadi kadang uangnya abis gitu aja 😦

Pekerjaan saya yang sekarang juga jam kerjanya lebih ‘manusiawi’. Dalam artian, jam 4 sore saya sudah bisaΒ gogoleran di rumah, meskipun saya harus masuk jam 7 pagi setiap harinya. Perjalanan dari rumah ke kantor lumayan jauh, sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil/motor. So, saya udah harus jalan dari rumah dari jam setengah 7 pagi. Serasa kembali ke jaman-jaman sekolah dulu 😦 Sementara dulu ketika di Jakarta, saya datang ke kantor bisa sesuka hati :p Biasanya saya berangkat ke kantor jam 8 atau jam 9, kecuali di hari-hari tertentu yang mengharuskan saya datang lebih awal. Tapi, karena datangnya udah siang, biasanya saya pulangnya malam, setelah shalat maghrib. Dan tidak jarang saya harus pulang lebih malam lagi karena pekerjaan dikejar deadline. Resiko bekerja di konsultan ya seperti itu, harus siap lembur kapan pun dan sampai jam berapa pun. Tapi, seru loh! πŸ˜‰

Dari segi pekerjaan, sejujurnya saya amat sangat betah dengan pekerjaan saya di Jakarta. Walaupun harus lembur sampai tengah malam bahkan sampai pagi, tapi saya enjoy! Saya merasa di situlah passion saya. Banyak hal yang bisa saya pelajari di sana, terlebih keinginan saya untuk bisa melanjutkan program magister Psikologi masih belum dapat terwujud, sehingga saya mencari bentuk kompensasi lain, yaitu dengan bekerja di perusahaan yang sering mengadakan refreshment terkait dunia Psikologi. Bekerja tiap hari bahkan di weekend pun tidak saya rasakan sebagai suatu beban, karena memang saya menikmati pekerjaan saya. Selain itu, lingkungan pekerjaan yang menyenangkan juga menjadi salah satu alasan saya bertahan di pekerjaan yang sebelumnya.

Sebaliknya, di pekerjaan saya yang sekarang, saya masih belum menemukan passion saya. Apa yang saya kerjakan sekarang memang masih berhubungan dengan dunia HR. Akan tetapi, banyak sekali yang dirasa berbeda dan saya mati-matian berusaha beradaptasi dengan segala perbedaan itu. Yang sangat terasa beda adalah dari segi budaya kerja, tempo bekerja, dan flow pekerjaannya. Bekerja di lingkungan kampus juga menuntut kita untuk bisa lebih disiplin, menjaga sopan santun, dan cenderung lebih serius. Jadi, gak ada lagi deh kerja hura-hura seperti yang saya lakukan di kantor saya yang dulu. Dan, sampai saat ini, semuanya masih terasa berat. Masih terkesan dipaksakan. Ujung-ujungnya, kinerja saya menjadi tidak maksimal. 😦

Itulah mengapa, banyak orang mengatakanΒ do what you love and love what you do dalam kegiatan sehari-hari kita. Karena memang terbukti, ketika kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai, kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati sehingga akan diperoleh hasil yang maksimal. Sebaliknya, ketika kita merasa terpaksa mengerjakan sesuatu hal, kita cenderung akan ogah-ogahan, dan hasilnya pun menjadi tidak memuaskan.

Well, tidak semua orang bisa beruntung dapat melakukan pekerjaan yang mereka cintai. Tapi paling tidak, ketika kamu mengerjakan suatu hal, berusahalah untuk mencintai pekerjaan kamu itu. Supaya kamu bisa memberikan seluruh usaha terbaikmu, di pekerjaan itu. πŸ˜‰

Advertisements

2 thoughts on “Do What You Love & Love What You Do

  1. Pingback: Kelas Kedua Akademi Berbagi Pekanbaru : Work with Passion | My Life, My Story

  2. Pingback: ‘Post Power Syndrome’ | My Life, My Story

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s